Tiongkok Singapura dan Thailand Peroleh Surplus Perdagangan Di Indonesia

103
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (20/7). Bank Indonesia mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar 1,94 miliar dolar AS atau meningkat dibandingkan dengan surplus triwulan I sebesar 1,66 miliar dolar AS yang didukung perbaikan kinerja neraca perdagangan nonmigas maupun migas. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/kye/16

BISNIS BANDUNG – Pengamat Ekonomi dari Departemen Ilmu Ekonomi, Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, Ph.D mengutarakan, jika  melihat neraca perdagangan  Tiongkok, negara ini merupakan negara yang memperoleh manfaat surplus perdagangan di Indonesia, disusul Singapura dan Thailand.

 Kondisi ini, menurut Yayan menunjukan bahwa Tiongkok memiliki manfaat paling besar karena produk Tiongkok lebih kompetitif di pasar Indonesia sejak diberlakukannya AFTA (Asean Free Trade Agreement) dan perjanjian perdagangan regional yang mengacu pada pengurangan/penghapusan tarif antara 95-99% agar aktivitas perdagangan (ekspor-impor) secara regional memperoleh manfaat dari perdagangan regional antar negara ASEAN, seperti menikmati komoditas di lintas ASEAN dengan harga yang paling kompetitif.

 Pengurangan tarif ini secara efektif dimulai tahun 2010 dengan nama ATIGA. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan tahun 2018, posisi Indonesia mengalami defisit dibanding Tiongkok, Singapura, Thailand dan Laos. Sejak tahun 2013, Indonesia mengalami defisit terhadap Tiongkok yang terus meningkat, defisit tahun 2015 hampir USD 14 miliar, disusul oleh Singapura USD 2.9 miliar, Thailand USD 2.3 miliar. Kondisi saat ini, menurut Yayan, kondisi Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan terhadap negara tersebut, sedangkan dengan Philipina, Vietnam, dan Myanmar,  Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan masing-masing sekira USD 5 miliar, USD 224 juta, USD 521 juta.

 Yayan menegaskan, Tiongkok memiliki manfaat yang paling besar karena produk Tiongkok lebih kompetitif di pasar Indonesia. Posisi Indonesia merupakan potensi pasar paling besar dibandingkan mitra dagang. Disini perlu ada strategi subtitusi impor untuk produk domestik agar lebih kompetitif . “Tiongkok menjadi negara dominan yang sangat signifikan berdampak terhadap mitra dagang Indonesia. Kondisi neraca perdagangan yang negatif menunjukan bahwa daya saing produk Cina lebih kompetitif di pasar Indonesia. Secara langsung, kita dapat memperoleh komoditas yang lebih murah dari Tiongkok, maupun komoditas lain dari Singapura dan Thailand dengan kualitas yang baik,” ungkap Yayan, Senin di Bandung.

                                               Aktivitas Internasional

 Yayan yang dikenal sebagai pengamat perdagangan internasional menyebut, Indonesia meupakan negara yang sangat aktif dalam melakukan aktivitas internasional, AFTA dan CAFTA merupakan diplomasi ekonomi yang harus dihadapi dengan strategi yang baik. Peningkatan diferensiasi dan inovasi produk merupakan hal yang harus dilakukan oleh pemerintah agar industri Indonesia bisa kompetitif.

 Menjawab pertanyaan bagaimana peran Indonesia dalam kerjasama AFTA/CAFTA, dijelaskan Yayan, Indonesia harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor industri agar lebih kompetitif, selain harus memperbaiki sistem iklim investasi dan inovasi serta membangun platform industri ke Revolusi Industri 4.0 dengan baik karena Indonesia tidak bisa keluar, baik secara geo-politik dan geo – strategis.

 “Agar Indonesia memiliki peran di AFTA/CAFTA, yang harus dibenahi oleh pemerintah Indonesia yakni membuat sistem standarisi nasional sebagai proteksi dalam menghadapi AFTA/CAFTA, tetapi harus didukung dengan sistem riset dan pengembangan yang mumpuni antara industri, masyarakat dan akademisi. Landasan AFTA/CAFTA adalah diplomasi dan standarisasi. Diplomasi  sangat mewarnai dalam keputusan lobby regional,” pungkas Yayan.  (E-018)***