Penyandang Disabilitas di Purwakarta Ubah Barang Bekas Jadi Robot

15

JAUH dari ingar bingar kehidupan kota, tepatnya di Kampung Cilegong Utara, Desa/Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, ada seorang pemuda penyandang Disabilitas yang bisa di bilang sangat kreatif.

Meskipun kondisi badannya tidak normal seperti remaja pada umumnya, namun kreatifitasnya patut diacungi jempol. Remaja berperawakan kecil ini cukup piawai mengolah hal kecil menjadi sebuah barang yang bermanfaat.

Ahmad Sobandi (28), begitulah warga di kampung itu biasa menyapanya. Meskipun seorang penyandang disabilitas, tapi tangan dinginnya ternyata mampu memanfaatkan barang bekas dan menyulapnya menjadi sebuah karya seni artistisik.

Salah satu karya seninya, yakni sebuah robot yang menyerupai seekor laba-laba. Uniknya, kemampuannya ini muncul secara otodidak. Mungkin bagi dirinya, menjadi penyandang disabilitas bukan berarti harus diam tanpa karya, bukan berarti harus terpuruk dengan segala kekurangan.

Ibu Ahmad, Ecin Kuraesin (53) menuturkan, bakat yang dimiliki anaknya ini muncul sesaat setelah dia lulus SMP Sederajat di Sekolah Luar Biasa (SLB) tiga tahun lalu. Sebenarnya, dulu Ahmad diarahkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Namun, anak ketiganya ini lebih memilih berdiam diri dan mendalami bakatnya yang masih terpendam saat itu.

“Awalnya tidak tahu kalau Ahmad bisa bikin robot semacam ini. Karena tidak ada yang mengajarkan, di sekolah juga tidak belajar seperti ini, hanya belajar biasa,” ujar Ecin saat ditemui di kediamannya.

Tiga tahun terakhir Ahmad baru bisa menciptakan robot pertamanya berupa gorden yang dapat dibuka dan di tutup yang menggunakan remot, selanjutnya ahmad memperlihatkan hasil karya lainnya berupa mobil remot kontrol.

Menurut dia, bakat otididak Ahmad terpacu saat ia mencoba memperbaiki barang-barang elektronik yang rusak di rumah. Seiring berjalan waktu, bakat Ahmad semakin terlihat, apalagi ia sering belajar dari berbagai sumber. Mulai dari televisi yang menayangkan bakat-bakat hingga jejaring internet yang kini mudah di akses di berbagai perangkat.

Ada hal yang membuatnya tercengang saat anak ketiganya itu bereksperimen. Yakni,saat barang-barang yang masih berguna pun kerap menjadi kelinci percobaan dirinya.

“Inisiatif dia itu tinggi, mungkin daripada diam bengong ya, jadi mikirnya dia tuh ingin berkreasi gitu. Awalnya nonton tv lalu dicerna sama dia. Suatu waktu dia muncul ide untuk merealisasikan bikin robot. Awalnya pakai bahan-bahan yang tersedia di rumah aja seperti bekas payung, kabel-kabel telepon, dia manfaatin,” jelas dia.

Sampai saat ini, sudah menghasilkan lima robot laba-laba berbagai ukuran dan bisa bergerak. Bahkan, ada yang bisa di kendalikan menggunakan remot kontrol. Selain itu, dia juga berhasil membuat miniatur robot mobil, kipas, hingga lampu bel.

Selama ini, barang bekas elektronik mungkin yang menjadi teman setianya. Selain barang elektonik, besi penjepit kertas, kabel, baterai, alat solder dan tang menjadi barang utama Ahmad untuk membuat robot sederhananya itu.

Ecin menambahkan, hasil karya anaknya itu sebenarnya sudah sangat banyak. Namun, karena Ahmad sering berinovasi, sehingga kerap melakukan bongkar pasang hasil karyanya itu. Selain itu, saat ini karyanya hanya sebatas jadi koleksi pribadi, artinya belum ada satu pun yang di jual.

“Kalau dulu, dia bikin robot tuh bongkar pasang. Karena keterbatasan alat jadi bongkar pasang gitu. Bahan bakunya sekarang ada yang hasil sumbangan temannya, bahkan barang-barang yang ada di rumah dimanfaatkan lagi. Sudah ada yang pesan tapi ahmad belum mau menjualnya,” jelasnya.

Sementara itu, Budayawan Jabar, Dedi Mulyadi juga terlihat kagum dan mengapresiasi dengan karya anak tuna wicara ini. Dedi juga berharap supaya karya robotik ini bisa terus dikembangkan.

Dedi juga menantang pemuda tersebut, supaya bisa menciptakan karyanya lebih besar lagi. Semisal, membuat tempat sampah atau keranjang bawaan dengan konsep robotik. Untuk memudahkan mereka yang mengalami penyakit stroke dan lumpuh.

“Kedepan, coba buatkan tempat sampah dengan konsep robotik yang bisa digunakan di dalam ruangan. Nanti, untuk kebutuhan alat dan bahannya saya bantu,” ujar Dedi kepada pemuda tersebut.

Dengan bahasa isyarat, pemuda tuna rungu itu pun terlihat mengerti dan siap dengan tantangan Dedi, kendati dalam prosesnya akan memakan waktu cukup lama. Karena, untuk membuat sebuah media dengan konsep robotik, perlu ketelitian. (C-003/kha)***