Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok Saksi Sejarah Kemerdekaan Indonesia

139

 Keberadaan monumen kebulatan tekad berupa Tugu Perjuangan Rengasdengklok atau Tugu Proklamasi Rengasdengklok erat kaitannya dengan Peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok merupakan sebuah peristiwa penculikan oleh sejumlah pemuda terhadap Soekarno dan Hatta yang terjadi 16 Agustus 1945. Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok Karawang dan didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Sampai terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda mengenai kapan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia didengungkan. Teks Proklamasi disusun di Rengasdengklok di rumah miliki seorang Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Sebagai persiapan untuk Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis 16 Agustus 1945. Di akhir drama penculikan Rengasdengklok, Jusuf Kunto yang dikirim untuk berunding dengan tokoh pemuda di Jakarta, kembali ke Rengasdengklok bersama Achmad Soebardjo untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Di Jakarta mereka pergi ke rumah Laksamana Maeda dan tiba jam 10 malam, 16 Agustus 1945. 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan di Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

 Peristiwa Rengasdengklok selain diingat sebagai rumah persinggahan Bung Karno dan Bung Hatta, kini persitiwa itu dapat dimaknai melalui monumen Tugu Kebulatan Tekad. Monumen ini dibangun di atas tanah seluas 1500 m2 bekas markas PETA di Kampung Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, berbentuk segitiga. Sudut di bagian timur merupakan jalan masuk ke areal monumen. Lingkungan monumen berupa taman dengan bangunan tugu. Setelah memasuki pintu gerbang, terdapat jalan setapak menuju bagian inti monumen. Di bagian depan sisi selatan terdapat tatanan batu yang membentuk angka 17, di tengah berupa jalan setapak melingkar membentuk angka 8, dan di bagian utara terdapat tatanan batu membentuk angka 45. Tepat ditengah halaman terdapat Tugu Kebulatan Tekad berdiri di atas batur persegi berukuran 15 x 15 m. Pada tiap-tiap sudut batu terdapat tugu berbentuk bambu runcing.

Di tengah-tengah batu  berdiri tugu Kebulatan Tekad yang terdiri dari tiga bagian. Bagian bawah merupakan semacam alas berukuran 3 x 3 m disusun lima undakan yang di atasnya berbentuk kotak. Pada panil yang berada di depan terpampang teks proklamasi. Di atas bagian ini terdapat bentuk bola besar yang dikelilingi empat bola kecil pada setiap sudutnya. Pada bola besar terdapat tulisan 17 Augustus 1945 yang di atasnya terdapat bentuk tangan (kiri) mengepal ke atas dengan telapak menghadap ke depan (arah pintu masuk). Bentuk ini lontaran teriakan “merdeka!”.

Pada bagian ujung selatan terdapat relief yang menggambarkan peristiwa Jepang menyerah kepada Sekutu. Selanjutnya pada panil bagian tengah dihias relief yang menggambarkan peristiwa Rengasdengklok, mulai dari persiapan menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI. Sedangkan pada panil bagian ujung utara relief menggambarkan peristiwa tanggal 16 Agustus 1945 hingga Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945. Namun  rekaman di antara proses sejarah kemerdekaan RI di Rengasdengklok ini tidak dapat seluruhnya  tergambar di monumen Tugu Kebulatan Tekad Proklamasi Kemerdekaan RI. Mungkinkah  bila pada areal monumen dibangun museum yang menampilkan rentetan peristiwa Rengasdengklok. (E-001/BBS) ***