Menyisir Bisnis Pomade Sampai Kelimis

66

TREN peduli akan penampilan tidak melulu menyoal para wanita. Kaum adam masa kini juga kerap memperhatikan penampilannya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kondisi inilah yang mendorong suburnya bisnis pangkas rambut kekinian alias barbershop.

Namun, tak berhenti di barbershop, kepedulian para pria terhadap gaya menata rambut juga melahirkan bisnis pomade. Kini, merek pomade lokal pun mulai unjuk gigi. Terlihat dari maraknya produsen pomade lokal.

Ahmad Sapaat, pemilik King Pomade asal Garut, Jawa Barat menilai bahwa bisnis pomade lokal kian agresif dalam tiga tahun terakhir. Merunut pada hasil risetnya, ada lebih dari 500 produsen pomade di Indonesia.

Sebagian besar dari produsen pomade lokal ini masih berskala home industri. Namun, ada pula perusahaan besar yang tak ketinggalan memproduksi pomade. “Ini artinya pasar pomade di Indonesia masih bagus dan belum akan surut,” terang Ahmad.

Sebagai salah satu pemain lama, Ahmad mengakui, produk King Pomade sudah diterima pasar seluruh nusantara. Bahkan, dia mengirim King Pomade ke Malaysia dan Italia. Total penjualannya pun mencapai ribuan kaleng saban bulannya.

Ahmad menjual King Pomade seharga mulai dari Rp 35.000-Rp 80.000 per kaleng. Tersedia dua varian pomade, yakni water base dan oil base dengan aneka aroma permen dan buah-buahan.

Dalam produksi, Ahmad menjalin kerjasama dengan pabrik yang berada di Jakarta. Dia menggunakan bahan baku pomade, hampir 90%-nya berasal dari luar negeri.  Dia pun menjalin kerjasama dengan pemasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku.

Kini, kendala usaha yang Ahmad hadapi adalah soal pembajakan. “Produk saya banyak dibajak di Malaysia sampai sekarang masih beredar barang palsunya,” ceritanya. Sebelumnya, pembajakan produk ini juga ditemuinya di pasar lokal, meski belakangan sudah mulai menghilang.

Untuk menandai produk original, Ahmad menggunakan stiker hologram yang khas sehingga dapat dibedakan dari kemasan. Selain itu, aroma King Pomade yang khas juga sulit ditiru.

Merintis bisnis pomade sebagai salah satu tugas kuliah tahun 2013, kini, Michael Nugroho dan ketiga temannya juga meraih sukses dalam bisnis ini. Keempat anak muda asal Jakarta ini memproduksi  pomade dengan merek Smith Men Supply.

“Dulu, waktu awal-awal kami buat pomade, belum ada pomade buatan dalam negeri, semua masih impor dari Amerika maupun Eropa. Harganya sudah Rp 200.000 ke atas,” ungkap Michael yang menjadi CEO PT Smith Indonesia Jaya, produsen Smith Men Supply.

Saat itu, dia melihat potensi pasar pomade cukup menjanjikan seiring menjamurnya bisnis barbershop. “Konsep pomade kami lebih ke arah classic modern dandy style. Jadi cowok-cowok bisa menjaga ketahanan gaya rambut mereka ala dandy dengan harga yang terjangkau,” kata Michael yan mengklaim kualitas produknya tak kalah dengan pomade impor.

Saat ini, Smith Men Supply Pomade sudah memiliki enam jenis produk, yakni oil based pomade (Bold Hold, Premium Medium dan Fine Shine) yang dibanderol Rp 95.000 per kaleng, water based pomade (Dapper Spatter) dibanderol Rp 100.000 per kaleng, hair wax (Black Jack) Rp 70.000 per kaleng dan Smith premium (Clayton) seharga Rp 160.000 per kaleng.

Keenam produk tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan pasar. Alhasil, masing-masing produk punya kelebihan dan kekurangan, menyesuaikan jenis rambut konsumennya.

Michael mengatakan bisa memproduksi 30.000 kaleng pomade untuk enam jenis produk tiap tiga bulan sekali. Omzet per tahun mencapai Rp 3,5 miliar. Padahal, saat awal merintis bisnis, Smith Pomade hanya memproduksi 100 kaleng dan semua dibuat sendiri (homemade).

Seiring dengan berkembangnya permintaan pasar, Michael tidak lagi mampu  memproduksi secara homemade. “Sekarang, semua produksi sudah lewat pabrik. Kami bekerjasama dengan PT Cedefindo punya Martha Tilaar Grup,” tuturnya.

Smith Pomade telah memiliki puluhan rekanan barbershop, ratusan reseller dan 11 distributor resmi di 30 provinsi. Tak hanya itu, sejumlah gerai ritel, seperti Aeon, Ranch Market, Farmers Market, The Food Hall dan Guardian turut memasarkannya.

Luasnya pasar pomade yang dirambah Smith Men Supply membuat merek ini menjadi market leader produsen pomade dalam negeri saat ini. Bahkan, mampu menggeser produk pomade impor yang sebelumnya merajai pasar Indonesia.

Meski demikian, Michael bilang, masih banyak rencana ke depan untuk mengembangkan PT Smith Indonesia Jaya. Salah satu keinginan terbesarnya adalah memproduksi aneka produk perawatan khusus pria, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Mulai tahun lalu, Michael dan tim mulai mengonsep produk sampo dan sabun khusus pria. “Hingga kini, kedua produk tersebut juga masih dalam tahap percobaan, belum ketemu formula yang pas,” ujarnya.

Michael juga memasang target omzet, yakni mencapai Rp 4,8 miliar di tahun 2018. Ia juga merencanakan ekspansi ke pasar ekspor, terutama di Singapura dan Malaysia.

Gerai pomade

Cerita lainnya tentang bisnis pomade datang dari Januar Yogya Widodo, pemilik Jogja Pomade Store. Ia merintis bisnis pomade sejak 2014. Namun, berbeda dengan Ahmad dan Michael, Januar tidak memproduksi pomade sendiri, dia hanya menjual pomade di gerainya.

Senada dengan dua pemain lainnya, Januar bilang, potensi  bisnis pomade semakin besar. “Sejauh ini cukup menantang karena kompetitor kami adalah barbershop yang juga berjualan pomade. Tapi di sisi lain, potensi ini masih besar juga dan akan terus meningkat,” terang Januar.

Jogja Pomade Store milik Januar ini memang berkonsepkan minimarket atau sebagai warung pomade lokal di Yogyakarta. Ada sekitar 200 varian pomade dari puluhan brand tersedia di gerainya. “Beberapa yang kami jual ada yang handmade namun dari produsen masing-masing produk,” ujar Januar.

Masing-masing produk dijual dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 250.000. Selain berbagai varian dari banyak merek, Jogja Pomade Store juga menyediakan pomade dari ukuran mini atau travel pack dan ukuran besar.  Januar bilang, dalam sebulan ia dapat menjual sekitar 500 pcs secara ecer.

Dalam sebulan, Januar pun bisa mendulang omzet puluhan juta. “Omzet kurang lebih bisa mencapai Rp 45 juta sampai Rp 50 jutaan,” tambahnya.

Untuk pengiriman terjauh pomade lokal tersebut, Januar pernah mengirim sampai Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Bali. Sebab, tidak hanya berjualan secara offline, ia juga menggunakan media sosial Instagram sebagai wadah penjualan online.

Permintaan via gerai offline masih dominan 30% ketimbang online. “Sebab, pembeli bisa melihat, mencium aroma pomade yang datang langsung ke toko,” tutupnya

Mencintai dan memakai produk sendiri

Seringkali orang meraih sukses dengan mengerjakan apa yang menjadi passion. Seperti Ahmad Sapaat, yang meraih sukses berbisnis pomade berkat kecintaannya pada dunia tata rambut.

Novan, panggilan akrab Ahmad Sapaat, mengawali usahanya pada tahun 2013. Mahalnya harga pomade impor mendorongnya untuk  meracik pomade sendiri.

Bermodal uang tabungan sekitar Rp 1,5 juta, ia memberanikan diri untuk masuk bisnis pomade. Pengalamannya sebagai hair stylist serta produk educator salah satu brand multinasional, menjadi bekal tambahan memulai usaha ini.

Novan menghabiskan waktu sekitar dua bulan untuk masa uji coba. Saat itu proses produksi dilakukannya sendiri. Sampai pada akhirnya produk pomade buatannya siap diluncurkan ke pasaran.

Laki-laki berusia 33 tahun ini bercerita,  merek pomade pertamanya adalah AS Pomade. Sayang, dewi fortuna belum berpihak padanya. Pomadenya hanya bertahan satu bulan. Alasannya, ditolak pasar karena produknya dianggap kurang bagus.

Tidak lantas menyerah, dia mempelajari kembali kekurangan produknya dan kembali melakukan uji coba dan tes pasar. Saat dianggap sudah sempurna, anak pertama dari empat bersaudara ini memasarkan produknya dengan merek King Pomade. “Merek pertama kan namanya sudah rusak jadi mending saya pakai label baru,” jelasnya.

Sebagai pioner produsen pomade beraroma buah dan permen di Indonesia, Novan memberi tips bagi para pemain baru yang ingin serius menggeluti bidang usaha ini.  Pertama, harus mencintai produk buatannya dengan begitu pemilik brand bakal total untuk membuat pomade dengan kualitas yang baik. Kedua, menggunakan diri sendiri untuk mencoba produk buatannya.

Novan mengaku selalu menggunakan kepalanya sendiri untuk merasakan efek pomadenya. “Ini untuk mengukur kenyamanan saat pemakaian, bila dirasa kurang nyaman maka harus diperbaiki lagi,” katanya.

Ketiga adalah peka dan mengetahui tentang bahan baku yang digunakan. Tujuannya, agar produk yang dibuat aman digunakan oleh konsumen. (C-003/Kontan)***