Yayan Satyakti, Ph.D Kurang Menghargai Profesionalisme

14

Yayan Satyakti, Ph.D kelahiran Kota Karawang tahun1974, suami dari Melia Marlianty, SE, M.Ak., Ak ini, sebagai Staf Pengajar Tetap, Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Padjadjaran (Unpad). Spesialisasi ilmu yakni Ekonomi Energi dan Perdagangan Internasional. Selain itu Yayan juga merupakan seorang konsultan nasional maupun internasional.

Ayah dari Raga Bintang M (21 tahun), Jasmine Tiara M (17 tahun)  dan Bayoumi Keenan M (12 tahun)  menuturkan,  awal kiprahnya menjadi akademisi dilakukan sejak tahun 2000 silam. Menggeluti profesi akademisi karena berkenginan menggeluti aplikasi keilmuan agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Yayan Satyakti mengaku, dirinya sangat tertarik dengan dunia riset.

Menurutnya, hingga saat tidak terasa sudah 18 tahun dirinya menggeluti profesi sebagai akademisi dengan disiplin Ekonomi Energi dan Perdagangan Internasional. Ia tertarik menggeluti spesialisasi ilmu tersebut, pasalnya secara akademis bidang ini di Indonesia masih jarang. Bidang ini masih sangat sedikit dilakukan dari sisi  riset trade dan energi di lingkup nasional maupun internasional

Selama 18 tahun menggeluti profesi sebagai akademisi, ada sejumlah hasil karya ilmiah/buku yang dihasilkan Yayan. Antara lain, tiga buku internasional dan tiga publikasi artikel atau chapter internasional. Menurutnya, yang paling berkesan hasil tulisan yang dibukukan , yakni mengenai Clean Energy Investment and Green Jobs in Indonesia. ”Buku ini pernah di kutip oleh Huffington Post, dan dijadikan input bagi para pemimpin dan peserta United Nations Climate Change Conference 2015 dan COP 21 di Paris tahun 2015 lalu,” ungkap Yayan BB, Minggu lalu di Bandung.

Selama menggeluti bidang akademik, Yayan Satyakti tak kering dari penghargaan atas prestasinya, salah satunya yakni Second Best Academic Paper in Tropical Agri Science di Praha, Republik Ceko, tahun 2010. Menurutnya, pengalaman menarik selama menggeluti profesi akademisi adalah memberikan rekomendasi dan konsultasi bagi yang membutuhkannya agar menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang.  Di samping itu, ada sisi  lain yang ditemukan  selama menggeluti profesi akademisi, yakni  ada peneliti yang kurang  memberikan argumentasi berdasarkan data dan metode yang akurat

Akademisi Unpad ini mengimbuhkan, akan tetap menggeluti profesi akademisi sampai pensiun. Menjadi akademisi, lanjutnya, sebagai profesi yang bisa mengabdi dengan ilmu dan diharapkan berguna bagi banyak orang.” Manfaat lain yang dirasakan dengan menggeluti profesi akademisi salah satunya dalam membagi pengalaman dan menshare ilmu yang bermanfaat bagi mahasiswa yang tidak ada di textbook,” tutur Yayan  .

Selain menggeluti profesi  akademisi, Yayan Satyakti  juga berprofesi sebagai konsultan yang sejalan dengan bidang keilmuan yang digeluti . Mengenai  upaya  untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi dilakukan dengan cara belajar dan belajar. “Sejauh ini, saya belum ada rencana banting stir ke profesi lain walau profesi periset kurang  dihargai, tapi profesi ini sangat menjanjikan,” ujar Yayan menjelaskan mengenai profesi periset .

Dikemukakan Yayan, profesi periset, apakah yang menghasilkan publikasi internasional atau nasional, hingga saat ini kurang begitu dihargai. Di Indonesia, sudah ada komitmen dan dana, tetapi tidak jelas arahnya kemana? Hanya basis output riset saja. Faktor yang menyebabkan Indonesia mengalami kondisi seperti saat ini, penyebabnya karena kurang menghargai profesionalisme.  Ditegaskan Yayan, di Indonesia untuk membenahi kondisi serupa ini, butuh modal keseriusan, komitmen dan profesional. Sedikitnya butuh waktu 15-20 tahun untuk membenahinya.  (E-018)***