Ani Regiana Duit Jadi Ada, Walau Tidak Banyak

67

Ani Regiana, kelahiran Jakarta 15 April 1982, anak  pasangan Djauhar Fuad (64 tahun) dan Sri Hartati (60 tahun) ini merupakan pengusaha madu. Produknya selain dijual di Indonesia, juga menggurita ke Taiwan, Singapura, Malaysia, Brunei dan Arab. 

Istri dari Muhammad Mustain (38 tahun) ini, awal menggeluti usaha madu, terinpirasi saat suaminya menjadi guru di  pesantren di Bogor, ia diajak temannya untuk berkunjung ke rumahnya. Saat itu temannya memiliki beberapa kotak lebah madu  “nyiruan”.  Sang teman menyuguhkan madu yang langsung dipanen bersama sarang-sarangnya. “Melihat sarang madu itulah, suami yang kebetulan suka foto-foto mengabadikan momen itu. Saat kembali ke Jakarta, saya dan suami berdiskusi dan timbul niat menjual sarang madu tersebut secara online. Soal ide, memang sebenarnya terpesona dengan bentuk sarang madu yang terlihat bagus dan  keluar madu yang “fresh” dan natural banget. Saya berpikir, kayaknya ini luar biasa kalau dijual. Unik dan madunya sangat asli,” tutur Ani, hari Minggu lalu kepada BB.

Diakui Ani, mengenai modal agak sulit untuk dijelaskan, modal yang tersedia seadanya dari gaji suami mengajar. Kalau ada uang dibelikan sarang madu milik teman itu. Lalu dijual, terkadang tidak kelihatan untungnya,  namun hikmah yang terasa kalau sebelum jualan madu,  saat menerima uang gaji uangnya habis. Tapi saat mulai jualan, begitu gajian terus dibelikan madu dan sarangnya,  duit jadi ada terus setap hari meski tidak banyak.

Usaha yang ditekuni saat ini, menurut Ani, sama sekali tidak ada kaitannya dengan latar belakang pendidikan,  Ani Regiana memiliki latar pendidikan teknik elektronika darii Politeknik Jakarta. Tapi suaminya sarjana ekonomi, jadi ada sedikit teori yang bisa terapkan di dalam bisnis. “Awalnya terjun di jualan madu sarang tidak ada sama sekali niatan ataupun rencana mau jualan madu. Walau sudah banyak belajar secara otodidak maupun bergaul dengan para peternak lebah. Yang sangat terasa saat usaha adalah belajar, belajar menguasai produk yang kita jual. Semakin kita menguasai ilmunya semakin enak dan mudah dalam usaha,”tutur Ani.

Ibu dari Aufa Lubna Anta Ramadina usia (6 tahun) dan Sofia Zahra Anta Sania usia (4 tahun) ini mengakui kemampuan memproduksi danmendesain produk disesuaikan dengan pasar. Dikemukakan pemilik dari Bee_Honeycomb ini, dalam sebulan mampu produksi kurang lebih 500 kg madu sarang, madu stik serta madu botolan. Bahan baku madu sarang, juga diperoleh  langsung dari peternak lebah. Saat ini yang lagi “best seller” adalah madu sarang yang dijual  dalam kemasan 250 gram dan 500 gram. Untuk memproduksi madu, Ani  memperkerjakan 3 orang tenaga kerja.

Ani menyebut, segmen pasar sebenarnya semua keluarga Indonesa, dan kebetulan ada produk madu sarang yang saat ini lagi “happening banget” di kalangan remaja atau milenial. Ada juga produk yang segmennya anak-anak, yakni madu stik. Kemudian untuk orang tua madu cair botolan. Produknya dijual dengan kisaran harga Rp 40.000 – Rp 300.000, resellernya di Bandung, Medan, Papua, Bogor, Banten,  kurang lebih 20 orang.  Omset rata- rata Rp 70 juta/bulan.

Dikemukakan Ani Regiana, keunggulan produknya dibandingkan produk sejenis yang berdar dipasaran, produk memiliki packaging yang sudah melalui tahap “trial error”.

Selain ada positif dan negatifnya dalam mnejalankan usaha, diakui  Ani, posistifnya menjadi banyak belajar tentang dunia madu, kesehatan dan dunia herbal. Cerita menarik yang pertama adalah pembeli perdana madu sarang dari salah satu resto ternama di Plaza Indonesia. Saat itu setelah membuat blog apa adanya,  dan karena kesibukan jadi agak terlupakan. Suatu saat, tiba-tiba ada telepon yang meminta sarang madu. Saya pastikan apakah madu dalam sarang atau sarang madunya. Jawabannya adalah sarangnya saja tanpa madu. Namun saya tidak yakin, akhirnya saya bawakan sarang muda yang masih bagus yang disalah satu bagiannya terdapat madu. Beberapa hari kermudian dapat kabar, ternyata owner dari resto tersebut adalah orang Australia, dia justru mengatakan sarang yang ada madunya lebih oke, akhirnya sepakat madu saranglah yang dipilih, bukan sarang madu. ”Alhamdulillah, pemesan perdana madu sarang ini, hingga kini masih setia,”ujar Ani.

 “Saat ini, sya terus memperbaiki kemasan dan riset. Inovasi produk tidak boleh berhenti . Saya  menjalin hubungan dengan teman-teman di Cina dalam hal packaging madu sarang yang  bagus. Saya berencana menggunakan teknologi mereka tapi tetap madunya asli rasa Indonesia  Selain terus belajar dan belajar  dengan berbagai cara baru berjualan, market place, medsos, ads, dan lain-lain. Madu sarang  dalam kemasan tidak gampang bocor dan tumpah. Banyak  customer yang membeli madu sarang, bukan hanya untuk mendapatkan madu murni dan asli, tapi mereka ingin melihat tekstur sarang madu. Pengalaman menyakitkan diakui Ani, pernah terjadi beberapa waktu lalu, dengan kualitas  apa adanya saat mengirim madu sarang, tapi  ketika sampai di tempat tujuan, sarangnya hancur, customer komplain dan berucap, mbak saya beli madu sarang bukan madu bubur. Madu sarang hancur jadi bubur saat  dalam perjalanan,” tutur Ani dengan suara lirih menceritakan pengalaman perjalanan usahanya.

Penggemar warna biru ini menambahkan, mengenai upaya pemerintah dalam membantu pelaku UKM, antara lalin melalui OK OCE  di DKI Jakarta.  Pelaku UKM sangat terbantu dalam membuat surat pendirian usaha.  (E-018)***