Dodi: Pengguna Jasa Jurnal Predator akan Merugi Besar

25

BISNIS BANDUNG– Seminar Nasional Teknik Publikasi Artikel Bereputasi Internasional dan Manajemen Agreditasi diadakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Manajemen (P3M)  Universitas Winayamukti Bandung guna meningkatakan wawasan bahwa  menulis jurnal bertaraf internasional  itu mudah dengan  biaya relatif mudah jika mau menjalankan prosesnya.

“Jurnal predator ada karena banyak yang belum tahu cara membuat jurnal dengan baik,” kata Dr.H.Dodi Sukmayana, SE MM selaku penyelenggara acara dari P3M di Hotel Papandayan Bandung, baru-baru ini.

Selain itu, menurut  Dodi bahwa pengguna jasa jurnal predator juga akan rugi besar saat aplikasi mengatakan bahwa jurnal yang telah dibuatnya adalah jurnal predator.

“Sayang kalau mereka bayar mahal. Akhirnya jurnal yang mereka hasilnhya itu jurnal yang tidak bermutu. Jadi akibatnya, kalau mereka ingin menaikkan tingkat, jenjang dosen, otomatis jurnalnya tidak akan diakui, karena memang jurnalnya dinilai jurnal predator,” tuturnya.

Karena tema, dan pembicara dalam seminar adalah mereka yang mumpuni dibidangnya, maka   seminar yang sedianya hanya diperuntungkan bagi mahasiswa S3 se Bandung Raya banyak diburu mahasiswa-mahasiswa S3 dari beberapa provinsi lain di Indonesia. Di antaranya ada dari Universitas Tadulako (Sulteng) dan juga ada mahasiswa-mahasiswa asal Provinsi Riau.

Panitia  terpaksa  harus mengurangi jumlah peserta, dari  jumlah peserta yang mendaftar mencapai 200 orang, padahal yang diminta hanya 100 orang. Jadi toleransnya  diikuti  150 peserta.

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Jabar  dan Banten, Prof.Dr  Uman Suherman AS M.Pd mengatakan menulis artikel dan jurnal adalah kewajiban seorang dosen, agar punya kapasitas yang bagus, dan layak untuk naik panggung.

 “Pemahamannya jangan dibalik. Menulis untuk naik panggung. Akibatnya, banyak muncul jurnal predator,” terangnya seraya menambahkan jurnal predator adalah jurnal plagiat yang dibuat para pebisnis dengan tujuan mencari keuntungan semata.

Bisnis tersebut tumbuh subur, karena dosen banyak yang tidak paham bagaimana cara menulis yang baik.  Dan apa yang disebut plagiat tersebut,  bukan hanya plagiat kepada orang lain, tapi ada juga yang disebut, auto plagiat.

“Pada saat saya menulis buku saya yang kesatu, dan isinya kebetulan saya lupa menulis sumbernya, karena itu buku, saya yang membuat, maka tetap saja, itu kenanya di auto plagiat,” jelasnya.

Oleh karenanya,  jangan coba-coba menjadi seorang plagiator. Sebab saat ini banyak alat dan aplikasi yang bisa mendeteksi ada tidaknya unsur plagiat dalam karya tersebut. Selain itu, juga ada batas toleransi , mana karya yang pantas disebut plagiat atau karya asli.

“Kalau, hanya 20 persen itu bisa dimaklumi, kalau sudah sampai 75 persen. Harus diperbaiki. Terhadap yang 20 persen tersebut juga harus disebutkan sumber-sumbernya,” karanya.

Sumber dalam jurnal, katanya   bisa jadi tolak ukur terhadap keaslian sebuah karya, karena sumber juga harus tertera di dalam daftar pustaka. “Kalau tidak ada, maka disebut plagiat juga,” terangnya.

Bila seorang dosen sudah bisa menulis artikel atau jurnal dengan baik, maka saat dia berbicara dia tidak hanya berkata lewat logika saja, tetapi berdasarkan hasil penelitian yang sudah teruji.(B-002)***