Nama-nama Jalan di Kota Bandung Di Antara Legendaris dan Pejuang

630

Mungkin saja , banyak masyarakat Bandung yang tidak mengetahui asal usul nama di Kota Bandung. Seperti  Jalan Wastukancana yang membelah Bandung dari  Jalan Braga-Perintis Kemerdekaan hingga  Cicendo-Cihampelas. Berdasarkan kajian sejarah, nama Wastukancana diambil dari nama salah seorang Raja Pajajaran bernama Niskala Wastukancana.

Dikisahkan, saat berlangsungnya perang Bubat, Wastukancana masih berumur 9 tahun. Ayah dan kakak Wastukancana, Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka, gugur di medan Bubat. Wastukancana naik tahta saat umurnya 23 tahun. Ia memegang singgasana Pajajaran selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari.

Sebelum dinamakan Jalan Wastukancana, pada  jaman kolonial  jalan ini dikenal dengan nama Engelbert Van Bevervoordeweg. Dalam catatan sejarah, Kapten Engelbert van Bevervoorde adalah pelopor dunia penebangan militer Belanda. Ia meninggal dunia pada tahun 1918 setelah pesawat Glenn Martin yang dikemudikannya jatuh di Bandara Sukamiskin .

Untuk mengenang jasanya, pemerintah Belanda sempat membuat patung dirinya pada tahun 1920. Waktu itu ,patung tersebut diletakkan di sebuah tikungan jalan yang sekarang Jalan Wastukancana. Namun setelah Indonesia merdeka, patung tersebut menjadi penghuni Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda.

Terlepas dari itu semua, keberadaan Jalan Wastukancana memang tak dapat dipisahkan dari sejarah Kota Bandung.  Jalan yang dapat dikatakan sebagai urat nadi perekonomian di Kota Kembang ini, sejatinya menjadi ciri  bagi pertumbuhan dan perkembangan  Kota Bandung ,apalagi di Jalan Wastukancana saat ini terdapat kantor pusat pemerintahan Kota Bandung . Untuk mengenang jasanya, pemerintah Belanda membuat patung dirinya pada tahun 1920. Patung tersebut diletakkan di sebuah tikungan jalan yang sekarang adalah Jalan Wastukencana. Jalan Siliwangi , semula  jalan ini bernama Dr. De Greerweg. Kata Siliwangi diambil dari seorang tokoh mitologis dan legendaris dalam satra dan sejarah Sunda, Prabu Siliwangi , raja Pajajaran yang terkenal karena kepemimpinannya dapat menjadikan masyarakat Pajajaran sejahtera, adil dan makmur. Pemberian nama Siliwangi dilakukan untuk mengenang tokoh legendaris.

Pejuang bangsa

Nama jalan di Kota Bandung banyak  terkait dengan nama pejuang bangsa Indonesia . Seperti,  Jalan Dr. Setia Budi, nama aslinya Douwes Dekker, seorang keturunan Belanda yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia di zaman penjajahan. Kemudian Mohammad Toha  yang meledakkan gudang mesiu Belanda di Dayeuhkolot. Walau sejauh ini Mohammad Toha belum diakui sebagai pahlawan oleh pemerintah . Di komplek perkantoran Pemda Kabupaten Bandung di Soreang , nama Mohammad Toha  dijadikan nama sebuah kantor . Kemudian nama Jalan Jenderal Ibrahim Adjie , mantan Pangdam Siliwangi (? – 1999). Saat menjadi Pangdam Siliwangi , pasukan Siliwangi berhasil menangkap SM Kartosuwiryo , Jalan Soekarno-Hatta  , mulai  dari perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Elang di sebelah barat sampai ke Cibiru (batas Kota Bandung sebelah timur). Jalan Lembong , nama yang didekasikan untuk  Letnan Kolonel Lembong yang gugur dibunuh pasukan Westerling.

Jalan Wastukencana  ,pada zaman penjajahan dinamai Engelbert van Bevervoordeweg (perwira penerbang tentara Belanda) kelahiran Makassar  26 Juni 1881  , 18 September 1918 tewas dalam kecelakaan pesawat terbang di lapangan terbang Sukamiskin Bandung (kini SOR Arcamanik-red) . Bandara Sukamiskin menjadi lapangan terbang pertama di Bandung dan pada tahun 1925 dipindahkan ke Andir , sekarang bernama Bandara Husein Sastranegara.  Dr. Abdul Rivai , sewaktu belajar di Eropah, ia sebagai orang Indonesia pertama yang meraih gelar dokter dari Belanda dan yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Belanda , selain turut membantu sejumlah surat kabar di tanah air. Pada tahun 1974 , dr Abdul Rivai mendapat gelar Perintis Pers Indonesia. (B-003/BBS) ***