Tanaman Kopi Jadi Pilihan Petani Desa Ganjaresik

15

BISNIS BANDUNG – Ratusan hektare lahan kurang produktif di Desa Ganjaresik, Kecamatan Wado  mulai diberdayakan sejumlah kelompok tani yang  mulai menggarap  lahan kurang produktif tersebut dengan menanam berbagai komoditas perkebunan.

Tokoh tani setempat, Asep Sukamara menyebutkan, selama ini ratusan hektar lahan di Desa Ganjaresik  tidak produktif. Kini kopi menjadi salah satu komoditas pilihan para petani yang ditanam dilahan tersebut.

“Selama ini tanaman yang ada hanya  cengkeh, kayu dan tanaman musiman . Itupun tidak semua lahan dimanfaatkan petani ,” ujar Asep  usai s memberikan pengarahan kepada para petani penggarap lahan , Senin siang (27/11/2018) Ia mengaku, kesulitan dalam memberdayakan lahan kebun, utamanya disebabkan karena petani sulit mencari  permodalan untuk memberdayakan hektaran lahan. Selain terbentur masalah biaya ,  juga kurangnya  ilmu dan teknologi  yang dimiliki petani.

“Kalau dihitung-hitung,  untuk biaya menanam kopi saja butuh puluhan juta. Jadi kalau tidak memiliki biaya sangat sulit untuk mengembangkan tanaman kopi ini,” ungkapnya.

Menyiasati hambatan itu, lanjut Asep, kelompok tani bahu- membahu patungan mengumpulkan biaya untuk memberdayakan lahan kosong di Desa Ganjaresik . Patungan modal yang dilakukan petani menjadi solusi terbaik untuk memberdayakan lahan.

“Saat ini petani cenderung menanam kopi. Sebab sudah banyak keberhasilan yang dirasakan oleh petani dari komoditas kopi. Meski komoditas lainnya, seperti cengkih, kapolaga, kayu masih tetap dipertahankan.

Asep mengakui, semangat para petani untuk memberdayakan lahan kurang produktif merupakan hasil  pengembangan kelompok tani yang lebih maju.

“Contohnya ,  saat ini para petani dibantu dalam pengadaan bibit kopi. Dengan adanya bantuan pengadaan bibit , petani tinggal mencarih modal untuk pupuk dan lainnya,”ujar Asep seraya menyebut , bahwa pemberdayaan lahan akan berdampak pada pemberdayaan petani itu sendiri. Dari pemberdayaan satu hektare laham , sedikitnya 10 orang tani akan terlibat aktif bekerja.

“Tinggal bagaimana pemerintah daerah mendukung kami. Lahan sudah tersedia, tinggal kesiapan petani dalam mengolahnya. Dari lahan kurang lebih seluas 1000 hektare di Desa Ganjaresik ,hampir 50 % belum  diberdayakan,” ucapnya..

Sementara Ketua Kelompok Tani Temu Hurip, Desa Ganjaresik, Tatang Suhendar mengatakan,keinginan petani untuk mengolah lahan yang kurang produktif begitu tinggi. Di kelompoknya terdapat 40 petani yang kini  mengolah  lahan seluas 60 hektare dengan tanaman kopi dan komoditas pendukung lainnya.

“Prosesnya bertahap, kedepan kita akan berdayakan ratusan petani . Jika diizinkan ,kita akan coba jajaki pengelolaan lahan milik Perhutani yang kurang produkif ,” ungkap Tatang.
Dikemukakan Tatang  , pemberdayaan lahan diharapkan  mampu mendongkrak  kesejahteraan ekonomi petani. (E – 010) ***