Baru Sampai pada Saling Ejek

13

”Berapa lama lagi, musim kampanye teh, Jang?” tanyaTeh Otih sambil melihat Jang Ojak yang tengah memainkian ibu jarinya pada hapenya.

   ”Mengapa kitu, Teh? Baru juga dua bulan.”

  ” Masih lama, ya? Lima bulan lagi.”

  ” Lama sekali, kita harus mendengarkan ocehan jurkam yang sering kali terdengar kasar, saling ejek dengan kata-kata yang  garihal.” Kata Jang Ojak.

  ”Rakyat tidak mendapatkan pendidikan politik  yang dapat mendorong pembangunan ke a rah yang lebih baik, cerah dan penuh optimisme,” kata Mang Osin  yang baru masuk waung Be-Be.

  ”Media sosial bagai keranjang sampah, penuh denganh berita hoaks, ujaran kebencian, fitnah, caci maki,” kata Kang Oyib yang datang sambil membawa suratkabar. ”Media massa di luar medsos juga  selalu mengulang-ulang kegaduhan. Diberitakan lagi, dibahas, didiskusikan. Akibatnya bukan mereda malah justru senakin panas. Berdebat adu argumentasi yang sering kali tidak ada kaitannya dengan topik yang dibicarakan.”

  ”Kasihan anak-anak remaja kita yang setiap hari mendengar  dan memirsa kegaduhan dengan kata-kata kasar bahkan sarkastis,” lata Mang Osin lagi. ”Perilaku mereka, cara berbicara anak-anak sekarang seperti itu. Jauh dari sikap santun, menghargai karya orang lain. Sikap seperti itu pasti berpengaruh buruk terhadap perilaku anak-anak di kemudian hari. Jangankan mau menghargai hak dan karya orang lain, yang didahulukan adalah sikap apriori, lawan jelek, kita superbagus. Dalam hidup berdemokrasi dan berbudaya, hal seperti itu harus dicegah.”

  ”Sikap sopan, kata-kata yang santun, sudah hilang dari tatananan kehidupan kita. Itu merupakan salah satu tanda, kita, Indonesia, mulai kehilanghan budaya miliknya. Kita dijkenal sebagai warga yang sopan santun, selalu tersenyum, saling menghargai, toleran. Hal-hal seperti itu yang diajarkan para kliyai di pesantren, para leluhur di semua padepokan. Yang sekarang tumbuh,justru sikap budaya orang lain.” Kang Oyib malipat suratkabar yang dibacanya.

  ”Musim kampanye sekarang, para jurkam tidak secara rinci menyampaikan visi misi dan rencana-rencana spekltakuler tentang ekonomi, pendidikikan, sistem politik, dan penegakan hukum. Yang mengemuka baru sampai pada saling ejek,” kata Jang Ojak.

   ”Masyarakat tidak diajak ke dalam alam demokrasi yang dinamis tetapi tertap santun dan berpegang pada etika, nilai-nilaikebangsaan,  peraturan,  dan budaya yang berrlaku di sini,” kata Mang Osin.

   ”Kita baru mampu meniru demokrasi yang hingat bingar, penuh kekerasan. Banya di antara kita yang berpendapat, demokrasi tu kebebasan tanpa batas. Kebebasan yang mengabaikan toleransi, dan saling menhragai. Kedamaian bagi mereka seolah-olah kemapanan yang tidak sesuai dengan dinamika demokrasi.”

   ”Wah, Teteh mah makin tidak paham. Teteh mah ingin masa kampanye teh jangan terlalu panjang. Penerangan tentang cara mencobloslah yang harus lama. ” Teh Otih membereskan gelas dan pring berkas para tamu minum. ***