Mencukur Peluang Sekolah Barberman

34

MENJAGA dan merawat penampilan, kini bukan lagi hanya milik kaum hawa semata. Kaum adam masa kini pun semakin peduli pada penampilan mereka, terutama soal tata rambut.

Acap kali kita sering melihat tampilan potongan rambut kaum pria makin beragam. Tidak cuma rapi, gondrong atau botak saja tapi sudah beraneka macam dan bentuk. Laiknya penampilan pemain sepakbola tersohor atau selebriti papan atas.

Kebutuhan itulah yang membuat bisnis pangkas rambut khusus pria atau  kini dengan sebutan barbershop di Indonesia sudah menjamur sejak lima tahun lalu.

Kalau dilihat, pangkas rambut kekinian yang tidak cuma menawarkan potong rambut, melainkan juga perawatan rambut laiknya salon untuk kaum hawa sudah merambah di mana-mana. Tidak cuma di pusat belanja saja tapi juga sudah sampai di komplek perumahan.

Alhasil, menjamurnya bisnis pangkas rambut pria  tersebut justru  membuka peluang bagi sekolah atau kursus pangkas rambut khusus pria (barber). Malah tidak sedikit pelaku usaha barbershop yang juga sekalian mendirikan sekolah barber untuk menunjang keberlangsungan bisnis barbershop.

Selain itu, sekolah kursus barber juga bisa melahirkan tenaga ahli di bidang barbershop yang sering disebut kapster.

Inilah yang membuat sekolah kursus barber menjadi pilihan para tukang cukur untuk mengembangkan keahlian dan digunakan sebagai modal mencari kerja.

Evan Hakim, pemilik Kingz Barbershop dan Kingz Barber School optimistis, potensi peluang usaha barber school ke depan tetap prospektif. Apalagi  bisnis tersebut berbeda dengan bisnis lainnya seperti makanan yang harus belanja bahan setiap hari.

“Bisnis ini masih bagus potensinya. Karena cukup keluar modal sekali saja. Setelah itu keuntungannya bisa berlipat-lipat,” katanya.

Sekolah kursus pangkas rambut pria milik Kingz Barbershop sudah berjalan sejak tahun 2017. Tempat kursus tersebut berada di  Ciomas, Bogor.

Kingz Barber School menawarkan tarif paket kursus senilai Rp 2,5 juta untuk 12 kali pertemuan. Sedangkan untuk paket kursus plus barber tools tarifnya sebesar Rp 3,5 juta dengan frekuensi sebanyak 12 kali pertemuan. Skema lain, pihak Kingz Barber akan memberi pengajaran ke calon tukang cukur sampai bisa.

Evan menyebutkan, hingga saat ini, peminat kursus sudah ada 18 orang. Tempat kursusnya juga sudah bisa menelurkan sebanyak delapan pebisnis barbershop. Selain itu, tiga orang jebolan tempat kursus itu yang bekerja di barbershop termasuk sebagai pegawai di Kingz Barber.

Ia menargetkan setiap bulan sebanyak empat sampai enam peserta yang lulus kursus di Kingz Barber School. Tak hanya mendapat lapangan pekerjaan, peserta kursus juga mendapatkan sertifikat dan disalurkan langsung ke gerai barbershop lain bila ada yang membutuhkan tenaga kapster.

Evta Yulianto, pemilik Ndasmu Barber School, juga menilai potensi sektor usaha kursus barber ini sama bagusnya dengan barbershop. Lantaran sudah banyak kalangan yang tertarik untuk mempelajari teknik tata rambut agar dapat membuka usaha sendiri atau menjadi seorang kapster.

“Setelah mereka mempunyai ketrampilan tersebut, mereka dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri atau bekerja di barbershop,” katanya.

Sebagian siswa yang mengikuti training di Ndasmu Barber School disalurkan ke gerai cabang Ndasmu Barbershop yang tersebar di dalam dan luar Mojokerto, Jawa Timur.

Ndasmu Barber School sendiri menawarkan dua paket pelatihan.  Yang pertama adalah paket siang dengan tarif 1,8 juta (masa pelatihan 14 hari),  serta paket malam dengan tarif sebesar Rp 2,1 juta (masa pelatihan 14 hari).

Laki-laki berusia 37 tahun ini mengaku semua siswa yang mendaftar saban bulannya dikumpulkan untuk mengikuti kelas teori di hari pertama. Selanjutnya, para siswa dapat mulai berlatih untuk hair tattoo, hair stylist, hingga hair coloring. “Saya menjamin dalam waktu 14 hari mereka sudah siap menjadi barberman,” tegasnya.

Mendirikan kursus atau sekolah barber juga mulai dijalankan oleh Dedy Kie, pemilik Jones Barber Academy dan Jones Barbershop asal Bali sejak tahun 2017. Ia mengungkapkan,  keberadaan sekolah barber ini sudah menjadi sebuah kebutuhan, sama seperti bisnis barbershop yang sudah berjalan lebih dulu.

Apalagi pebisnis yang berkecimpung di pangkas rambut pria makin merambah di mana-mana. “Karena ujung tombak dari bisnis barbershop, ya, tukang cukurnya itu sendiri. Kalau tidak ada tukang cukur ya habis,” jelasnya.

Jones Barber Academy menyediakan paket kursus pangkas rambut dengan tarif sebesar Rp 3,5 juta. Dengan biaya tersebut, para murid mendapat fasilitas latihan pangkas rambut dengan model klasik maupun modern, alat, hingga sertifikat. Sama seperti tempat kursus yang lain, Jones Barber Academy menawarkan 12 kali pertemuan untuk pelatihan memangkas rambut.

Dedy mengatakan, peminat Jones Barber Academy terus meningkat sejak awal tahun ini. Apalagi semenjak gerai barbershop menjamur di wilayah Bali. Dia menyatakan, lulusan Jones Barber Academy dapat bekerja di gerai barbershop maupun menjadi kapster profesional dan membuka usaha jasa pangkas rambut sendiri.

Jimi Suherman juga melihat potensi bisnis dari memberikan pelatihan bagi peminat yang ingin menjadi seorang pemangkas rambut pria. Menurutnya, potensi bisnis tersebut masih terbuka lebar.

“Menurut saya potensinya masih sangat besar, sebab melihat dari lokasi kami di Bandung, kami hanya memiliki satu kompetitor saja,” ujar dia.

Hal tersebut berimbas pada permintaan pelatihan kepada dirinya. Ia membuka kursus pangkas rambut dengan nama Fixie Barbershop Course.  Jimi mengaku tiap bulan melatih sebanyak 50 calon sampai 60 calon barber dari Sabang sampai Merauke.

Kalau ada yang tertarik, ia menawarkan dua paket pelatihan. Pertama adalah paket reguler dengan patokan tarif Rp 1,5 juta. Adapun paket kedua bernama paket premium dengan tarif Rp 2,5 juta.

Perbedaan mendasar diantara kedua paket tersebut adalah untuk paket premium,  calon pemangkas rambut akan mendapat pelatihan teknik eksklusif skinfade, mewarnai rambut, dan teknik membuat pomade sendiri. “Juga magang dan garansi mengulang,” jelasnya.

Karena itu, ia menganjurkan para calon pemangkas rambut supaya mengambil paket premium yang memang ditujukan bagi orang yang belum memiliki teknik dasar memangkas rambut pria.

Sedangkan fasilitas lainnya secara umum dari paket yang ditawarkan, calon barber akan mendapatkan fasilitas penginapan gratis, akomodasi motor, dan sertifikat. Serta tidak lupa kesempatan praktik potong rambut secara langsung.

Ia menuturkan bahwa profesi sebagai seorang barber atau kapster profesional mampu mendapatkan pendapatan per bulan yang cukup lumayan. Ia menjelaskan bahwa ada tiga kategori pendapatan dari seorang pemangkas rambut yang tergantung dari gerai potong rambut yang dijalankan.

Pertama adalah untuk tingkatan pangkas rambut biasa dengan pendapatan rata-rata sebesar Rp 3,5 juta per bulan. Kemudian yang kedua adalah semi barbershop dengan pendapatan dari si pemangkas berkisar antara Rp 3,5 juta sampai Rp 5 juta per bulan.

Dan tingkatan teratas atau ketiga yakni barbershop dengan pendapatan untuk tukang cukur bisa mencapai di atas Rp 6 juta per bulannya.

Makanya, tidak heran bila banyak anak muda yang berkecimpung di bisnis tersebut. Baik itu menjadi barberman atau mengelola barbershop.

Diminati kalangan milenial

Keberadaan sekolah atau kursus ahli pangkas rambut (barber) yang makin menjamur memang membuka peluang bagi kalangan manapun. Namun kebanyakan, peserta sekolah atau kursus barber ini berasal dari kalangan anak muda. Golongan tersebut banyak yang tertarik dengan kursus pangkas rambut karena dinilai bisa mendatangkan pekerjaan yang menjanjikan.

Evan Hakim, pemilik Kingz Barbershop dan Kingz Barber School, mengatakan, ia tidak memberikan patokan umur bagi siapa saja yang ingin mengikuti kursus pangkas rambut tersebut. Pernah ada peserta yang berumur 40 tahun masih mengikuti kursus di Kingz Barber School.

Namun ia mengakui bahwa rata-rata peserta kurus di tempatnya adalah berusia antara 20 tahun sampai 30 tahun. “Untuk kota asalnya tidak cuma datang dari Mojokerto, melainkan juga datang dari Samarinda, Batam, Medan, dan kota lain di luar Mojokerto,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dedy Kie, pemilik Jones Barber Academy dan Jones Barbershop yang berlokasi di Bali. Ia mengatakan, sebanyak 90% peserta didiknya adalah kalangan anak muda berusia 19 tahun sampai 30 tahun. Para peserta didik tersebut bakal belajar teori dan praktik langsung pangkas rambut pria.

Sebagai tahap awal, ada empat kali pertemuan bagi siswa dengan langsung praktik via manequin. Setelah lancar, barulah para peserta didik menjalankan praktik langsung dengan seorang model. “Ada delapan kali pertemuan mereka bisa praktik langsung dengan model. Mereka bisa membawa sendiri modelnya, bisa teman atau saudara, siapapun juga boleh,” jelas Dedy.

Sistem menyediakan model untuk praktik peserta didik juga dilakukan Evta Yulianto pemilik Ndasmu Barber School. Rupanya sistem tersebut  menjadi kendala bagi bisnis sekolah barber-nya. Ia mengaku kesulitan untuk menyediakan model praktik para siswa. Maklum saja, tidak banyak orang yang rela rambutnya dijadikan bahan percobaan.

Solusinya, Evta menjamin para trainer akan merapikan model guntingan yang dianggap tidak bagus, serta mendapat fee sebesar Rp 10.000 per kepala untuk para model. Bapak dua anak ini bilang kebanyakan para remaja dengan senang hati datang ke tempat pelatihannya sebagai model.

Selain mengasah keterampilan memangkas rambut, para pelaku usaha sekolah barber juga sepakat bahwa peralatan pangkas rambut yang digunakan harus dijaga kualitasnya. Maklum, peralatan dengan kualitas bagus menjadi barang wajib untuk setiap peserta didik. (C-003/BBS)***