Bety Nuraety, A.Md, Mempertahankan Usaha dan Resep Leluhur

67

Lahir di Bandung 8 Oktober 1972, Bety Nuraety, A.Md, adalah anak dari keluarga H. Abdul Radjak (85). Ia merupakan generasi ketiga dari pengusaha “Colenak Murdi Putra 3”.  Colenak merupakan salah satu kuliner di Kota Bandung dan berbahan baku tape singkong (peuyeum sampe-red) bakar yang diberi pemanis ”kinca” gula aren cair dengan varian citarasa.

Colenak Murdi, tidak hanya populer dan disukai warga lokal, tapi juga disukai turis mancanegara yang datang ke Kota Bandung. Beberapa penghargaan yang sudah diraihnya, di antaranya adalah, penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia, juga dari Pemerintah Kota Bandung (Culinary Creative & Innovative), serta Piagam Rekor Indonesia Award.

            Istri dari Ade Hadiyanto,SE.,(36) ini mengutarakan bahwa, dirinya lebih fokus menekuni usaha kuliner “Colenak Murdi Putra 3”, setelah suaminya berhenti bekerja sekitar tahun 2010 lalu.  Sebelumnya, Bety Nuraety adalah karyawan dari sebuah bank. Ia mengakui bahwa, untuk membangun usaha kuliner colenak membutuhkan modal awal yang cukup besar, terutama untuk sewa tempat.

“Memang, usaha yang saya jalani saat ini sama sekali tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikan saya.  Mengelola produk usaha ini sudah dilakukan secara turun temurun, dan warisan usaha turun temurun ini patut dilestarikan,” papar Bety kepada BB di Bandung.

            Ibu dari Senia Azka Aurora (19), Sahdu Aisha Eliyanta (9), Sahda Ailsa Emilian (9) dan Rifqi Fauzi Andriawan (18) ini menjelaskan bahwa, kemampuannya dalam meracik colenak diperoleh secara turun temurun, serta ditambah inovasi dalam membuat beberapa cita rasa colenak. Colenak merupakan singkatan dari kata cocol enak.

“Murdi adalah nama kakek saya sebagai perintis usaha colenak. Sedangkan nama Putra yang tertera pada merek dagang ‘Colenak Murdi Putra’ adalah anak kakek. Angka 3 menandakan generasi ke-3 sebagai penerus usaha Colenak Murdi Putra 3,” ucap Bety

            Produk Colenak Murdi Putra 3 memiliki tiga varian rasa, yakni rasa orginal, aroma nangka dan aroma durian.  Kapasitas produksi dalam sebulan rata-rata mencapai 1.250 kilogram, yang dikerjakan oleh enam orang karyawan dengan menggunakan peralatan tradisional.

            Bety Nuraety mengaku bahwa, colenak produknya dalam sebulan bisa terjual hingga 3.500 bungkus, dengan harga variatif, mulai Rp 10.000/bungkus, Rp 15.000/besek dan Rp 50.000-Rp 100.000/kotak. Pemasaran produk colenak milik Bety mulai menggurita di kota/kabupaten Jawa Barat dan beberapa di antaranya dijual di sejumlah mini market di Kota Bandung.

“Ciri khas colenak merupakan kuliner berbahan baku singkong yang difermentasi kemudian dibakar, selanjutnya dipotong-potong dan diberi  gula merah cair serta parutan kelapa. Produk colenak tidak ada yang sama.  Keunggulan cita rasa dari colenak buatan saya adalah, dalam proses pembuatannya masih menggunakan peralatan tradisional, seperti hawu (tungku) dan arang,” ungkap Bety .

            Penganut moto hidup “selalu berpikir positif” ini menambahkan bahwa, selama menggeluti usahanya, ada beragam hal yang dirasakannya, seperti rasa bahagia ketika semua bahan baku terpenuhi, dan saat orderan bisa melebihi target. Sedangkan hal lain yang terasa membebani adalah, ketika sedang kesulitan untuk mencari bahan baku singkong.

“Agar produk colenak ini tetap berdaya saing, upaya yang saya lakukan adalah dengan tetap menjaga kualitas dan kesetiaan pelanggan. Saya berharap, pemerintah maupun pihak terkait untuk lebih memperhatikan dan memajukan produk kuliner lokal,” ujar wanita pengggemar warna biru ini kepada BB.      (E-018)***