Tak Terima Vonis Hakim, Seorang Terdakwa Histeris

93

Tidak terima putusan hakim yang menjatuhkan hukuman lima tahun penjara,  rabu petang, seorang terdakwa histeris dan berteriak, dalam ruang sidang di pengadilan tipikor bandung. Terdakwa mengaku dijebak dan menjadi korban atasannya. Bersama dua rekannya, terdakwa divonis bersalah telah mencairkan kredit fiktif,dan merugikan negara empat koma dua milyar rupiah.

Neli apriani histeris usai hakim membacakan putusan dirinya dinyatakan bersalah dalam sidang kasus kredit fiktif bank btn cabang cikarang, di pengadilan tipikor bandung, rabu petang.

Dengan didampingi rekannya, terdakwa neli menangis dan tidak menerima hukuman yang telah dijatuhkan kepada dirinya beserta dua rekan lainnya. Ia menilai dirinya telah menjadi korban dari keserakahan atasannya.

Terdakwa dipaksa mengakui kesalahan dalam pencairan tersebut, padahal tidak ada satupun kuasa dirinya untuk dapat mencairkan dana kredit antara pt mitra cahaya sentosa dengan btn cabang cikarang. Bahkan, dirinya sempat ditawari hukuman ringan oleh jaksa, jika mau mengakui perbuatannya.

Neli ariani divonis majelis hakim yang dipimpin dahmiwirdhaselama lima tahun penjara, denda 300 juta subsider tiga bulan. Bahkan, ia pun diharuskan membayar uang pengganti sebesar 4 koma 2 milyar rupiah. Atas dasar tersebut, terdakwa mengajukan banding.

Kasus kredit fiktif ini telah menjerat tiga orang yang menjadi terdakwa, dan dijatuhi vonis oleh hakim, yaitu neli apriani karyawan pt mcs, dan budi winata serta iriana unteani yang merupakan karyawan btn cabang cikarang. Para terdakwa telah menjadi korban, dan dinyatakan terbukti telah melanggar pasal dua undang-undang nomor 31 tahun 1999, tentang tindak pidana korupsi.

Yuwana kurniawan, bandung tv.