Digital Dorong Ekonomi Kreatif

41

PADA 2019 sektor ekonomi kreatif diyakini akan terus tumbuh dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) diproyeksikan mencapai lebih dari Rp1.200 triliun.

Pendapatan sektor ekonomi kreatif (ekraf) tahun 2016 tercatat Rp922,59 triliun atau naik menjadi 7,44% terhadap total PDB nasional. Berdasarkan outlook ekonomi kreatif 2019 nilai PDB ekraf pada 2017, 2018, dan 2019, diprediksikan masingmasing Rp1.009 triliun, Rp1.105 triliun, dan Rp1.211 triliun.

“Tahun lalu diprediksi hampir mencapai Rp1.000 triliun, tetapi setelah dihitung ternyata di atas ekspektasi. Tahun 2019 diproyeksikan akan lebih dari Rp1.200 triliun,” kata Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Dia menjelaskan, subsektor fashion, kriya, dan kuliner menguasai 97% dari total usaha yang mencapai 8,2 juta unit. Subsektor ini menjadi andalan ekspor ekonomi kreatif, nilainya pada 2016 lalu mencapai USD19,98 miliar. Meski masih kecil, subsektor lain, seperti film, musik, dan games (animasi), juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo menjelaskan, pertumbuhan PDB ekraf bergantung dari jumlah unit usaha yang ada dan nilai tambah setiap perusahaan. Jumlah perusahaan di bidang ekraf secara keseluruhan ditargetkan tumbuh 2,5% dari 2015 ke 2019. Nilai tambah untuk setiap perusahaan rata-rata juga naik dari Rp160 juta pada 2015 menjadi Rp 220 juta pada 2019.

Pada 2016 tercatat ada 8,2 juta unit usaha ekraf, sedangkan nilai tambah per perusahaan sekitar Rp112 juta. Fadjar mengatakan, perkembangan ekraf tahun depan mayoritas akan terkait dengan teknologi digital yang mendukung perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

Menurutnya teknologi digital bisa menjadi penggerak utama dalam banyak kegiatan ekraf. Dengan teknologi digital, peluang tumbuh dengan eksponensial sangat besar. Menurutnya, kunci sukses startup selain keahlian teknis, yaitu perlu memiliki dampak sosial besar. “Kolaborasi yang dianggap paling potensial terutama dengan perusahaan rintisan teknologi digital,” ujarnya.

Dia mencontohkan peran kolaborasi startup digital terdapat dalam subsektor unggulan, yaitu fashion, kuliner, dan kriya. Namun, dia mengingatkan para pelaku ekraf jangan hanya fokus mengenai subsektor saja, melainkan juga harus memperhatikan konten atau konsepnya.

Fadjar juga menjelaskan, Bekraf akan terus membangun ekosistem ekraf yang solid. Strategi yang dilakukan dengan menjalin hubungan lebih baik dengan seluruh stakeholders. Dia meyakini cara mengendalikan risiko kegagalan, yaitu dengan ekosistem yang lebih baik. Risiko kegagalan sangat berkaitan dengan masuknya arus permodalan. Perkiraan angka kegagalan startup saat ini di Indonesia sekitar 10% dan ini harus terus ditekan.

“Misalnya dalam membangun startup digital kita jalin silaturahmi dengan coworking space dan inkubator meminta sarannya. Pendekatan serupa juga dalam kuliner dan perfilman,” ujarnya.

Direktur Akses Nonperbankan Bekraf, Syaifullah mengatakan, Bekraf harus mengatur strategi karena dana pemerintah yang terbatas. Karena itu, pihaknya akan menggandeng pihak swasta melakukan inkubator dan menanamkan investasi.

Bekraf secara perdana telah meluncurkan GoStartup Indonesia untuk membangun ekosistem startup digital yang kuat. Tahun depan dia bahkan merencanakan menampung startup digital dari level ide, lalu disalurkan ke tempat inkubator ide, dan selanjutnya dipraktikkan supaya menjadi bisnis riil yang diimplementasikan. Pihaknya juga akan meminta pemerintah daerah mengeksplorasi keunikan masing-masing harus ada spesialisasi jangan semua seragam aplikasi digital ataupun kuliner.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Mandiri Capital Hira Laksamana mengatakan, tahun 2019 perseroan menargetkan menyuntikkan investasi pada 8-9 startup. Perseroan menyasar startup usia muda sekaligus memiliki risiko tinggi. Operation Chief GnB Accelerator Elsye Yolanda menjelaskan, pihaknya sejak 2016 telah menyediakan program akselerasi bagi startup level awal.

Pihaknya akan membantu dalam percepatan bisnis dan menghubungkannya pada investor global. Bahkan, sudah disiapkan startup tersebut hingga sampai ke publik atau diakuisisi perusahaan global.

Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Jefri R. Sirait mengatakan, perkembangan ekraf mendorong masyarakat saat ini untuk menempatkan kreativitas menjadi aset kompetitif. Teknologi digital pada 2019 akan semakin berpengaruh dalam banyak hal, tapi juga masih ada peluang ekraf nondigital untuk berkembang positif. Masyarakat harus mengoptimalkan kekayaan budaya yang berimplikasi di sektor leisure dan turunannya yang terus menguat.

Rektor Unika Atmajaya Agustinus Prasetyantoko mengatakan, ke depan teknologi digital bakal kian berkembang. Namun, ia optimistis berbagai disrupsi itu tidak akan menjungkirbalikkan seluruh pranata yang sudah terbangun, melainkan mencari keseimbangan baru.

Dia memaparkan disrupsi akibat revolusi teknologi 4.0 kini dialami berbagai sektor mulai dari keuangan, jasa, hingga media. Menurutnya, sektor pendidikan juga bakal mengalami disrupsi. Namun, itu bukan berarti kegiatan perkuliahan tatap muka secara fisik bakal hilang.

Sebagai contoh keseimbangan baru dalam kasus financial technology (fintech) di China saat ini yang sudah mengalami banyak penolakan karena jumlahnya sudah excessive. Hal ini juga dirasakan di Tanah Air karena maraknya nasabah melakukan komplain dengan etika bisnis yang dilakukan fintech.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, tahun 2019 Indonesia sudah memiliki decacorn yang merupakan perusahaan startup dengan valuasi minimal USD10 miliar. Sayangnya, dia tidak mengatakan startup mana yang dimaksud menjadi decacorn. “Tidak usah menyebutkan nama karena itu hanya masalah bisnis. Saat ini Indonesia memiliki empat dari tujuh unicorn di ASEAN. Dari yang ada sekarang kita tunggu saja,” kata Rudiantara.

Adapun empat unicorn tersebut saat ini adalah Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Tidak hanya itu, tahun depan juga Indonesia akan memiliki satu unicorn baru sehingga target pemerintah untuk memiliki lima unicorn startup sudah tercapai. (C-003/HF)***