Profesi Industri Kreatif dan Teknologi Jadi Favorit

50

GENERASI masa kini punya impian sendiri mengenai profesi masa depan mereka. Tren kekinian menjadi salah satunya, bahkan bekerja di tempat yang menyenangkan juga menjadi pilihan anak muda.

Tak heran jika kampus favorit seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) menangkap tren minum kopi yang berkembang di kalangan anak muda. Baru-baru ini IPB membuat Sekolah Kopi yang pendaftarnya saja hampir seratus mahasiswa.

Kopi bukan hanya minuman, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Billy Boen, founder Young On Top mengatakan, profesi yang menjanjikan dan disukai oleh generasi milenial adalah profesi yang ada kaitannya dengan lifestyle dan teknologi.

“Langkah (IPB) itu bagus karena kopi sudah menjadi (kebutuhan) lifestyle . Sebaiknya semua kampus fokus membuat sekolah profesi kekinian dengan standar tinggi dan sertifikasi internasional,” ungkap motivator di kalangan anak muda ini. Sekolah profesi, menurut Billy, juga sangat berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Indonesia negara kaya, tetapi jika ingin menjadi negara maju, harus diperhatikan kemajuan dan peningkatan standar kemampuan sumber daya manusianya. Satu lagi sektor yang menjanjikan bagi anak muda, yakni industri kreatif dan digital.

Kedua industri ini akan semakin berkembang karena pemerintah terus mengembangkan infrastruktur. Ditambah Kemenkominfo dan Bekraf fokus mengembangkan industri ini. “Semua profesi di industri kreatif dan digital, seperti programmer, graphic designer , multimedia atau content creator , sangat dibutuhkan pada era kesiapan menghadapi revolusi industri 4.0 sekarang ini.

Peluangnya besar, ditambah anak muda juga sangat tertarik,” jelasnya. Sementara itu, Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) menilai, terdapat bidang-bidang yang menjadi prioritas mereka.

Di antaranya, sektor peningkatan nilai tambah ekonomi melalui pertanian, industri, dan jasa produktif serta pemantapan ketahanan energi, pangan, dan sumber daya air. Demikian juga perkembangan teknologi yang mengakibatkan berbagai jenis pekerjaan baru dan punahnya berbagi profesi yang selama ini dianggap mapan harus dijawab dengan program-program studi yang relevan.

Pendidikan tinggi harus menyediakan pilihan-pilihan yang fleksibel dan membekali lulusan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti, Ismunandar menuturkan, terus mendorong kampus agar berinovasi dalam penyelenggaraan program studi kurikulum dan proses pembelajarannya.

“Terutama penggunaan teknologi informasi untuk pembelajaran karena dengan teknologi ini kampus bisa membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat,” ujarnya. Dengan demikian, akses ke pembelajaran tersier akan terbuka lebih luas.

Orang akan lebih mudah untuk melakukan reskilling dan upskilling . Ismunandar juga menekankan pada inovasi baru sebagai proses pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik mahasiswa. Bagaimana menantang dan mengembangkan agar mahasiswa berpikir kritis dan memiliki keterampilan memecahkan masalah.

Mengenai tren menjadi entrepreneur , Kemenristek Dikti juga mendorong kewirausahaan mahasiswa karena banyak pekerjaan di masa depan saat ini belum ada.“Para lulusan itulah sebagai insan terdidik yang akan punya ide dan merealisasikannya menjadi pekerjaan baru. Kami melibatkan dunia industri dan para wirausahawan dalam proses penularan jiwa kewirausahaan ini,” ungkapnya. Ismunandar berharap mahasiswa Indonesia menempa diri agar menjadi insan yang unggul, terampil, bermoral, dan berdaya saing tinggi.

Proses belajar adalah proses aktif dari mahasiswa, dosen, dan berbagai sumber belajar lain di dalam dan luar kampus adalah fasilitas yang harus semaksimal mungkin.“Carilah berbagai pengalaman belajar selama menempuh pendidikan tinggi. Tempatkan peran dosen sebagai pelatih yang memberi tahu Anda langkah latihan terbaik dan efisien untuk menjadi lulusan yang berciri-ciri unggul tadi,” pesannya. Industri kreatif punya banyak peluang menjanjikan dan memang diminati.

Dukungan pemerintah juga besar untuk ini, melalui pelatihan bersertifikat dari Bekraf. Workshop berbasis kompetisi, seperti fotografi, racik kopi yang didaftarkan langsung kepada kedeputian 5 untuk dapat mengikuti ujian sertifikasi.

“Selain itu, ada program Bekraf Young Technology Entrepreneur untuk perguruan tinggi. Output dari kegiatan ini memberikan pelatihan dasar bagaimana mempromosikan produk melalui jejaring di dunia maya, mengoneksikan dengan link penjualan.

Pengajaran mengenai teknik foto supaya lebih menarik ketika diunggah,” ujar Poppy Savitri, Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif pada Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf. Bagi pelaku ekonomi kreatif pemula, ternyata sangat dibutuhkan model pengajaran semacam itu pada era digital saat ini.

Poppy berharap para mahasiswa mulai menjadi pelaku kreatif yang dapat menjual produknya melalui ecommerce . Dia menambahkan, sekolah atau pelatihan vokasi tentunya bertujuan memberikan dan meningkatkan skill kepada pelaku ekonomi kreatif agar mereka menciptakan usaha mandiri, sekaligus memberi kesempatan membuka peluang pekerjaan baru dalam ekosistem ekonomi kreatif.

Di dunia pendidikan tinggi, Poppy menyarankan kampus untuk mempersiapkan mahasiswanya menjadi kreatifpreneur. “Bisa dengan mengadakan mata kuliah entrepreneurship, mahasiswa magang di beberapa usaha startup . Talkshow dengan mengundang pelaku kreatif yang sukses di bidang subsektor ekonomi kreatif,” ujarnya.Perguruan tinggi juga bisa mengadakan workshop yang fokus dan teknis untuk menambah skill, hingga mendorong mahasiswa untuk menulis skripsi dengan perspektif ekonomi kreatif.

Bekraf sangat berharap generasi muda dapat mulai bercita-cita menjadi kreatifpreneur dengan membuka usaha baru di bidang ekonomi kreatif. Sebab, ekonomi kreatif menjadi salah satu solusi bonus demografi dan kesenjangan ekonomi Indonesia karena sifatnya yang inklusif.

“Sehingga kita bisa memanfaatkannya sebagai sebuah kekuatan ekonomi yang mengatasi masalah bangsa. Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, ekonomi kreatif harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia pada masa depan,” pungkasnya.

Tidak lupa Poppy juga mengingatkan hal lain yang penting pada era ekonomi kreatif, yaitu upaya Bekraf mendorong perlunya melindungi produk atau karya kreatif dari para pelaku kreatif, terkait hak kekayaan intelektual, merek, paten, dan lainnya.

Selain itu, Bekraf juga sedang mengusahakan agar hak kekayaan intelektual di ekonomi kreatif dapat dijadikan agunan di bank untuk modal usaha bagi para pelaku kreatif.  (C-003/nfl)***