Dewi Tapa Mengkonsumsi Singkong Tetap Bugar dan Sehat

86

Ketikaorang berdebat tentang diversifikasi pangan, masyarakat adat Cireundeu sudah sejak zaman nenek moyangnya, mengganti nasi beras dengan nasi singkong. Cireundeu bukan kampung adat yang bearada di tengah hutan atau daerah terpencil. Kampung itu berada tidak jauh dari kawaan industri, Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Warga Cireundeu , secara fisik  benar-benar orang kota yang hidup berintegrasi dengan masyarakat modern lainnya.

Uniknya, warga Kampung Cireundeu konsisten memegang adat dan budaya warisan nenek moyangnya. Perbedaan yang paling menonjol di banding masyarakat luar Cireundeu, ialah pola makannya. Mereka tidak pernah “tergoda” mengonsumsi nasi yang berbahan baku beras. Bahan makanan pokok mereka, terbuat dari singkong atau rasi (beras singkong). Nasi singkong itu biasa disebut tiwul. Mereka menanam singkong di kebun yang berdekatan dengan kampungnya. Tidak diketahui pasti, berapa ton singkong yang didapat setiap kali panen. Sejauh ini,  mereka tidak pernah mengeluh karena kekurangan singkong.

Apabila pemerintah menuding, kekurangan beras itu akibat konsumsi beras masyarakat sangat tinggi,  jangan sebut nama Kampung Cireundeu.  Mereka tidak termasuk ke dalam masyarakat penghabis  stok beras. Mereka tidak punya selera sedikit pun terhadap nasi berbahan  beras. Nasi liwet, nasi timbel, nasi pulen, nasi bakar, nasi goreng, nasi kuning atau nasi wuduk, semuanya tidak pernah mereka kenal. Mereka tidak pernah menderita kelaparan. Kebutuhan gizi dan kalori masyarakat Cireundeu terpenuhi dengan singkong dan lauk pauk berupa sayur mayur.

Bagi masyarakat Cireundeu, singkong merupakan bagian darah budaya mereka. Lebih dari itu, singkong bagi orang Cireundeu merupakan sumber kekuatan. Itu mungkin yang membedakan masyarakat Cireundeu dengan daerah lain yang juga suka mengonsumsi nasi tiwul. Bagi masyarakat Cireundeu nasi singkong bukan sekadar nasi yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi mereka. Bagi warga masyarakat Cireundeu, singkong punya arti lebih dari itu. Perlakuan mereka terhadap singkong seperti laiknya masyarakat tradisional lain terhadap padi.

Merujuk kepada kebiasaan masyarakat Cireundeu mengkonsumsi singkong, Cireundeu diproyeksikan menjadi Desa  Wisata Ketahanan Pangan (Dewi Tapa). Orang luar Cireundeu akan penasaran dengan mendatangi Kampung Cireundeu untuk melihat sendiri cara mengolah makanan dari singkong. Bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhan gizi dan kalori untuk badannya. Wisatawan akan tahu, masyarakat Cireundeu, sebuah kampung yang letaknya tidak terlalu jauh dari kehidupan supermodern, bisa benar-benar mandiri. Cireundeu bisa menjadi contoh bagi masyarakat luas, tanpa makan nasi berbahan beras pun, mereka bisa hidup normal, sehat dan mandiri.

Tepat, jika Cireundeu menjadi daerah Dewi Tapa. Selain letaknya tidak terlalu terpencil, hanya sekira 20 – 30 menit perjalanan dari pusat kota Cimahi. Pola makan masyarakatnya yang unik, bisa menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Masyarakat yang makanannya tergantung pada beras, bisa belajar dari masyarakat Cireundeu, bahwa beras bukan satu-satunya bahan makanan pokok. Singkong dapat menjadi bahan makanan pokok alternatif. Diversifikasi makanan, bukan hanya mengganti beras dengan terigu atau nasi dengan roti, tetapi bisa juga dengan singkong. Tanaman singkong jauh lebih mudah tumbuh daripada tanaman pangan lainnya. Hasil panen singkong masih melimpah ruah dan ada di mana-mana.

Para wisatawan juga bisa membeli makanan yang terbuat dari singkong, langsung dari masyarakat Cireundeu. Namun ada yang harus benar-benar dijaga, yakni  arus wisata yang bisa  merusak tatanan kehidupan masyarakat Cireundeu. Jangan ada yang  merusak pola  konsumsi masyarakat Cireundeu.  Dewi Tapa jangan sampai mendesak masyarakat Cireundeu terpinggirkan.   Dewi Tapa justru harus mampu mengangkat  kehidupan masyuarakat Cireundeu jauh lebih sejahtera.  Biarkanlah Cireundeu dengan segala kearifan lokalnya. Dewi Tapa jangan sampai memarjinalkan masyarakat Cireundeu dan disini perlu tangan-tangan pemerintah menjaganya. (B- 003) ***