Konsumsi Kopi Nasional Semakin Bertambah

33

MAKANAN menjadi salah satu subsektor ekonomi kreatif yang masuk 3 besar penyumbang PDB terbesar. Kopi yang menjadi salah satu instrumen di dalamnya juga diharapkan terus bertumbuh melihat makin menjamurnya bisnis kopi di Indonesia.

Eko Purnomo Widi, perwakilan petani dalam acara peluncuran Buku Kopi Indonesian Coffee Craft & Culture menyebutkan bahwa sejak 2010 mulai marak munculnya kedai kopi membuat konsumsi kopi di Indonesia meningkat. “Sejak 2010 dengan anak-anak muda bergerak di industri kreatif ini, membuat konsumi kopiĀ  tambah dari 4 juta goni per tahun menjadi 4,6 juta goni di 2017,” ujarnya.

Sedangkan dalam setahun, produksi kopi di Indonesia mencapai 11 juta goni. Dari produksi tersebut 4 juta goni selalu diproyeksikan untuk konsumsi lokal dan sisanya di ekspor. Maka dengan peningkatan konsumsi nasional, ekspor kopi menurun menjadi 6,4 juta goni dari sebelumnya 7 juta goni. Adapun 1 goni berisikan sebanyak 60 kilogram.

Konsumsi lokal diprediksi akan terus meningkat. Pada 2030, Indonesia diproyeksikan memiliki penambahan penduduk sebanyak 63 juta penduduk baru. Menurutnya dari penambahan tersebut dan tiap pribadi mengonsumsi 1 kilogram per tahun, maka dalam setahun akan bertambah 63 juta kilogram. Eko bilang bahwa untuk mengatasi hal tersebut diperlukannya edukasi.

Melihat hal tersebut pula Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melihat potensi bisnis usaha kopi akan terus meledak. Triawan Munaf, Kepada Bekraf menyebutkan bahwa saat ini banyak orang yang mau berkecimpung dalam dunia kopi.

“Anak muda semakin tertarik dengan dunia perkopian. Saya sempat ke Jakarta Coffee Week di PIK dan di sana saya mengetahui 80% pengunjung yang mana anak muda bahkan belum menggenal kopi,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya akhir-akhir ini munculnya generasi baru petani, enterpreneur, dan profesional yang memperlakuan kopi lebih dari sekedar komoditas ekspor. Generasi baru tersebut terinspirasi dari tren kopi gelombang ketiga yang terjadi di Amerika Serikat, Jepang, dan negara maju lainnya, menjadikan kopi sebagai media untuk berkreasi.

Senada, Eko juga menyetujui pernyataan tersebut. “Industri kopi paling kreatif karena tiap toko kopi memiliki style rosting masing-masing. Makanya tak heran yang bekerja orang yang dekat dengan budaya dan kesenian,” pungkasnya. (C-003/BBS)***