Menduniakan Patin Indonesia

9

INSDONESIA tengah berusaha mempromosikan olahan ikan patin ke berbagai negara di dunia. China menjadi sasaran utama ekspor filet patin Indonesia, selain negara-negara di Timur Tengah. Fiket atau irisan daging patin semakin disukai konsumen, baik dalam maupun luar negeri. Produk irisan patin sampai 50% dikonsumsi masyarakat dalam negeri. Ternyata sambutan maasyarakat mancanegara terhadap patin Indonesia juga cukup menjanjikan.

   Ikan air tawar yang nama Latinnya pangasius itu sudah popular di Indonesia sebagai ikan yang berdaging tebal,  empuk, tidak terlalu banyak duri. Dilihat dari bentuknya, patin mirip degan lele atau sumilang. Berkepala gepeng menyamping. Warna kulitnya hitam legam dengan garis putih sepanjang perutnya, dan gerakannya yang sangat lincah, membuat  banyak orang menyukai patin sebagai ikan hias, ditanam di akuarium atau kolam hias.

   Produk irisan ikan patin diprediksi akan menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia. Dulu filet patin Indonesia menggunakan label dori. Namun label itu sama dengan falet produksi Vietnam atau sejenis ikan laut, oreo dory. Karena itu, sejak Oktober 2018, patin produksi Indonesia diberi label Indonmesia Pangasius-The Better Chioce. Label itu diperkenalkan pada Seafex di Dubai Oktober lalu. Promosi di dalam negeri juga teus digalakkan, trermasuk pada Seafood Show Asia Expo di Kemayoran, Jakarta.

   Permintaan patin saat ini meningkat pesat. Hal itu mendorong pembudidayaan patin semakin diminati masyarakat pembudidaya ikan. Seperti dimuat KOMPAS 26/11, produksi patin Indonesia saat ini sekira 1.200 ton perbulan. Pemerintah melalui Bidang Pengembangan Industri Asosiasi Pengusaha Catfish (APCI), mendorong para pembudidaya meningkatkan produkstivitas dan kualitas patin.

Mereka mendapat bimbingan sejak pembuatan kolam air tanah yang bersih, terbebas dari limbah, pembibitan, pemeliharaan dengan teknologi yang sesuai dengan standar mutu internasional. Pemerintah juga berencana melaksanakan  sertifikasi cara budidaya ikan yang baik. Hal itu dilakukan agar hasil budiaya patin Indonesia memenuhi kriteria mutu, keamanan pangan, dan keberlanjutan.

   Agar produk patin dalam negeri, termasuk industri pengolahan ikan, dan pembudidaya terlindungi,  Badan Karantina Ikan, menjaga semua pintu masuk, sehingga tidak ada ikan produksi luar negeri yang dapat masuk ke Indonesia. ”Kalau ada produk ikan luar negeri yang beredar di pasar. Itu berarti illegal,” kata Kepala badan karantina tersebut. Hal itu penting dilakukan dalam upaya melindungi produk dalam negeri. Namun yang lebih penting, produk falet ikan patin Indonersia harus terus didorong mebnjadi produk unggulan yang memiliki daya saing kuat baik di pasar domestik maupun di pasar global

 Pemerintah dan asosiasi juga harus terus  melalukan survey pasar agar serapan pasar dan produktivitas seimbang. Kita tidak ingin, produktivgitas terus dipacu sedangkan kekuatan pasar masih terbatas. Hal itu akan menimbulkan overproduksi dan pasti akan mendatangkan masalah. Upaya pemerintah menimngkatkan konsumsi ikan sebaiknya tidak berhenti di tengah jalan.Konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih rendah. Secara tradisional, bangsa kita, khususnya warga Jawa Barat merupakan petani ikan handal. Pemerintah bersama para petani ikanjuga harus berusaha menurunkan tingkat pencemaran.

Dabnau, sungai, kolam, dan persawahan sudah tidakl ideal lagi sebagai wahana pembudidayaan ikan. Limbah pertanian yangberasal dari pupuk kimia, obat pembunuh hama, mencemari air kolam, sungai,  dan prsawahan. Tanpa upaya pemurnian kembali air di aliran sungai, irigasi, kolam, danau, dan persawahan, usaha mina padi, dan ;pembudidayaan ikan, termasuk patin, akan sulit berkembang.

   Pasar produk patin Indonesioa kini  mulai terbuka. Peluang ini jangan terlewatkan begitu saja.  ***