Jabar Sabar Hoax untuk Lawan Kabar Bohong

87

BISNIS BANDUNG- Pemprov Jabar membentuk tim Jabar Saber Hoax  sebagai upaya melawan arus informasi negatif yang bisa memecah belah serta meresahan masyarakat. Tim ini  menjadi wadah untuk mengedukasi, memverifikasi, serta melawan berita-berita bohong.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, perkembangan teknologi yang pesat belum diimbangi dengan penggunaannya secara bijak, terutama di Indonesia. Masyarakat mudah terpancing oleh hal-hal yang justru dapat merugikan dirinya sendiri.

Selain itu, rendahnya budaya literasi membuat masyarakat enggan memverifikasi suatu berita yang belum jelas kebenarannya atau informasi negatif. Maka saat menerima berita bohong, banyak masyarakat yang langsung percaya.

“Indeks literasi masyarakat Indonesia berada di posisi 50 dari 60 negara. Orang Indonesia hanya satu konsentrasi 20 detik membaca berita. Kadang-kadang dibaca judulnya saja, isinya tara (tidak) dibaca,” ujar Emil, saat peluncuran Jabar Saber Hoax di Gedung Sate, Jumat (7/12).

Lahirnya Jabar Siber Hoax bisa menjadi wadah untuk mengedukasi dan melawan berita bohong. Masyarakat yang melaporkan suatu informasi yang belum jelas kebenarannya, langsung diverifikasi oleh tim apakah itu benar atau hoaks.

Masyarakat yang memeroleh berita bohong atau ragu terhadap kebenaran informasi bisa melaporkan atau mengeceknya melalui nomor 082118670700, facebook Jabar Saber Hoaks, dan instagram/twitter/line ke @jabarsaberhoaks.

 Sementara itu, anggota DPRD Jawa Barat, Syahrir  menilai jika Tim Saber Hoax tidak ideal dibentuk di Jawa Barat karena beberapa alasan. Ia  lebih menyarankan pemerintah  lebih berpikir pada program kesejahteraan masyarakat.

“Saya harap pemprov bisa lebih mengedepankan program-program kesejahteraan rakyatnya, agar masyarakat bisa menikmati pembangunan dan peningkatan ekonomi,” ujar Syahrir ketika menangapi akan diluncurkan  Jabar Saber Hoax.

Ia mengungkapkan,  sebetulnya masyarakat sudah bisa menilai berita dan cenderung lebih kritis terhadap berita yang beredar di media, sehingga kurang efektif jika rencana tim saber hoax benar dibentuk.

“Saya rasa di Jabar tidak berlaku berita hoax, karena rakyat Jabar sudah bisa melihat mana yang benar atau salah,” ucapnya.

Syahrir menambahkan, masyarakat Jawa Barat memiliki inisiatif yang tinggi untuk menyaring informasi. Tatkala menerima isu yang diragukan kebenarannya, tak serta merta percaya begitu saja.

“Karena saat ini masyarakat lebih berkepedulian yang sangat tinggi terhadap suatu isu-isu yang tidak benar,” pungkasnya. (B-002)***