Didesak Perumahan Sungai Semakin Sempit

72

   PADA  musim penghujan tahun ini, Kota Bandung kembali didera banjir dan longsor. Secara topografis, Kota Bandung berada di tepi cekungan Bandung. Secara logika, air dari utara ke selatan akan menghalir sangat lancar dan bahkan deras. Artinya wilayah kota, tidak akan terendam air hujan. Semua sungai dan anak-anak sungai, mengalir dari utara ke selatan kemudian bermuara di Sungai Citarum.

   Dalam sejarah, Sungai Cikapundung, sebagai sungai terbesar Kota Bandung tidak pernah banjir. Baru pada awal Perang Kemerdekaan, Cikapundung banjir merendam daerah Babakan Ciamis hingga viaduk.  Konon ada faktor kesengajaan agar banjir itu terjadi sebagai titik awal perlawanan warga Bandung terhadap penjajah. Entahlah. Tapi yang pasti Kota Bandung merupakan kota yang aman dari terjangan banjir.

    Hanya beberapa titik saja yang kadang mengalami genangan, antara lain daerah Ciateul sampai Ancol karena terletak pada tiklungan  sungai dan merupakan daerah bertanah rendah. Kemudian Cicadas bagian timur. Daerah itu tidak lagi terserang banjir sebagai dampak dari pelurusan dan pelebaran Sungai Cidurian. Pada tahun 50-an pernah ada gerakan pelurusan Sungai Cidurian dikerjakan secara padat karya. Daerah yang agak parah terkena banjir lainnya, daerah Babakan Ciparay hingga Ce Tarip. Namun hanya berupa genangan cileuncang ditambah luapan selokan di tepi jalan.

   Sekarang, Kota Bandung hampir selalu dilanda banjir setiap musim hujan. Banjir yang terjadi bukan hanya genangan cileuncang di beberpa daerah terjadi banjir bandang yang cukup dahsyat. Daerah Terusan Pasteur dan  Pagarsih menjadi pelanggan utama banjir bandang. Daerah itu dulu, tidak pernah mengalami genangan sama sekali. Daerah Terusan Pasteur merupakan  dataran tinggi. Dulu ketika belum ada Jalan Tol Terusan Pasteur daerah yang dikenal dengan nama Astana Eyang, Cibarengkok, Cibeureum, Sukaraja, Cijeruk, dan Cipedes, merupakan hutan dan kebun. Jalan menuju ke sana dari  Sukajadi melalui jalan setapak yang menanjak. Sungai Citepus dan Cikakak merupakan sungai lumayan lebar yang berair jernih.

   Sejak keamanan di beberapa daerah seputar Bandung terganggu, sangat banyak warga dari Garut, Tasikmalaya, dan sekitarnya yang mengungsi ke kota, diikuti gelombang urbanisasi yang semakin tidak terkendali. Kota Bandung menjadi pusat penampungan penduduk dari semua daerah di Jawa Barat, terutama dari daerah timur dan selatan. Jadilah Bandung sebagai kota yang heurin ku tangtung . Sejak itu pulalah pembangunan perumahan, khususnya perumahan kumuh berkembang sangat pesat. Semua tanah kosong milik pemerintah, termasuk bantaran sungai, diserbu warga baru. Mereka mendirikan bangunan yang tidak beraturan sama sekali. Behimpitan di semua pinggir kali. Semua anak sungai  menyempit, di kedua sisinya, penuh dengan bangunan. Semua kirmir atau tembok penahan tanah yang dibuat pemerintah, digunakan sebagai fondasi rumah.

    Akibat desakan perumahan itu, aliran sungai menjadi tidak lancar. Sungai Cikapundung dari Pangarang hingga batas kota di selatan, makin terdesak perumahan, Semua anak sungai berubah menjadi perkampungan. Begitu pula Sungai Citarum, induk semua sungai di Bandung,menyempit didesak pabrik dan permukiman. Pemerinath Kota Bandung tidak dapat berbuat banyak. Pemkot harus berhadapan dengan keadaan masyarakat yang terbebani ketidakberdayaan ekonomi, harus berdesakan di tepi sungai. Pemkot tidak mungkin melakukan tindakan drastis karena harus berbenturan dengan masalah yang sangat dilematis. Semua undang-undang dan peraturan tentang pembangunan permukiman, tidak lagi dapat digunakan pemerintah sebagai senjata dalam upaya penertiban.

    Pemkot dalam hal ini Dinas PU,meminta semua rumah di tepi sungai mundur sedikitnya tiga meter dari kirmir sungai. Kebijakan itu menjadi tidak populer di mata penghuni perumahan kumuh. Jangankan harus mundur tiga meter, setengah meter saja mereka berkeberatan. Masalabnya rumah yang mereka huni banyak yang berukuran hanya 2 x 4 meter. Metreka tetap bertahan meskipun banyak di antaranya menjadi korban banjir dan tanah longsor.

    Seperti dikatakan Walikota Bandung, Oded M.Danial, Pemkot harus terlebih dulu membangun rumah susun. Setelah selasai baru menggiring warga tepi sungai pindah ke rusun itu. Perumahan yang mereka tinggalkan segera dibersihkan. Penataan baru akan terlaksana sesuai aturan.

    Masalahnya, kapan rusun itu dibangun dan di mana? Pertanyaan berikutnya, maukah rakyat yang tinggal di bantaran sungai pindah ke rusun? Masalah itu akan terus menjadi problem kota di semua kota di Indonesia, bukan hanya di Bandung.***