Samuel Setiadi, BSc. Jembatan Untuk Para Pelaku Usaha

57

Samuel Setiadi, BSc.,  kelahiran 1 Oktober 1981,  yang juga suami dari Irene Wangsajaya (37) ini,  kini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung Barat.  Ayah dari Kayla Gracia (10) dan Kent Jacques (6) itu menuturkan bahwa, ia masuk dalam kepengurusan Perhimpunan Hotel dan Restoran Kabupaten Bandung Barat sejak tahun 2014.  Awalnya  ia menjabat sebagai Wakil Ketua PHRI,  dan sejak Januari 2018 ia diangkat sebagai Ketua PHRI.   Samuel Setiadi juga merupakan salah satu pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia KBB.

Samuel mengaku bahwa, alasan ia mau bergabung dengan PHRI adalah,  karena ia melihat potensi PHRI yang bisa memajukan pariwisata KBB, dan bisa menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan pemerintah,  sehingga bisa bersinergi  dengan lebih baik.

“Saya tertarik menjadi pengurus,  karena dengan menjadi pengurus,  saya bisa menambah teman yang sama-sama terlibat di bisnis hotel, resto maupun obyek wisata di KBB.   Serta bisa saling bantu untuk berkoordinasi dengan pihak pemerintah,  atau saling bertukar pikiran tentang bagaimana mengembangkan bisnis,” ujar Samuel menjelaskan.

Pria yang memiliki latar belakang pendidikan computer science di Australia itu menyebutkan bahwa,  anggota PHRI KBB saat  ini tercatat sebanyak 31 perusahaan.  Selama terlibat di kepengurusan,  Samuel memperoleh data bahwa peta usaha di KBB sangat heterogen, tidak hanya hotel / resto,  melainkan banyak jenis usaha lain seperti,  wisata edukasi, perkebunan teh / kopi / sayuran, curug, outbond,  serta kegiatan luar ruangan,  juga pabrik makanan,  susu dan sebagainya.   Usaha ekonomi kreatif juga banyak, seperti komunitas film maupun bidang kesenian.   Dengan menjadi pengurus PHRI KBB, Samuel Setiadi mempunyai akses lebih untuk terlibat di setiap kegiatan,  khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan potensi wisata KBB.

Diceritakan pula oleh Samuel bahwa,  keterlibatannya dalam mengurus organisasi,  tidak lepas dari pengalaman yang menggelitik hati.  Pernah suatu ketika,  dirinya membantu sosialisasi bea materai dari Ditjen Pajak,  namun efeknya malah ia oleh PHRI KBB dianggap membebani pengusaha secara materi,  padahal dasar hukum berupa UU dari Kepmenkeu sudah ada sejak belasan tahun lalu,  yakni tentang bukti penerimaan uang harus sesuai dengan nominalnya.

Samuel juga mengungkapkan bahwa,  untuk pengurusan ijin usaha hotel / resto  perlu mendapat surat rekomendasi dari PHRI KBB.   Kalau PHRI KBB tidak memberi rekomendasi,  maka itu bukan berarti untuk mempersulit pemodal yang akan berinvestasi di KBB, tapi dalam hal ini tujuannya adalah,  hanya untuk memonitor serta membantu supaya bisa terkendali,  sehingga pengembangan usaha hotel / resto akan merata secara demografis. ”Karena kalau overload,  dampaknya akan menghambat pertumbuhan usaha itu sendiri,” ungkap Samuel.

Penganut motto hidup “Think big, start small, act now” ini mengklaim bahwa, ia akan terus berkiprah di PHRI KBB, selama ia masih bisa berkontribusi, dan tetap mendapat support dari anggota lainnya.   Berorganisisasi itu penting,  karena akan mendapat banyak teman.   Pelaku bisnis idealnya memiliki wadah / organisasi,  supaya bisa bertukar info dan maju bersama. “Kalau anak-anak saya mau dan  merasa nyaman bergerak dalam bidang yang sama,  maka saya tidak akan menghalanginya, silahkan saja.   Nilai-nilai dasar ditetapkan di rumah,  dan orang tua adalah fasilitator awal, bukan di sekolah.   Dengan mengirim anak ke sekolah, berarti anak akan terekspos dan dipengaruhi oleh kebudayaan keluarga lain,  yang mungkin saja tidak sepaham dengan kebudayaan keluarga sendiri,” tutur Samuel mengenai pendidikan anaknya.

Di bawah kepengurusan Samuel Setiadi,  program kerja PHRI KBB yang sudah bergulir di antaranya adalah,  mendirikan Balai Pelatihan Kerja,  yakni Balai Pelatihan PHRI KBB yang kurikulumnya telah disesuaikan dengan lapangan kerja, agar siswa yang lulus sudah siap bekerja.   PHRI KBB saat ini juga sedang melakukan komunikasi secara intens tentang kemungkinan kerjasama  dengan dua SMK di KBB,  agar PHRI KBB bisa memberikan mata pelajaran tentang perhotelan / resto selama dua sampai empat jam dalam seminggu bagi para siswanya.   Kurikulumnya sendiri sedang dalam proses pembahasan.

( E-018)***