Siti Nurlaila SE. , Bakat Ku Butuh Jadi Motivasi Bangkitnya Usaha

98

Anak H.Juhana (Purnawirawan TNI-AD) dan Hj.Etty Karwaty ini merupakan pengusaha fashion dari Kota Bandung. Selain itu ia juga aktifis organisasi dan komunitas, di antaranya sebagai Pendamping Wirausaha Baru Jawa Barat, Ipemi Kota Bandung sebagai koordinator Bidang Fashion, dan Tailor Indonesia Bandung Kordinator  Wilayah Jawa Barat. 

Siti Nurlaila, SE, kelahiran Bandung  9 September 1975, Istri Mohamad Jaka Eka Putera, mulai  tertarik pada dunia usaha sejak tahun 2008, berawal dari “Bakat Ku Butuh” pasca ia memutuskan untuk “Resign” dari tempat kerja. “Kaget juga biasanya wara-wiri ketemu orang, urus ini-itu,  tiba-tiba harus di rumah dan ngurus anak. Sebulan pertama mencoba menikmati, tapi ngak kuat. Dari sana mulai bawa barang dagangan ke arisan RT dengan modal seadanya, kurang lebih Rp 1-2 juta. Siti menyebut, usaha yang digelutinya saat ini mungkin ada kaitan dengan latar belakang keluarga. Walau dirinya berasal dari keluarga tentara, ibunya merupakan wanita tangguh yang menyokong penghasilan untuk membiayai 8 orang anak dengan berdagang makanan rumahan. Sementara bapaknya sebagai tentara sering melaksanakan tugas, seperti di antaranya tugas di Timtim, danlainnya. “Tiap pagi saya bertugas untuk mengirimkan kue atau gorengan warung-warung sekitar rumah yang menjualnya. Itu dilakukan sebelum berangkat sekolah. Mungkin hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong saya mengeluti bidang usaha sendiri,”tutur Siti kepada BB menceritakan awal perjalanan usahanya.

Dipilihnya usaha fashion, karena waktu itu, baju yang dipakainya ada yang suka dan minta dijahitkan. Dari situ muncul ide jualan baju. Diakuinya,  kemampuan memproduksi/mendesain produk dilakukan secara otodidak, cuma ATM (Amati Tiru Modifikasi). Tetapi dengan semakin berkembangnya dunia fashion, kini tidak cukup dengan cara ATM saja, produk harus mulai punya identitas (ciri khas) supaya bisa bersaing dengan produk lain. Untuk produk jahitan, lanjut Siti, saat ini terpusat Jalan Patrakomala Dalam 17 Bandung, sedangkan untuk produk kain lukis di Jatihandap Cicaheum. Kemampuan produksi produk lukis dibuat berdasar orderan karena proses pengerjaannya cukup memakan waktu. Bahan baku yang digunakan adalah kain sutera dari Garut, Sengkang Polyester dan kain perca yang dikerjakan dua orang.

Siti Nurlaila menyebut, segmen pasar untuk kain lukis dan baju lukis (1 set) berasal dari kalangan “middle up”, sedangkan untuk baju blouse, kaftan dan souvenir segmen pasarnya “middle low”. Alasan pemilihan segmentaasi tersebut lebih kepada harganya. Kerudung dibandrol mulai dari harga Rp 125.000- Rp 350.000, sementara untuk produk baju antara Rp 350.000 sampai Rp 3.000.000. “Pasar produk baju buatan saya meluas di kota/kabupaten di Indonesia, selain dijual secara online karena sekarang UKM harus Go Online. Saat ini omset penjualan perbulan antara Rp 50- Rp 100 juta,” tutur Siti menjelaskan pasar produksnya.

Pemilik dari “Athira Designed At You” ini mengutarakan, minat pasar terhadap produk handmade yang unik menunjukan adanya peningkatan Indikatornya terlihat dari banyaknya pesanan produk craft untuk souvenir dan homedecor.

Ibu dari Rafeifa Rifnafayza Chalila (13 tahun) ini mengaku usaha fashion yang ditekuni sejak tahun 2005 sempat vakum dan baru kemudian pada tahun 2016 ditekuni kembali. Menurut penganut moto hidup “Learning By Doing” ini, agar produknyan tetap berdaya saing, 3 resepnya tetap dipakai sampai sekarang , yakni “Never Ending Learning” artinya jangan pernah berhenti belajar,  “Be Creative” artinya harus kreatif, dan resep ketiga adalah “Stay Positive” yang berarti jangan baperan.

Mengenai perhatian dan kepedulian pemerintah, perbankan dan pihak swasta cukup baik,  indikatornya bisa terlihat dari banyaknya pelatihan  untuk meningkatkan kualitas skill maupun produk UKM. Bahkan untuk pengurus HAK Paten Merk dan Halal digratiskan . Menurutnya,  sekarang tinggal balik lagi ke UKM nya, mau tidak mengurusnya dengan fasilitas-fasilitas yang sangat memudahkan untuk bisa naik kelas. “Pada intinya,  kami sebagai pelaku UKM, berharap pemerintah tidak bosan  memberikan kesempatan kepada kami dalam meningkatkan skill individu, meningkatkan kualitas produk, membantu pemasaran dan mempermudah perijinan. “Alhamdulillah kami benar-benar diperhatikan, sebab itu UKM harus mau bergerak, bersinergi dan berkreativitas. Insya Allah akan selalu ada kesempatan untuk maju,” pungkas penggemar warna hitam dan merah ini kepada BB, akhir pekan lalu di Bandung. (E-018)***