Anggota Aprindo Targetkan Omzet Penjualan Naik 20%

64

BISNIS BANDUNG – Sekertaris  Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Jawa Barat, H.Hendarta SH, MM mengatakan, ketersediaan pangan dan produk sandang untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru 2019 oleh para riteler  anggota Aprindo di Jawa Barat dijadikan momentum untuk menaikan omzet penjualan dari bulan sebelumnya, setelah “masa panen” pada bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri 2018 lalu.

            Dikemukakan Hendarta , pada akhir tahun konsumen membeli kebutuhan pangan untuk menyambut dan merayakan malam pergantian tahun, demikian pula dengan produk sandang (pakaian) dimanfaatkan oleh department store dan toko  pakaian untuk melakukan promosi dengan penawaran yang menarik, ada ‘great sale’, discount besar-besaran dengan berbagai gimick dan acara, biasanya beberapa mall mengadakan ‘midnight sale, late night sale’ dan sebagainya. Dengan demikian para riteler mempersiapkan sedemikian rupa ketersediaan produk kebutuhan menjelang libur panjang hari besar keagamaan nasional .

            Menurut Hendarta ,  produk kebutuhan pokok masyarakat cukup aman. Setiap tahun instansi terkait mengadakan rapat koordinasi  dan melihat langsung ke pasar, mendengar dari pelaku usaha mengenai kesiapan dan ketersediaan pangan dengan harapan tidak terjadi lonjakan harga. Di tahun 2018 pemerintah boleh dibilang berhasil melakukan stabilisasi produk/barang penting dan strategis , seperti beras, gula, minyak goreng dan daging sapi dengan penetapan HET (harga eceran tertinggi).

            Mengenai harga komoditas diakui Hendarta , masih mengalami fluktuasi harga misalnya, daging ayam dan telur ayam terkait dengan ketergantungan pakan impor. Demikian halnya dengan produk hasil pertanian yang sangat dipengaruhi oleh cuaca,  curah hujan tinggi, gagal panen, hambatan distribusi (banjir, putus jalan/jembatan dan sebagainya) sangat mempengaruhi ketersediaan/pasokan dan harga komoditas di pasar. Kenaikan harga daging dan telur ayam terus berfluktuasi sejak bulan Ramadhan dan Lebaran , menjelang hari besar kembali mengalami kenaikan harga dengan tingkat konsumsi yang meningkat. “Kenaikan harga dapat dianggap wajar untuk komoditas tersebut, antara 10 % -20 % . Jika lebih dari itu, pemerintah akan melakukan operasi pasar dengan menggelar produk yang dibutuhkan masyarakat ,” ungkap Hendarta bru-baru ini di Bandung.

            Sejak awal bulan Desember 2018, khususnya Departement Store sudah menggelar beragam acara menarik untuk menarik konsumen dengan memberi potongan harga , mulai dari 10%, 20% , bahkan sampai 50% untuk produk pakaian, sepatu dan sebagainya. Para riteler ingin menutup tahun 2018 dengan mengejar ketertinggalan penjualan sepanjang 2018 dengan menaikan angka penjualan sampai 20% dari penjualan biasanya. “Memang enggak gampang, tapi anggota Aprindo melakukan segala aktivitas promosi untuk menarik konsumen guna meningkatkan omzet penjualan. Pada tahun 2017 lalu , para riteler secara umum nggak begitu menggembirakan penjualannya,” tutur Hendarta.

            Dikatakan, target penjualan, menjadi pekerjaan rumah dari penanggung jawab operasional untuk mencapainya melalui kegiatan promo akhir tahun dan sebagainya, seperti di Kota Bandung yang menjadi destinasi liburan masyarakat dari kota-kota lain di Indonesia , yang diharapkan bisa meningkatkan penjualan sampai 20% bisa tercapai, apabila pandai membaca dan mengemas acara di tempat berjualan. Pada momen Natal dan Tahun baru biasanya para pekerja atau profesional mendapat bonus akhir tahun, diharapkan membelanjakan uangnya untuk membeli kebutuhannya. Mengenai daya beli masyarakat saat ini cukup beragam. Dari segmen kelas atas, menengah dan bawah jumlahnya sangat besar ini (>265 juta rupiah). Dengan pendapatan/GDP di atas US $ 4000/ tahun , mereka punya daya beli yang akan dibelanjakannya.

            Puncak penjualan momen Natal dan Tahun Baru 2019 diprediksi Hendarta akan terjadi  menjelang tutup dan pergantian tahun. Sedangkan mengenai pengawasan barang kadaluwarsa dan kelayakan secara rutin diawasi instansi terkait yang terjun langsung ke   lapangan. “Mengenai persaingan antara sesama peritel, adalah hal yang biasa, setiap saat satu sama lain saling intip ,” pungkas Hendarta. (E-018)***