Festival Film dan Kepariwisataan

89

     FESTIVAL Film Indonesia (FFI) tahun ini baru saja selesai diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ingatan saya meluncur ke 36 tahun lalu. FFI tahun1982 diselenggarakan di Bandung. Semua kegiatan dipusatkan di Gedung Merdeka. Saya, sebagai salah seorang anggota panitia, diberi tugas sebagai LO para artis. Dengan menumpang bus dan beberapa kendaraan kecil, saya antar para artis berwisata ke Pangalengan, di Bandung selatan. Saya mengajak mereka ke Pangalengan dengan harapan, para sineas nasional mengenal salah satu destinasi wisata menarik di kawasanBandung.

    Mereka ternyata sangat tertarik dan mengagumi Perkebunan Malabar terutama peninggalan Boscha. Mereka berjabnji akan menggunakan kawasan itu sebagai studio alam untuk berbagai film. Terbukti beberapa tahun kemudian, ada film, baik film anak-anak, film horor, maupun film drama, termasuk film seri televisi yang menggunakan kawasan Malabar sebagai lokasi syuting.

    Sejak itu saya merasa yakin, perfilman dapat menjadi media promosi kepariwisataan. Pada setiap festival film, baik dalam negeri maupun luar negeri, para sineas atau narafilm dan penggemarnya berdatangan ke tempat penylenggaraan festival film. Mimpi saya pada saat itu, berapa banyak artis, aktor, dan awak film dari seluruh dunia datang ke Bandung apabila di Bandung diselenggarakan festival film internasional. Bandung akan menjadi destinasi wisata internasional yang sangat terkenal.

     Seleai FFI saya membuat proposal, isinya berupa gagasan penyelenggaraan festival film internasional di Bandung. Sedianya proposal  itu akan saya bawa  ke Kanwil Kebudayaan Jawa Barat. Kepala dan jajarannya amat saya kenal. Tetapi ketika saya berbicara dengan Eddy D.Iskandar, ia menyarankan, gagasan itu sebaiknya dibicarakan di Jabar Film bersama Parwez. Diantar Eddy saya datang menemui Pak Parwez. Di sana ada Pak Edison Nainggolan. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya bermimpi adanya Festival Film Bandung yang bersifat internasional. Di Prancis ada Festival Cannes, di Jepang ada Festival Tokyo, selain di Hollywood di AS ada juga Festival Film New York, dan sebagainya.

     Gagasan itu ternyata mendapat sambutan positif dari Pak Parwez dan kawan-kawan. Eddy D. Iskandar menggubungi para budayawan di Bandung, antara lain Prof. Soedjoko PHD, Pelukis/pematung Sunaryo, pelukis Srihadi, Suyatna Anirun, Saini KM, Suatardjo A. Wiramihardja, Duduh Durahman, dan sebagainya. Pada pertemuan awal bersama para budayawan itu, disepakati dibentuk semacam panitia kecil untuk mempersiapkan berdirinya sebuah badan swasta penuh, sebagai penylenggara Festival Film Bandung (FFB). Peserta yang berjumlah 12 orang dibagi dua yakni kelompok penyelenggara organisasi dan kelompok pengamat. Kami menggunakan istilah regu yakni Regu Pengurus dan Regu Pengamat.

      Saya diberi tugas menghubungi Menteri Penerangan di Jakarta. Bersama Yayat Hendayana, saya menghadap Harmoko. Saya optimistis, gagasan  Festival Film Bandung itu akan direstui Meneteri Penerangan karena hubungan saya dan Pak Harmoko cukup dekat, sebagai sesama wartawan. Sayang kami tidak dapat bertemu langsung dengan Menteri Harmoko. Saya hanya dapat menyerahkan surat permohonan izin berdirinya FFB kepada staf menteri.

       FFB menerima jawaban Menteri penmerangan  melalui Panitia Tetap (Pantap) FFI. Isinya, di Indonesia hanya ada satu festival film yakni FFI. Artinya tidak boleh ada FFB atai festival film yang lain. Namun Harmoko memberi saran FFB menjadi ajang disuksi film.  Kami tidak dapat berbuat apa-apa dan mengganti Festival Film Bandung  menjadi Forum Film Bandung, singkatannya masih sama, FFB. Hal itu terjadi pada tahun  tanggal 1 April1985.

       Saya ditetapkan menjadi Ketua Regu Pengurus merangkap sebagai pengamat dan Duduh Durahman sebagai Ketua Regu Pengamat. Setiap Jumat sore kami menonton film yang beredar di Bandung di Gedung Praedar Film, milik Jabar Film di Jl. Sudirman Bandung. Selesai pemutaran film kami berdiskusi bahkan berdebat serius sehingga Prof Soedjoko harus membuka baju mempertahankan argumentasinya. Diskusi juga berlangsung secara langsung pada siaran film TVRI Jabnar-Banten. FFB juga menerbitkan majalah khusus. Semua pengamat wajib menulis kritik terhadap film yang beredar di Bandung, baik di harian yang terbit di Bandung maupun Jakarta, terutama pada majalah khusus FFB.

        Dalam satu tahun kami menonton antara 100 – 200 judul film. Hasil pengamatan para pengamat  sepanjang satu tahun menentukan film nasional terpuji berikut elemen-elemennya. Sedangkan film impor hanya diamati alur filmnya saja tidak dengan elemen pendukungnya. FFB juga memberikan piala FFB yang dibuat Sunaryo dan sertifikat bagi film terpuji. Untuk film impor, penghargaan disampaikan langsung ke produsernya di negeri tempat film itu diproduksi. Pembiayaan untuk semua itu diotanggung Jabar Film dan uang pribadi Parwez Servia.

        Baik awak regu pengamat maupun regu pengurus, tidak mendapatkan apa-apa, kecuali kepuasan batin. Karena itu wartawan senior, Almarhum H. Rosihan Anwar menyebut awak FFB sebagai orang-orang majenun atau gila.

        Selamat bagi FFB yang sekarang sudah berubah dari forum diskusi fe Festival Film Bandung yang diselenggarakan oleh Forum Film Bandung. Semoga Fatival Film Bandung menjadi festival film internasional yang berdampak positif bagi dunia kepariwisataan Bandung dan Jabar. Salam hangat buat Pak Parwez, Edison Nainggolan, Eddy D. Iskandar dan penggiat FFB lainnya dari Us Tiarsa R. ***