Tol dalam Kota Bandung Mengurangi atau Menambah Kepadatan?

43

SETIAP pembangunan pasti menimbulkan perubahan. Apakah itu perubahan positif atau malah berubah ke arah negatif. Pembangunan bendungan untuk kepentingan pengairan dan tenaga listrik, di mana pun selalu mengundang sikap pro-kotra. Pada zaman Orba, pembangunan waduk Kedung Ombo mendapat perlawanan sangat kuat dari masyarakat dan aktivis lingkungan hidup. Pembangunan Bendung Jatigede, karena masyarakat setempat tidak setuju, penyelesaian waduk di Sumedang itu membutuhkan waktu sampai 62 tahun.  

    Pembangunan Jalan Tol Purbaleunyi disayangkan oleh sebagian masyatrakat sepanjang jalur itu. Banyak yang menjadi korban, terutama rakyat kecil yang mengais rezeki dari orang yang lewat dengan berjualan. Mereka menjadi korban pertama, pembangunan jalan tol tersebut. Jalan Tol Trans Jawa yang menjadi kebanggaan pemerintah dan masyarakat Indonesia, tidak serta merta mendapat sambutan memuaskan. Para aktivis lingkungan hidup dan para pengamat jalan dan transportasi berpendapat, jalan tol itu akan menimbukan berbagai masalah baru.

    Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisundawu) mengalami keterlambatan karena banyak rakyat dan aktivis menentangnya. Mereka beranggapan, pembangunan jalan tol itu selain merusak lingkungan hidup, mengurangi lahan pertanian, juga memutus tali silatutahmi antar-warga. Warga yang semula satu kampung bahkan berdekatan, terpisahkan dengan pembangunan jalan tol.

    Sekarang  Kementerian PUPR bersama Pemprov Jabar berencana membangun Jalan Tol dalam Kota di Bandung atau North South (NS Link) Pasirkoja-Pasupati. Jalan tol yang menghubungkan Pasupati di utara dengan Pasirkoja di selatan(nort-south) itu merupakan proyek pemerinrah pusat. Provinsi bertugas mengubah RT/RW namun terbebas dari kewajiban melakukan pembebasan lahan karena lahan yang digunakan merupakan median jalan milik pusat, pemprov, dan Pemkot. Sedangkan Pemkot Bandung sebagai penerima manfaat.

    Pembangunan NS Link itu, seperti pembangunan infrastruktur lainnya, tidak terbebas dari sikap masyarakat yang ambivalen. Ada yang pro dan ada pula yang kontra. Bebetapa pihak, terutama aktivis lingkungan hidup, pengamat transportasi , heritage, dan komunitas lainnya, menganggap pembangunan jalan trol dalam kota, tidak terlalu mendesak. Mereka justru mengusulkan agar Pemkot Bandung menyediakan angkutan masal untuk mengurangi kemacetan dalam kota. Pintu ke luar tol, seperti Purbaleunyi, justru menimbulkan kepadatan lalu lintas, bukannya mengurai kemacetan,. Menurut beberapa aktivis lingkungan, pembangunan NS Link harus mengorbankan median jalan yang sekarang sudah tertata lebih baik. Malah di sepanjang kolong jalan layang terjadi perubahan lingkungan menjadi kumuh seperti di bawah jembatan layang Pasupati.

    Pendapat lain mengatakan, pembangunan infrastruktur berupa jalan tol hanya memen-

tingkan masyarakat kelas menengah ke atas. Rakyat kecil yang tidak punya mobil, tidak mungkin menikmati kenyamanan berkendara di jalan tol. Pemerintah hanya memberi fasilitas bagi kelas atas dengan mengorbankan kehidupan rakyat kecil. Tanah mereka terpaksa dijual, mereka mengorbankan kekayaan miliknya berupa sawah, kebun, dan tempat tinggal. Hasil pembangunannya hanya dinikmati orang kaya. Mobil-mobil besar pengangkut barang yang biasanya singgah di warung-warung kopi atau warteg di pinggir jalan arteri, kini mereka memilih masuk jalan tol. Lebih nyaman dan lebih cepat.

    Karena jalan tol itu merupakan  proyek pusat, dapat dipastikan, Kementerian PUPR telah melaskukan penelitian sangat saksama. Studi kelayakan yang dilengkapi dengan kajian volume to capacity (VC) ratio.di semua titik, Bahkan Gubernur Jabar, Moh. Ridwan Kamil menegaskan, pembangunan jalan tol NS Link tidak akan mengganggu lahan milik rakyat. Tidak dapat dibangun dengan pilihan mana yang lebih dulu dan mana yang kemudian. Semuanya dibangun secara simultan. Di samping membuat jalan tol dalam kota, pemerintah juga menyediakan kendaraan masal seperti bus dalam kota, jalur kereta ringan, pembukaan atau revitalisasi jalur kereta. Seperti dimuat PR 8/1, Gubernur Jabar mengatakan tol kota dikerjakan,  jalan layang dikerjakan, transportasi publik seperti kereta api  dibuka lagi.

    Artinya pembangunan NS Link sudah direncanakan secara matang dan tinggal pelaksanaan pembangunannya. Bahwa akan ada bangunan, taman, dan fasilitas umum lainnya terdampak jalan tol, seyogianya keberadaan NS Link menjadi ikon baru Kota Bandung yang dapat menjawab semua tantangan yang timbul di masyarakat. ***