Deteksi Kerusakan Shockbreaker Motor

89

PEREDAM kejut atau shockbreaker belakang pada sepeda motor, masuk dalam kategori komponen slow moving. Artinya masa penggunaannya jauh lebih lama, tapi bukan berarti bisa terus-menerus dipakai.

Perlu Anda diketahui, shockbreaker juga memiliki masa pakai, namun tidak ada patokan pasti berdasarkan apa, karena semua balik lagi tergantung pada pemakaian pengendara serta kondisi jalan yang sering dilalui.

”Patokan dari sisi jarak atau waktu memang tidak ada, tapi baiknya ada pengawasan sendiri. Biasanya dianjurkan pengecekan detail bila motor sudah dipakai lebih dari dua tahun, meski belum tentu rusak atau harus diganti minimal bisa mendeteksi lebih dulu,” ucap, Yongi Setiadi, dari Yong’s Motor

Menurut Yongi, dari sisi pemakaian peredam kejut belakang lebih sering bekerja ekstra, karena hampir seluruh berat motor dan pengendara bertumpu pada suspensi belakang. Karena itu, bila motor sudah cukup lama dipakai, ada baiknya pemilik mulai meluangkan waktu untuk melihat kondisi peredam kejut.

Cara mendeteksi bisa dilakukan sendiri tanpa perlu repot-repot ke bengkel. Pertama dengan melakukan pemantauan pada kondisi fisik shock belakang, fokusnya untuk melihat apakah ada rembesan oli yang menandakan kebocoran, bila ada maka dalam jangka waktu tertentu wajib diganti.

”Cara kedua langsung mengetesnya, tapi lebih baik dilakukan berboncengan. Saat melintasi jalan yang banyak polisi tidur akan terasa, apakah shock banyak goyang dan berayun atau tidak. Bila ritme ayunnya cukup banyak, bisa dipastikan bahwa hanya per-nya saja yang bekerja sementara komponen peredam lain sudah tak berfungsi,” pungkas Yong.

Yong menambahkan, jangan dikira kalau shockbreaker yang sudah diperbaiki tidak memiliki keunggulan. Keunggulan shock yang sidah diperbaiki yakni, tingkat kenyamanannya bisa diatur dengan mengatur kekentalan oli di dalam tabung. (E-002/BBS)***