Ceu Popong: ”Saya Punya Modal Sosial”

67

SIAPA tak  kenal  Popong Otje Djundjunan,  anggota DPR-RI. Ia merupakan salah satu tokoh perempuan asal  Jawa-Barat yang mengabdikan dirinya kepada publik  melalui berbagai organisasi yang dijalaninya.  Terdengar kabar, ia tidak bersedia dicalonkan kembali menjadi  wakil rakyat yang menghuni gedung kura-kura tersebut  dengan alasan  pertimbangan hati sanubari.

Perempuan  enerjik yang kerap disapa Ceu Poong itu,  kalau maju lagi menjadi calon legislatif 2019-2014  memiliki modal sosial, lantaran kedekatannya dengan berbagai elemen  kemasyarakatan. Maklum  ia sudah menjadi anggota DPR sejak 1987, dan selalu terpilih karena dukungannya  yang besar, khususnya dari kaum perempuan.

“Memang  saya yang minta   jangan dicalonkan lagi.  Tapi bukan berarti Ceu Popong akan ngagoler, diam saja, malah  sebaliknya akan lebih giat lagi,” katanya dalam obrolannya dengan para  wartawan di gedung  Pasundan  Jalan Sumatera No.41 Kota  Bandung, Sabtu (29/12).

Ceu Popong yang  meluncurkan buku autobiografi dirinya bertagline “Yang Muda yang Berkarya, yang Tua tetap Berkarya” menjelaskan bahwa  ia akan berhenti dari Gedung DPR-RI, karena  punya ambisi  membina generasi muda.

“Tanpa membedakan suku bangsa, tanpa membedakan agama, tanpa membedakan etnis. Baik itu laki  maupun perempuan, saya punya rencana  melakukan  bimbingan berorganisasi sesuai dengan hobi  Ceu Polong, selain membaca,” tuturnya.

Institusi  yang akan dikembangkannya  dalam membina generasi muda tersebut, namanya cukup sederhana yaitu  Bimbingan Berorganisasi.

“Tapi di dalamnya, makna bimbingan berorganisasi itu segala macam  masuk, ada ideologi, politik, pendidikan. Ya untuk generasi muda serta  ibu-ibu muda yang memang punya rencana terjun di bidang politik,” ungkapnya.

“Itu, rencana saya. Tapi engke (nanti-Red)  setelah pensiun  dari DPR-RI pada  21 Oktober 2019. Jadi  pelaksanaannya  pada  awal tahun 2020. Jadi  tidak akan diam dan  salah satu hobi Ceu Popong  adalah berogranisasi. Pokoknya  membina  itu resep,” ujarnya.

Mengapa  ia mengurungkan niatnya untuk terus maju menjadi anggota DPR-RI,  padahal membimbing generasi muda, bisa berjalan beriringan dengan jabatannya sebagai anggota legislator, dengan tegas  ia  menyatakan  memiiki  alasan tertentu.

” Penyebab yang pertama,  saya  memberi kesempatan kepada kader yang  lebih muda. Kalau  maju  lagi, bukan berarti  sombong bakal  terpilih  lagi.  Karena  modal sosial yang cukup  kuat. Pokona teu  kudu ngaluarken duit  loba lah, banyak organisasi  yang mendukung ,” ungkapnya  blak-blakan.

Modal sosial  diakuinya  banyak pihak dan orang sudah sangat  mafhum,  mengetahui, siapa dan bagaimana dirinya. Itulah modal sosial  yang dimiliki Ceu Popong.

Alasan atau penyebab keduanya, adalah  sudah  banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan nuraninya.”Bukan, jelek atau  salah. Tapi, nurani ini sudah tidak sanggup lagi  menghadapi apa yang terjadi, ” paparnya.

Dalam buku autobiografi “Yang Muda yang Berkarya, yang Tua tetap Berkarya” ia   meminta kepada warga masyarakat jangan menggeneralisasi  keburukan satu dua atau sepuluh orang anggota dewan, sebab anggota dewan itu banyak ada 560  orang.

Lantas, apa sesungguhnya yang sudah tidak sesuai dengan nurani tersebut. Meski ia tidak  mengatakan secara  gamblang,  tapi kisi-kisinya adalah paska reformasi  ini soal disiplin anggota terasa sangat  kurang.  Rasa tanggungjawab juga kurang  serta  berbagai aturan  cenderung dilanggar.

Oleh karena itulah,  ia suka membandingkan  antara  anggota dewan paska reformasi dengan anggota dewan saat orde baru, walau begitu, kedua-duanya ada sisi positif dan negatifnya.

Sisi positif orde baru di mata dia  adalah disiplinnya, adapun sisi negatifnya, adalah  soal interupsi  sangat tabu.

Orde baru, diakuinya  disiplin sangat kuat,  karena saat itu ada fraksi ABRI. Fraksi inilah yang selalu  memberikan contoh disiplin.”Acara jam 9.00, sebelum jam 9.00 mereka semua sudah hadir, dan setelah jam 9.00  pintu ditutup. Mereka yang terlambat, akhirnya malu, dan perlahan mulai memperbaiki diri.

“Ceu Popong, satu-satunya yang berani interupsi,  sanes heureuy.  Saat sidang MPR itu sudah diintruksikan, tidak boleh ada interupsi.  Namun, Ceu Popong  tidak  bisa diam saja melihat ada yang keliru, masa… cicing wae.  Makanya saya  melakukan interupsi di tengah  suasananya saat itu sangat  hening. Setelah itu,  datang secarik kertas, kalau ada wartawan yang tanya, sampaikan sudah diatasi oleh pimpinan,” pungkasnya mengenang saat sidang  waktu itu dipimpin oleh Ketua DPR  Akbar Tandjung.(B-002)***