Rumah Sakit, Habis Kontrak

114

 DI Solo ada dua rumah sakit yang tidak lagi menerima pasien BPJS. RS Kustati dan RS di Wilayah Sragen, Solo Raya. RS Kustati berhenti bekerja sama dengan BPJS karena belum mengikuti akreditasi. ”Pemberitahuan dari Kementerian Kesehatan tentang akreditasi itu sangat mendadak,” kata Kepala SDM RS Kustati.

Karena belum siap mengikuti akreditasi, berdasatrkan surat Kementerian Kesehatan RI, RS tersebut mulai tanggal 2 Januari hanya menerima pasien umum. Semua pasien BPJS yang tengah dirawat dan antre berobat, harus pindah ke RS lain atau memilih berobat dengan cara membayar sebagaimana pasien non-BPJS.

     Bukan hanya di Solo dan Sragen, di di Jambi ada tiga RS dan 1 klinik yang juga putus hubungan kerja sama dengan BPJS. Seperti disitat dari media sosial yang mengutip SINDONews, pihak BPJS Jambi menjelaskan, batas waktu kontraknya sudah habis. Ketiga RS itu RS MMC Mayang, RS Prima Royal, RS Kambang, dan Klinik Mata di Kecamatan Teklanaipura.

     Kepala Operasional Klinik Mata Teklanaipura mengaku tidak tahu sampai kapan pemutusan hubungan kerjasamanya dengan BPJS itu. Masalahnya masyarakat di sekitar klinik itu banyak yang tengah berobat. RS mata setingkat C, apalagi B, di tempat itu belum ada.

     BPJS setempat, baik di Solo maupun Jambi, terpaksa memutus kerja sama, karena BPJS berpegang pada peraturan. Persoalannya bukan hanya berpegang teguh atau tidak pada peraturan yang berlaku, tetapi yang jadi korban tetap rakyat kecil. Mereka memiliki hak berobat ke RS sesuai zonasi yang ditetapkan. Tiba-tiba mereka harus kecewa. RS rujukan setempat, ternyata tidak lagi menerima pasien BPJS. Pada zona yang ditetapkan,  di daerah itu hanya ada sebuah RS yang melayani pasien BPJS. Bagaimana pula nasib pasien rawat inap? Haruskah mereka pulang padahal penyakitnya cukup berat dan belum diizinkan pulang?

      Kita mengapresiasi Kementerain Kesehatan dan BPJS yang berkerja sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku. Namun kita juga ikut prihatin terhadap pasien dan calon pasien di sekitar RS tersebut. Mereka sudah mulai nyaman dengan mekanisme dan prosedur pengobatan sebagai pasien BPJS, akibat pelaksanaan peraturan yang sangat kaku, mereka harus terguncang dan tercabut dari rasa nyaman. Sebagai peserta Jaminan Kesehatan melalui BPJS, yang setiap bulan membayar iuran, pada saat akan menggunakan haknya, tidak mendapat pelayanan yang memadai.

     Pemerintah menyambut baik ide pendirian BPJS karena tujuannya memberi peyanan kepada masyatrakat. Mereka tidak harus memikirkan biya pemeriksaan oleh doker, tidak membayar biaya perawatan, obat-obatan, dan pelayanan yang lainnya. Pelahyanan medis sampai tuntas, termasuk biaya operasi dan obat, itanggung BPJS. Pada tahap pelayanan medis dan nonmedis semua peserta BPJS mendapat pelayanan yang sama, tidak dibeda-bedakan pasien dengan BPJS kelas I, II, dan III. Perbedaan hanya pada fasilitas rawat inap.

      Sebelum ada peraturan baru, pasien yang berobat, cukup mendapat rujukan dari puskesmas. Ia dapat memilih RS, apakah kelas C atau B sesuai dengan zonasinya. Sekarang setelah ada peraturan baru, pasien harus ke puskesmas. Dari puskesmas dengan surat rujukan, harus datang ke RS kelas C, baru kemudian apabila RS-C tidak mampu menanganinya, pasien mendapat rujuan masuk ke RS kelas B. Justru prosedur yang panjang seperti itu yang menjadi keluhan masyarakat. Ia harus antre di tiga tempat yang sungguh sangat melelahkan terutama bagi pasien yang menderita sakit cukup keras.

      Benar dengan peraturan baru itu, semua puskesmas dan RS kelas C mendapat banyak pasien. Namun mereka belum bebas keluhan. Banyak RS yang harus menunggu biaya penggantian obat dan tenaga medis dari BPJS. Sering kali penggantian biaya itu datang terlambat bahkan BPJS menunggak. Sekarang keluhan itu masih terdengar. Kita berharap tahun 2019 ini, semua keluhan itu. baik dari masyarakat maupun dari puskesmas dan RS  tidak terdengar lagi. Begitu pula RS yang harus akreditasi dan habis kontrak, dibantu menyelesaikannya agar masyarakat sekitar mendapat pelayanan kesehatan yang dekat, cepat, aman, dan gratis. ***