Beda Biaya Buoy dan CBT, Dua Teknologi Deteksi Tsunami

51

BELUM genap setahun pasca bencana tsunami Palu, Indonesia kembali dihadang oleh tsunami yang terjadi di Selat Sunda.

Tsunami Selat Sunda ini membuat dua wilayah terkena bencana dan menelan ratusan korban jiwa. Rangkaian kejadian ini membuat Tanah Air membutuhkan teknologi deteksi tsunami. Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) Hammam Riza memaparkan teknologi deteksi tsunami yang dibutuhkan Indonesia.

Pertama, Buoy. Hammam menjelaskan keberadaan BUOY dinilai penting untuk mengirimkan sinyal terkini ketika ada gelombang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi menjadi tsunami muncul.

“Buoy terus menerus mengirimkan sinyal ke pusat monitoring secara real time, jika ada gelombang yang melewatinya. Semakin tinggi dan kencang gelombang, maka sinyal yang dikirim frekuensi-nya akan semakin rapat dan bisa berkali-kali dalam hitungan detik,” rincinya dalam keterangan resmi, Rabu (26/12).

Hal inilah yang dapat menjadi dasar untuk mewaspadai serta mendukung kesiapsiagaan bencana. Adanya langkah mitigasi ujarnya, sangat penting bagi masyarakat atau penduduk yang bermukim di wilayah yang rentan terhadap terpaan bencana.

“Masyarakat di wilayah berpotensi bencana, khususnya tsunami harus memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini atau early warning system, baik untuk tsunami maupun bencana lainnya,” kata Hammam.

Deteksi Tsunami Bawah Laut

Kedua, Cable Based Tsunameter atau CBT. Hammam menjelaskan BBPT menawarkan teknologi lainnya yang memungkinkan untuk melengkapi keberadaan Buoy yakni Cable Based Tsunameter atau CBT.

“Teknologi CBT itu sebenarnya sudah digunakan oleh negara Jepang. Di sana sudah berjalan dan mampu mendeteksi tsunami dengan baik juga,” ujarnya.

Lihat juga: BMKG Sebut Tide Gauge Bisa Pantau Tsunami dari Anak Krakatau

Namun, perlu ditekankan bahwa kedua peralatan itu baik CBT dan BUOY adalah saling melengkapi, baik fungsi dan kegunaannya.

“Sifat keduanya adalah saling melengkapi, sehingga hasil deteksi dini yang menjadi parameternya, menjadi semakin presisi dan akurat,” paparnya.

Terkait pembangunan CBT ini pun Hammam menggagas bahwa sistem CBT dapat menjadi program nasional, seiring adanya program sistem komunikasi kabel laut broadband network Palapa Ring, yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Jadi CBT ini merupakan kabel bawah laut yang dilengkapi sensor untuk mengukur perubahan tekanan dalam laut yang ekstrem, yang mengindikasikan tsunami. Sensor lalu akan mengirimkan data melalui satelit kepada pusat penerima data,” jelasnya.

CBT Lebih Mahal dari Bouy

Hammam juga menyatakan kalau proses pembuatan fasilitas CBT, menghabiskan biaya yang lebih mahal dari pembuatan BUOY.

“Jika dibandingkan dari biaya, pembuatan Buoy bisa menghabiskan miliaran, CBT mencapai triliunan. Dari aspek perawatannya CBT lebih murah, Bouy akan lebih mahal. Dari waktu pembangunan, Buoy lebih cepat bisa hitungan bulan, CBT akan lebih lama bisa tahunan. Ini hitung-hitungan kalau buat baru ya,” rincinya. (C-003/age)***