Museum Bandung Gelar Pasar Seni ”Panon Hideung”

81

Setelah sukses soft opening pada akhir bulan Oktober 2018 lalu, Museum Kota Bandung menjadi Museum Budaya, beberapa materi yang dipamerkan merupakan produk-produk budaya dan sejarah. Secara khusus Museum Kota Bandung mempresentasikan teknologi, sosial ekonomi, seni, musik, agama, film dan pemikiran-pemikiran yang tertuang dalam media khusus.

Proses pembangunan Museum Kota Bandung dapat terwujud atas dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak lapisan masyarakat, budayawan, seniman dan perusahaan swasta, khususnya Djarum Foundation. Pada awal November 2018,  Museum Kota Bandung menggelar program untuk memperkenalkan kepada masyarakat bertajuk “Panon Hideung Museum Market” yang diisi oleh berbagai suguhan kesenian, di antaranya seni pencak silat, grup musik, kontes fotografi dan lainnya.

Ketua Museum Bandung, Hermawan Rianto mengatakan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan mengumpulkan sejumlah komunitas untuk membuat kegiatan pameran, penjualan, pertunjukkan musik dan ngobrol (diskusi) di museum. ” Yang tidak ada di museum lain, selain di Museum Kota Bandung adalah artefak-artefak yang tidak bendawi, musik misalnya, lagu atau musik dipengaruhi oleh sekian budaya, lagu itu dibangun oleh trend real of life ideology gaya hidup. Program Panon Hideung menjadi sebuah ekspresi dari produk budaya pada zamannya, ”tutur Hermawan seraya menyebut, Panon Hideung merupakan lagu yang merekam sebuah era persentuhan antara kebudayaan barat dan Sunda yang tak lekang hingga saat ini.

Sunda Tradisional

Pada program acara Panon Hideung, tampil grup Jimbot and friend yang membawakan seni Sunda tradisional yang dikemas dengan perpaduan musik modern. Ferform Jimbot and friend berhasil membuat pengunjung kagum dan terpana. Tidak cuma perform, Iman Jimbot yang sudah berkeliling ke 27 negara untuk mempromosikan seni Sunda, sebelum tampil pada acara Festival Panon Hideung, melakukan workshop seni tari tradisional Sunda yang diikuti sejumlah pengunjung Museum Kota Bandung.

Iman Jimbot, sebagai seorang Seniman Tradisional Sunda pun merasa bangga mengingat  sesepuh jaman dahulu yang memberikan inspirasi, khususnya kepada warga Bandung. “Pokona mah sangat bagus dan kerenlah. Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini, akan menambah pandangan masyarakat, termasuk kaum milenial tentang kebudayaan yang ada di Jawa Barat khususnya seni Sunda,” ujar Imam. (E- 009) ***