Menyongsong Alam Terang

42

    TINGGAL menghitung hari, kita akan sampai ke akhir perjalanan tahun 2018 dan akan masuk  ke Tahun Baru 2019. Kita semua akan meninggalkan masa-masa gelap tahun lama. Tahun yang penuh dengan ingar bingar politik, tahun yang ditandai dengan bertubinya musibah, baik musibah alam, perubahan iklim, maraknya tindak korupsi, maupun musibah politik.

Pada tahun yang sebentar lagi kita tinggalkan kita mengalami berbagai kekerasan akibat perbedaan pandangan politik, perbedaan paham keagamaan, perbedaan suku, agama, ras, pertentangan antargolongan.

     Banyak  rakyat yang dengan nada kesal, menginginkan pemilihan umum tahun 2019 segera dilaksanakan. Percepatan pemilu merupakan obat pencahar dari mampetnya pola demokrasi kita. Demokrasi yang berjalan sejak Reformasi, menimbulkan berbagai pertentangan yang nyaris tanpa ujung. Pemilihan Presiden 2019 yang digadang-gadang sebagai pesta demokrasi yang menyegarkan, penuh kegembiraan, saling rangkul semua kandidat dan para pendukungnya demi kepentingan rakyat, pada kenyataannya justru menambah lebarnya jurang pemisah antarpendukung kandidat.

     Dukungan para elit politik terhadap salah satu kandidat bukan didasarkan kepada idiologi politik tetapi pada kepentingan sesaat, kepentingan  pribadi dan golongan. Para elit politik tidak melihat masa depan bangsa dan negara ini pasca-pemilu. Yang dibayangkan para elit politik hanyalah kedudukan, baik di eksekutif sebagai balas jasa kandidat terpilih maupun di legislatif karena elektabilitas partai  kandidat yang didukungnya naik. Untuk mengejar kepentingan itu, para elit politik melakukan berbagai cara, khususnya dalam kampanye.

     Masyarakat melihat dan merasakan, kampanye pemilu presiden sekarang ini, penuh dengan intrik, pertentangan, kekerasan. Kampanye yang bersifat provokatif yang dilakukan para elit politik, penuh caci maki, tudingan, fitnah, kebohongan,. Semuanya disampaikan dengan narasi yang jauh dari budaya Timur, halus, sopan santun, dan saling menghargai. Bangsa kita seolah-olah sudah berubah menjadi bangsa yang berasal dari negara para raksasa. Semuanya menyebut hal itu sebagai bagian dari demokrasi. Padahal mereka sudah tidak paham lagi apa sebenarnya makna  demokrasi itu.

     Masa kiampanye yang sudah berjalan tiga bulan, terasa sangat panjang dan melelahkan. Padahal masa kampanye itu masih ada sisa waktu 3,5 bulan lagi. Kita dipaksa duduk menonton pertunjukan yang sangat membosankan. Pada awalnya masyarakat antusias akan menyaksikan kampanye yang elegan, sebuah pertunjukan yang mengandung nilai-nilai seni yang harmonis, menyentuh nurani dan rasa keindahan. Yang akan kita tonton merupakan pergelaran musik yang suasana musikalnya tinggi. Nada yang berasal dari berbagai instrumen yang berbeda-beda, dengan aransemen yang harmonis, dengan kondukter yang piawai, menjadi pergelaran musik yang menggugah perasaan semua penikmatnya apapun gendre musik itu. Irama dan biramanya menyatu dan saling mendukung.

     Kita tidak ingin tersandera dalam kegaduhan politik seperti yang kita saksikan sekarang ini. Kita ingin para pemilih masuk bilik suara dengan senyum penuh makna. Kita akan keluar bilik suara dengan penuh kegembiraan. Siapa yang menang siapa yang kalah bukan masalah lagi karena kedua-duanya punya tujuan yang sama demi keutuhan NKRI dan kesejahteraan bangsa ini. Semuanya tengah menyongsong alam terang pada Tahun Baru 2019. Semoga. ***