Penyokong Industri Pariwisata Cable Car Dipersiapkan Beroperasi di Lembang

70

 BISNIS BANDUNG – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung Barat mendukung rencana pembangunan kereta gantung beroperasi di destinasi wisata Lembang. Keberadaan kereta gantung akan mendongkrak  kunjungan wisata, selain bisa menyerap tenaga kerja.

 ”Projek tersebut agar benar – benar direalisasikan tidak hanya sebatas wacana,” ungkap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)  Kabupaten Bandung Barat Samuel Setiadi Bsc. Dikemukakan Samuel, PHRI Kabupaten Bandung Barat mendukung penuh rencana pembangunan kereta gantung, karena signifikan untuk perkembangan pariwisata di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

 Rencana tersebut mencuat setelah pemerintah KBB, melalui Badan Usaha Milik Daerah PT Perdana Multiguna Sarana  menandatangani nota kesepahaman dengan PT Aditya Dharmaputra Persada yang  ditandatangani pada 30 Oktober 2018. Pengerjaan proyek tersebut akan dilakukan PT Aditya yang berafiliasi dengan Dopplemayr, perusahaan asal Austria yang berpengalaman membangun cable car (kereta gantung) selama ratusan tahun. Jika terwujud, akan menjadi sarana transportasi publik pertama yang dibangun di Indonesia. Saat ini,lanjut Samuel,  tengah dilakukan berbagai kajian untuk menggarap proyek yang disebut-sebut bernilai triliunan rupiah . Mulai dari penentuan jalur, perizinan, hingga hal-hal teknis, seperti jumlah unit, panjang rute dan lainnya. Rute sementara yang disepakati, dari objek wisata Farmhouse-Floating Market-Maribaya-The Lodge, semua berlokasi di wilayah Kecamatan Lembang. Menurut rencana akan dibangun beberapa cable car dengan kapasitas 8 orang. Pembiayaan cable car tersebut ditanggung sepenuhnya oleh investor, sehingga tidak menggunakan APBD. Mekanisme kerja sama berupa public-private partnership, berupa bagi hasil dari hasil penjualan tiket.

 Dikemukakan Samuel, terkait rencana pembangunan kereta sebelumnya ada wacana pembangunan jalur dari UPI/Ledeng sampai Lembang, tapi belum ada kejelasan penentuan stasiunnya. Dalam pembangunan cable car,  PHRI berharap bisa dilibatkan. “Saya cable car bisa terealisasi karena wisatawan yang berwisata ke Lembang mengeluhkan kemacetan yang sepertinya sulit diatasi, “ujar Samuel, baru-baru ini.

Keberadaan cable car, diproyeksikan mampu meningkatkan angka kunjungan wisatawan, karena akses ke obyek wisata akan lebih mudah, baik dari segi waktu maupun jarak. Dari 7 – 8 hotel yang secara reguler memberikan konfirmasi okupansi ke PHRI KBB, tingkat hunian Januari sampai dengan  Oktober 2018 tidak sampai 50%, hanya sekitar 40-45%. Saat ini kunjungan wisman ke Lembang sekira 4%, domestik 96%. PHRI berharap jika keberadaan cable car terwujud, agar dikelola dengan baik, termasuk masalah maintenance, jadwal keberangkatan yang tepat waktu serta harga tiket yang terjangkau, sehingga bisa menjadi alternatif  alat transportasi yang menuju ke Lembang.

Untuk pengelola, bisa  oleh BUMD atau swasta dengan sistem bagi hasil. Di samping itu, PHRI KBB juga sedang mengkaji mengembangkan destinasi budaya dengan waktu pertunjukkan pada sore atau malam hari (misal pertunjukkan seni tari yang bercerita tentang Tangkuban Parahu, pertunjukkan wayang golek, pertunjukkan Angklung Saung Udjo). ”Pertunjukan seni budaya pada malam hari, agar Lembang tidak hanya dikunjungi pada siang hari saja tapi juga pada malam hari dengan harapan agar wisatawan bermalam di Lembang,”ujar Samuel. (E-018)***