Harga Pangan Stabil Stok Beras Jabar Cukup

59

HARGA beras sampai Februari 2019 stabil selama tidak ada hambatan dalam distribusi dan pasokan. Karena itu tidak ada alasan harga beras naik pada akhir tahun 2018  ini. Hal itu dikemukanan Kepala Perum Bulog  Divre Jabar Ahmad Makmun di Bandung. ”Bulog Divre Jabar memiliki stok 234.000 ton. Sebanyak 200.000 ton di antaranya beras medium dan sisanya beras premium,” kata Ahnmad Makmun, seperti dimuat PR 24/12.

       Menurut Bulog, stok beras aman hingga musim panen selanjutnya. Stok ketahanan beras Bulog Drive Jabar cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 16 bulan. Menjelang hari raya keagamaan, yang biasanya ditandai dengan kenaikan harga bahan pangan pokok di pasar, melihat optimisme Bulog, hal itu tidak akan terjadi. Kalaupun ada kenaikan,  terbatas pada beberapa jenis bahan makanan seperti daging dan telur  ayam.

     Pernyataan stok beras aman dan tidak mungkin ada kenaikan harga, hampir selalu kita dengar setiap mengahadapi kenaikan kebutuhan masyarakat akan beras dan bahan pangan lainnya. Menjelang Puasa, Lebaran, Natal,Tahun Baru, artikulasi seperti itu selalu kita dengar, khusunya dari Perum Bulog.berkaitan dengan ketersediaan beras. Tujuannya amat jelas, agar masyarakat tidak resah, pasar tidak bergejolak, pedagang beras tenang. Meskipun demikian, pada kenyataannya, setiap menjelang hari-hari raya keagamaan,harga kebutuhan pokok selalu merangkak naik. Seolah-olah hari-hari itu merupakan momentum bagi para bandar dan pedagang mendapat keuntungan lebih dibanding hari biasa. Hal itu memaksa Bulog melakukan operasi pasar pangan  (OPP)

       OPP merupakan injeksi beras untuk masyarakat yang  merasa resah akibat harga beras dan pangan lainnya naik. OPP tidak perlu dilakukan apabila harga stabil. Pertanyaannya, apakah stok beras yang ada di gudang Bulog itu sebagai jaminan semata? Kalau itu yang dilakukan, harga beras dan pangan lainnya di pasar akan terus bergerak naik karena faktor ”marema”. Lain halnyua apabila stok itu dilempar ke pasar sebagai penekan harga. Dipastikan harga akan stabil bahkan turun. Namun pemerintah dalam hal ini Bulog, diharapkan tidak hanya memikirkan konsumen tetapi juga petani dan pedagang.

      Para petani dan pedagang selalu menunggu musim ”marema” seperti menjelang hari raya keagamaan. Hari-hari itu meupakan masa yang dapat mendongkrak kehidupan mereka. Selain harganya yang meningkat, jumlah beras yang terjual juga cukup banyak. Sekarang para pertani merasa seolah-olah termarjinalkan (menutut isilah Entang Sastraatmadja). Petani tidak dilibatkan dalam penyusunan RPJMD Jabar. Dengan RPJMD sekarang, seolah-olah petani tidak mendapat perlindungan dan pembelaan.

     Gubenur Jabar, Ridwan Kamil, pada rancangan garapan awalnya justru berniat mengangkat kehidupan para petani.Gubernjur menetapkan slogan ”Petani Jabar Juara”. Pemprov berharap para petani mempunyai semangat dalam melaksanakan pertaniannya. Peningkatan produktivitas dipompa dengan penyediaan semua kebutuhan petani dalam menggarap lahan pertaniannya. Para petani pemilik lahan tidak lagi terghiur dengan iming-iming para pemodal. Para petani tidak akan melakukan alih fungsi lahan.

     Kita berharap, ”Petanui Jabar Juara” itu bukan sekadar slogan tetapi dibarengi dengan langkah-langkah konkret meningkatkan penerimaan para petani, produktivitas dan mutu hasil pertanian, ketersediaan pupuk, bibit, dan saprotan lainnya terjamin.Pemprov harus melaklukan survey tentang luas lahan, produktivitas tanaman, pemeliharaan hasil pascapanen, jaminan pasar, dan keadaan penunjang pertanian seperti pasokan air, saluran irigasi sampai ke saluran kuarter serta saluran pembuangan (avur).

     Dengan data yang akurat, Pemprov dapat melakukan langkah perbaikan yang tepat  Ketika musim panen tiba. Pemprov sudah memiliki data lengkap berapa produksi padi dan berapa kebutuhan masyarakat akan beras. Kekeliruanm data jangan sampai terjadi lagi seperti yang pernah kita alami tahun-tahun lalu. Diprediksi hasil panen akan meilmpah, melampaui kebutuhan. Tetapi pada kenyataannya, kita masih harus mengimpor beras karena stok ternyata kurang.

    Mudah-mudahan ”Petani Jabar Juara” menjadi kenyataan dan bukan hanya yargon sloganistis saja.(Furkon) ***