KEK bagi Pemkab Pangandaran Mesti Direspons dengan Kinerja

34

BISNIS BANDUNG- Pemerintah  telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada Pemkab  Pangandaran untuk menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK). Diharapkan   KEK yang perdana di Jawa Barat itu harus dijawab dengan kerja keras, pendapatan asli daerah (PAD) harus baik, jangan sampai disusui terus.

“Pemkab Pangandaran harus bisa menjawab kesempatan dan kepercayaan itu dengan kerja keras, jangan sampai kepercayaan tersebut dikecewakan. Buktikan Pangandaran bisa menjadikan KEK sebagai pintu gerbang  mendulang PAD yang baik,” kata Anggota Komisi II DPRD Jabar Drajat Hidayat Sutardja, Sabtu (29/12).

Menurut calon Anggota Legislatif  dari PDIP  dari daerah pemilihan Kabupaten Bandung ini, setelah menjadi kabupaten tersendiri ,  PAD Pangandaran naik signifikan, 7 kali lipat dari Rp22 miliar menjadi Rp144 miliar.

“Karena sekarang sudah menjadi KEK, PAD nya harusnya bisa lebih baik lagi. Jangan sampai mengecewakan Pemeritah Pusat dan Pemprov Jabar, atau disusui terus oleh Pemprov Jabar,” ujarnya.

Ia  mengatakan  untuk mewujudkan Pangandaran sebagai KEK, Pemprov Jabar per 2019 nanti akan menaikkan jatah Bantuan Gubernur (Bangub), dari yang semula Rp40 milir menjadi Rp80 miliar.

Agar kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan tersebut bisa diwujudkan, Pangandaran menurut Drajat harus betul-betul melakukan perencanaan yang matang disemua sektor.

“Pantai Pangandaraan itu aset berharganya, jadi harus dikelola secara baik,” ungkapnya.

Harapan Drajat, Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata harus bisa mewujudkan Pantai Pangandaran menjadi kawasan pantai terbaik di Indonesia, menjadi California Indonesia, sebagaimana yang dicita-citakan mantan Ketua MPR RI Almarhum Taufiq Kiemas.

“Kalau kata mas Taufiq dulu mah, California indonesia di situ, Pangandaran itu. Setelah menjadi KEK, Pangandaraan harus bisa mewujudkan itu. Pantainya kan bagus,” jelasnya.

Selain itu,  ia menyarankan penataan pantai harus betul-betul baik, agar terhindar dari bencana tsunami tetapi bukan dengan membuat giant see wall.

“Jangan membuat tembok raksasa, tata infrastukturnya saja dengan baik. Kalau membuat giant see wall, nggak mungkin nanti hilang keindahan pantainya. Yang dicari wisatawan dari Pangandaraan kan keindahan pantainya,” ungkapnya.

Yang penting, kata Drajat, perizinan harus ketat, jangan asal bapak senang atau asal investor senang, pikirkan keselamatan wisatawan.

“Peraturannya kan 100 meter dari garis pantai nggak boleh ada bangunan, harus dituruti kalau perlu ditambah jangan 100 meter, tapi 200 meter,” katanya.

Hal lainnya, apa yang saat ini sudah baik, harus dibuat lebih baik lagi, jangan hanya seremoni atau sesaat saja.

Yang tidak kalah penting, kenyamanan wisatawan harus jadi tolak ukurnya.

“Kalau sekarang, motor trail masih dibiarkan melintas di pantai, besok nggak boleh ada lagi. Kalau memang dibutuhkan, harus dibuatkan jalur khusus. Jangan sampai ada wisatawan yang terluka,” ucapnya. (B-002)***