Dilematisnya Kantong Kresek

97

ADA apa yah, pelarangan kantong plastik di pusat perbelanjaan  Kota Bandung  batal diberlakukan. Apakah ada kompromi karena berdampak  pada  industri plastik dan sejenisnya. Padahal sebelumnya Pemkot Bandung  sangat gencar akan menerapkan larangan  mulai 1 Desember 2018,  kenyataannya  kantong keresek  di pertokoan mana pun tetap digunakan.

Konon larangan kantong plastik sudah tercantum dalam Perda nomor 17 tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Ada yang berpendapat  baru bersifat imbauan agar ritel dan masyarakat bersama- sama mengurangi penggunaan kantong plastik.

Belum jelas apa penyebabnya larangan  itu kurang dilaksanakan. Kendati begitu tentunya Pemkot memberikan apresiasi bagi ritel yang telah mengurangi penggunaan kantong plastik. Begitu pula bagi  warga masyarakat yang telah mengurangi penggunaan kantong plastik dengan membawa kantong belanjaan sendiri mendapat pujian.

Intinya  adanya viral di media sosial tentang larangan ritel menggunakan kantong plastik pada tanggal 1 Desember 2018, sampai hari ini  belum menjadi sikap Pemkot .

Sebaliknya  akibat  adanya pelarangan kantong plastik di sejumlah daerah dan rencana pemerintah untuk menerapkan cukai plastik sudah berdampak terhadap industri, sebagaimana diakui Sekjen  Asosiasi Industri Olefin, Plastik dan Aromatik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono.

Para pelaku industri kantong kresek yang tergabung dalam Inaplas mengalami dilematis untuk menambah stok. Mereka merasa takut dengan adanya penurunan pesanan kantong plastik kresek pascapelarangan di ritel modern di sejumlah daerah, seperti   Kota Bandung,  Banjarmasin, Balikpapan, Kota Bogor  dan Bali.

Tak pelak lagi   plastik dimusuhi banyak kalangan karena dianggap tidak ramah lingkungan dan menyebabkan tumpukan sampah.  Kendati begitu,  pemerintah pusat  tetap diminta untuk meninjau kembali kebijakan tersebut dan solusinya diganti dengan usaha peningkatan pengelolaan sampah.

Pelaku industri plastik kebanyakan adalah industri kecil dan menengah. Terdapat di dalamnya, pemungut sampah dan pengepul, sehingga kantong plastik ini dapat dianggap memberikan andil dalam pengembangan industri dalam negeri.

Lalu, haruskah pemerintah  memberikan edukasi untuk mendorong paradigma bahwa sampah tidak hanya diangkut dan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), akan tetapi bisa dipilah, diolah dan dijual sehingga memberikan nilai ekonomi tambah.