Kegairahan 90 Hari

36

GENCATAN Senjata perang dagang AS-China mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat ekonomi dunia. Momentum itu  menimbulkan kegairahan luar biasa baik bagi korporasi maupun UMKM. Indonesia juga merasakan hal itu. Indonesia harus mampu memanfatkan momentum itu sebaik-baiknya tanpa mengabaikan kemungkinan-kemungkinan melemahnya kembali perdagangan global. Indonesia harus tetap mewaspadai pelambatan perekonomian global dan penurunan harga komoditas.

     Masalahnya, gencatan senjata perang dagang AS-China tidak akan selamanya. Donald Trump hanya memberi batas 90 hari saja. Kita belum tahu persis apakah perang dagang itu akan berlanjut atau berhenti. Namun kemungkinan yang paling pahitlah yang harus kita waspadai. Indonesia masih menghadapi problem besar yakni defisit transaksi berjalan. ”Kita tahu masalahnya, kita tahu motifnya, tetapi kita tidak pernah mengeksekusinya sampai akar-akarnya,” kata Presiden RI, Joko Widodo pada pidato pembukaan CEO Networking 2018 di Jakarta..Defisit transaksi berjalan tahun 2018 (Januari-September) 2,86% produk domestik bruto. Naik dibanding tahun 2017 yang hanya 1,7 persen.

      Seperti dimuat KOMPAS 4/12, Presiden meminta, untuk mengurangi defisit  transaksi berjalan, para pengusaha harus segera melakukan industrialisasi dan hilirisasi. Ekspor bahan mentah harus dikurangi secara bertahap. ”Apalagi harga komoditas global diperkirakan akan turun pada tahun 2019,” kata Jokowi.. Masih menurut Jokowi, setiap tahun Indonesia mengekspor bauksit mentah jutaan ton Pada sisi lain, kita mengimpor alumunium sebagai bahan baku industri. Kita belum mampu memproduksi alumunimum dengan bahan baku bauksit yang melimpah. Indonesia juga mengekspor 480 juta ton batubara, 42 juta ton minyak sawit mentah.

      ”Kuncinya memang pada industrialisasi dan hilirisasi,” kata Presiden. Kita tidak perlu lagi mengimpor bahan baku setengah jadi Dengan industruialisasi bahan baku sudah tersedia di dalam negeri. Hasil olahan atau hilirisasi memiliki harga cukup tinggi, jauh dibanding dengan komoditas atau bahan mentah. Nilai ekspor kita akan jauh lebih besar.

    Pengaruh eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sangat besar. Tahun 2019 gejolak ekonomi eksternal masih akan terjadi, meski menurut Sri Mulyani, tidak akan sebesar trahun ini. Pertumbuhan ekonomi akan berjalan meskipun  pada level rendah. Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan turun dari 3,9 menjadi 3,7. Angka itu sama seperti perkiraan IMF.

    Indonesia harus bersiap-siap menghadapi gejolak ekonomi global itu meski intensitasnya tidak terlal tinggi. Sambil menunggu realisasi industrialisasi dan hilirisai benar-benar terwujud, Indonesia harus mampu menjaga angka defisit transaksi berjalan, maksimal 2,5% terhadap PDB. Kita harus mampu memanfaatkan momentum meredanya perang dagang AS-China. Ekspor hasil produksi industri kreatif masih dapat dipacu.

     Sambil membuka pasar di Afrika dan Eropa, kita masih punya peluang meningkatkan ekspor tekstil dan produk tekstil, alas kaki, dan kerajinan ke Amerika dalam upaya menekan tingginya defisit transaksi berjalan. Nilai impor kita dari AS masih cukup besar meliputi impor hasil pertanian, bahan baku industri, pesawat terbang, dan sebagainya. (Furkon)***