Kopi Jabar semakin Manis

66

KEBIASAAN minum kopi masyarakat dunia semakin luas. Bukan hanya para nenek-kakek yang sudah lama ”nyandu” ngopi, kaum muda pun semakin banyak yang masuk kafe atau warung kopi. Mereka benar-benar menikmati sajian minuman kopi, terutama kopi panas. Di Indonesia juga warung kopi makin tersebar, baik di kota besar maupun di kota kecil. Kebiasan minum kopi yang sedang ”ngetren” sekarang ini memicu usaha perkopian semakin berkembang. Di hulu, para petani kopi sedang menikmati hasil taninya karena pasar kopi terus berkembang. Begitu pula usaha kopi di hilir, berupa produksi kopi siap konsumsi maupun pedagang dari swalayan sampai warung tradisional merasakan kenaikan konsumsi kopi.

Menurut Direktur Perlindungan Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, kopi asal Indonesia, terutama jenis arabika, kini sudah menjadi trade mark dunia, baik dalam perdagangan maupun selera konsumen. Kopi Jawa Barat justru menjadi rujukan kopi speciality asal Indonesia. Pada lomba atau festival kopi dunia, kopi Indonesia sel;alu mendapatkan penghargaan tertinggi. Lebih dari 30 penghargaan didapatkan kopi Indonesia. Dari 30 penghargaan itu, kopi Jabar paling mendominasi. Wajar apabila petani penanam kopi semakin meningkat. Di seluruh Jabar, terdapat ermpat daerah penghasil kopi yakni Kabipaten Bandung, Bandung Barat, Garut, dan Sumedang. Cuaca dan keadaam tanahnya, empat daerah itu paling cocok bagi tanaman kopi.

Pemerinah Provinsi Jabar kini terus mendorong petani kopi dalam peningkatan produktivitas dan mutu kopi. Di bawah pembinaan dan pendampingan Bank Indonesia, para petani kopi mendapat bantuan bibit kopi unggul, pelatihan, baik penanaman maupun pemasaran. .Jabar juga tengah memperluas tanaman kopi berbasis organik. Pasar kopi di Eropa, terutama Inggris, mengutamakan kopi organik. Seperti dimuat PR (12/12),  para pengusaha yang bergerak dalam industri makanan dan minuman berbahan organik yang tergabung dalam Indonesia Organic Aliance (IOA) atas inisiatif KBRI di Inggis, menggerlar acara Organic Food Day di London. Pada acara itu disajikan makanan dan minuman Indonesia seperti kopi, gula merah, organic jack ftruit, nasi merah, dan mie yang dibuat dari singkong.

Di Inggris kopi asal Indonesia menempati tingkat premium. Penggemar kopi di Inggris selalu mngejar kopi Indonesia, terutama kopi Jabar. Hal itu merupakan peluang sangat terbuka bagi Indonesia, khususnya Jabar, mengembangkan ekspor kopi ke Inggris.Peluang itu masih sangat terbuka karena beberapa negara di Eropa mulai melirik kopi Indonesia, belum lagi pasar di luar Eropa yang masih terbuka. Artinya kopi Jabar  memiliki masa derpan yang semakin cerah. Dalam dunia perdagangan internasional, kopi Jabar terasa semakin manis. Wajar apabila ke depan, kopi menjadi komoditas ekspor nonmigas unggulan. Pemprov Jabar dan BI harus terus berupaya meningkatkan produktivitas kopi organik Jabar, baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi. Namun para petani dan usaha hilir kopi Jabar harus berkomitmen menjaga mutu kopi yang selama ini sudah berada pada track yang benar. Kita juga harus menjaga benar agar kopi Jabar tidak over produksi. Jangan karena sangat laku di pasar global, kemudian semua petani di semua daerah bealih dari tanaman unggulan setempat ke tanaman kopi.

Banyak contoh tanaman yang laku di pasar kemudian harganyua tiba-tiba jatuh karena terjadi over produksi. Cengkeh, dan rempah-rempah lainnya, menjadi booming, kemudian terpuruk. Diharapkan hal sepert itu tidak terjadi pada kopi. (Furkon)***