Sawah Baru vs Alih Fungsi Lahan

64

   PENCETAKAN sawah baru merupakan program pemerintah sudah mulai dilakukan sejak pemerintah Orba. Perluasan sawah di  luar P. Jawa dan pemafaatan lahan gambut bagi penanaman padi, pernah dilakukan pada zaman pemerintahan Presiden Suharto. Proyek itu di-take over sampai era Jokowi sekarang. Pemerintah menilai pencetajkan sawah baru harus dilakukan untuk mempertahankan program ketahanan pangan mweskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan.

   Pemerintah Kabinet Kerja di bawah dirijen Presiden Jokowi sekarang, menetapkan target pencetakan sawah baru mencapai 12.000 hektar sampai tahun 2018. Namun target Kementerian Pertanian itu baru mencapai 6.402 ha. Mengapa target itu tidak tercapai? Banyak kendalanya, terutama pencarian lahan yang dapat diubah fungsinya menjjadi persawhan. Daya dukung lahan bagi tanaman padi juga tidak merata. Tanah di luar Jawa, tidak terlalu cocok untuk persawahan dengan hasil panen sebanyak persawahan di P. Jawa.

   Dalam pada itu, penyempitan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan, terus berjalan. Perjalanan pencetakan sawah baru makin terkejar dengan meluasnya alih fungsi lahan, terutama di Jawa Barat. Persawahan di Karawang, meski ada upaya pengabadian lahan sawah, pembangunan industri dan permukiman tidak dapat dibendung. Program Pemprov Jabar, mempertahankan Jabar menjadi lumbung pangan, semakin sulit terwujud. Kita benar-benar berada di tengah kepentingan yang ssbenarnya sama-sama demi kesejahteraan rakyat. Industri merupakan sektor yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi yang kemudian dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Begitu pula pertanian. Pemerintah dan masyarakat berharap, negara kita dapat mempertahankan produksi pertanian yang sudah nyata-nyata dapat menyejahterakan rakyat.

     Perkembangan industri mau tidak mau harus memakan lahan yang lebih luas. Industrialisasi di Jabar ditempuh dengan mengorbankan lahan pertanian. Bekasi, Karawang, Purwakarta yang semula merupakan lahan pertanian sangat luas dan penghasil padi yang menjadi andalan nasional, makin terdesak industri. Kawasan industri di Bekasi dari ujung barat sudah menghabiskan lahan luas di daerah Tambun, Cikarang, dan Lemah Abang. Di Karawang, kawasan industri terus meluas ditambah dengan pembangunan permukiman dan pusat-pusat perdagangan sudah menyeruak ke belahan utara. :Palawad, Bengle, Majalaya, Tegalsawah, makin lama makin penuh dengan perumahan, industri, dan perdagangan. Persawahan pasti akan terus menyempit.

     Agar kita mendapatkan solusi dari masalah yang dilematis itu, pemerintah memilih  kedua-duanya, industri dan pertanian atau ketahanan pangan. Salah satunya, menentukan kawasan pertanian abadi, beberapa lahan pertanian tidak boleh dialih-fungsikan menjadi kawasan industri atau perumahan.Selain itu, melakukan pencetakan sawah baru sebagai pengganti persawahan yang terbangun. Dua sektor yang berlawanan itu amat sulit disatukan. Pada pelaksanaannya pemerintah juga mengalami kesulitan mempertahankan lahan sawah abadi. Kemudian pencetakan sawah baru, tidak serta merta dapat menjawab makin sempitnya lahan pertanian. Kita harus benar-benar berhitung ketika akan melakukan pencetakan sawanh baru. Lahan yang akan diubah menjadi lahan persawahan, tidak seluruhnya  dapat menjadi sawah yang subur. Dikhawatirkan pula persawahan baru itu merambah daerah hutan lindung.

     Sedangkan industri tertap bergeming, terus berjalan dan memperluas sayapnya. Karena padat modal, mereka dengan mudah mendapatkan konsesi lahan baik persawahan maupun perkebunan. Persoalan besar menyangkut kebutuhan pangan rakyat dan perkembangan industri yang juga digadang-gadang bagi kesejahteraan rakyat akan terus berlangsung. Kemenerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian serta PUPR, seyogianya duduk satu meja mencari jalan paling baik menjawab masalah yang amat sulit itu. Pembicaraan harus berdasarkan data yang benar-benar valid. Kementan jangan sampai mengeluarkan data keliru tentang prioduktivitas padi dan jagung serta luas panen, seperti awal  tahun ini.

      Kekeliruan data akan berakibat panjang ditandai dengan kegaduhan. ***