Peringatan Bencana itu Sudah Ada secara Historis

95

   AKHIR Tahun 2018 ditandai dengan berbagai bencana. Bencana besar terjadi gempa di Lombok, disusul gempa di Sulawesi Tengah (Palu). Menjelang akhir tahun, wilayah Banten dan Lampung kembali dilanda tsunami. Korban nyawa mendekati angka 500, sedangkan kergian materi berupa bangunan komersial, rumah penduduk, fasilitas umum, entah berapa. Pemerintah masih mendatanya. Bencana ”kecil” seperti gunung meletus, banjir bandang, dan sebagainya amat sering terjadi serta meninmbulkan korban jiwa dan harta benda.

    Musibah  yang tergolong besar, meletusnya Gunung Agung di Bali, Gunung Soputan, Gempa tektonik di Lombok, gempa tektonik di Palu, dan terakhir tsunami Selat Sunda di Banten. Bencana tsrunami Selat Sunda itu terjadi sangat mendadak. Aparat pemerintah, termasuk Badan Meteorologi,  Klimatologi, dan Geifisika (BMKG), dan masyarakat di sepanjang pantai itu sama sekali tidak mengira akan datang tsunami. Karena itu korban tsunami Selat Sunda cukup banyak. Sampai Rabu kemarin, korban meninggal dunia mencapai 429 orang, 1.485 luka-luka, dan 154 orang hilang. Materi, berupa hotel, rumah, gedung perkantoran, dan sarana publil, kendaraan,  belum terhitung secara pasti. Grup penolong masih fokus pada pencarian manusia yang menjadi  korban tsunami.

    Biasanya, sebelum tsunami, terjadi gempa berskala tinggi.Dari gempa ke tsunami ada jeda beberapa saat sehingga banyak warga yang berada di pantai punya kesempatan menyelamatkan diri. Seadangkan tsunami Selat Sunda, tidak memperlihatkan tanda-tanda, baik secara kasat mata maupun melalui peralatan pencatat gempa, erupsi gunung berapi, gelombang pasang, atau rob.

     Sebenarnya peringatan itu sudah ada namun kita tidak memperhatikan tanda-tanda itu. Sejak beberapa bulan ini Gunung Anak Krakatau lebih aktif, Terjadi beberapa kali erupsi dan longsor.  Karena letusan gunung itu tidak terlalu besar, pengamat gunung berapi merasa tidak terlalu perlu memberi peringatan kepada warga. Padahal, erupsi yang terus menerus disusul dengan longsor sebagian badan gunung itu merupakan isyarat, bisa terjadi tsunami. Tanda lainnya, setiap bulan purnama, laut sering kali pasang dengan gelombang tinggi.

     Selain peringatan-peringatan  itu secara historis, kawasan Banten dan Lampung sering kali dilanda tsunami setiap kali Gunung Krakatau meletus. Hal itu terjadi sejak tahun 400-an. Letusan paling dahsyat terjadi pada tahun 1883. Letusan Gunung Krakatau terdengar sampai Jakarta dan sekitarnya. Gunung yang tinggi itu rata dengan tanah akibat erupsi sangat dahsyat. Akibat lainnya, letusan itu mampu memisahkan P.Simatera dan P. Jawa, menimbulkan bongkaha-bongkahan yang kemudian menjadi pulau-pilai kecil di sekitarnya. Akibat paling hebat terjadinya tsunami dengan tinggi gelombang sampai 20 meter. Korban jiwa mencapai 36 ribu lebih. Gelombang pasang konon sampai ke Amerika. Disusul dengan letusan-letusan berikutnya yang juga meninmbulkan tsunami dengan ukuran yang lebih kecil. Erupsi di bawah laut masih terus terjadi sehingga menumbuhkan gunung baru yang kita kenal dengan nama Anak Krakatau.

       Waktu itu penduduk daerah itu masih sangat sedikit tetapi yang menjadi korban sampai puluhan ribu. Hal itu terjadi karena dampak tsunami yang sangat luas. Peristiwa-peristiwa itu merupakan peringatan, tsunami bisa terjadi kapan saja sebagai akibat erupsi Anak Krakatau. Menurut Pemantau Vulkanologi, Anak Krakatau  masih merupakan gunung api yang aktif bahkan superaktif. Serwaktu-waktu bisa erupsi. Karena gunung itu berada di tengah Selat Sunda, dipastikan letusannya berpengaruh terhadap laut di sekitarnya. Apalagi kalau badan gunung mengalami longsor. Kemungkinan besar tsunami akan terjadi.

       Artinya, peringatan atau tanda-tanda akan terjadinya tsunami sudah ada sejak Krakatau masih sebagai gunung purba. Secara regulasi juga sebetulnya sudah ada peringatan awal dari Pemkab Pandeglang, tahun 70-an Bupati Pandeglang meminta lahan di tepi pantai di sebrabng jalan Serang-Pandeglang, tidak dijadikan lahan terbangun. Tidak bol;eh ada kios apa lagi bangunan berupa villa atau hotel. Namun bupati tidak dapat berbuat banyak karena yang mendirikann bangunan di tepi pantai itu kebanyakan datang dari pusat.

       Tampaknya, sekarang imbauan Bupati Pandeglang itu sebaiknya dilaksanakan. Bebaskan kawasan pantai barat Banten (Serang, Anyer, Carita, Karang Bolong, Tanjung Lesung, Labuhan, sampai Panimbang, dikosongkan. Jadikan kawasan itu sebagai arena pariwisata pantai, sedangkanm fasilitas pariwisata dibangun di bibir bukit sebrang kiri jalan dari arah Serang.

        Sebaiknya kita tidak mengabaikan kemungkinan terjadinya tsunami sepanjang Anak Krakatau masih mengeluarkan lava dan pijaran-pijaran api. ***