Perang Dagang AS-China Bakal Untungkan Negara di Asia Tenggara

70

PERANG dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mendorong perusahaan global untuk kembali mempertimbangkan manufaktur dan pabriknya di China.

Berdasarkan laporan perusahaan konsultan Bain and Co, kondisi tersebut memberikan keuntungan bagi negara di Asia Tenggara. Managing Partner for Southeast Asia, Satish Shankar menuturkan, dalam jangka pendek, akan ada efek di wilayah untuk tujuan ekspor terutama Amerika Serikat.

“Segera ekspor ke China, kemudian ke Amerika Serikat. Ini berdampak terhadap industri seperti tekstil dan elektronik. Bagaimana pun juga jangka panjang, kami percaya ASEAN sangat menarik sebagai alternatif supply chain perusahaan yang mencari diversifikasi selain China,” tutur dia, seperti dikutip BB dari laman CNBC, seperti ditulis Minggu (25/11/2018).

Bain prediksi, perusahaan pertimbangkan memindahkan supply chain-nya ke Asia Tenggara. Perusahaan menengah dan usaha kecil di wilayah tersebut akan lebih mengadopsi lebih banyak teknologi dalam operasi hariannya. Ini dapat ciptakan kesempatan USD 1 triliun.

AS menerapkan tambahan untuk daftar barang China sejak Juli. China pun merespons dengan barang impor AS meski Presiden China Xi Jinping mengecam proteksionisme.

Investor kini memantau pertemuan yang sangat dinanti-nantikan antara kedua negara ketika Xi Jinping bertemu Presiden AS Donald Trump pada KTT G20 yang berlangsung pada 30 November-1 Desember. Investor mencari petunjuk apakah ada terobosan untuk selesaikan perang dagang. (C-003)***