Pembangkit Listrik Tenaga Uap Dorong Peningkatan Produksi Batu Bara

58

BISNIS BANDUNG – Peneliti Tambang dan Energi Yayasan Auriga, Hendrik Siregar mengatakan, pertumbuhan produksi batu bara di Indonesia cenderung naik, dimulai sejak tahun 2014 sebanyak 458 juta ton, tahun 2015 menjadi 461 juta ton, tahun 2016 sebanyak 456 juta ton dan tahun 2017 menjadi 461 juta ton. 

        Faktor utama peningkatan produksi batu bara menurut Hendrik, adalah harga dan kran ekspor yang lebih diutamakan oleh pemerintah. Domestik Market Obligation (DMO) hanya disesuaikan dengan kebutuhan kalender berjalan.”Sedangkan produksi batu bara pada tahun 2019 ini diharapkan naik dengan jumlah DMO lebih ditingkatkan dibanding ekspor, berkaitan dengan beroperasinya PLTU-PLTU terkait program 35.000 MW, maupun Fast Track program yang masih diteruskan dari era SBY,” ungkap Hendrik seraya menyebutkan, selain PLTU sebagai konsumen utama batu bara, juga industri lain, seperti metalurgi dan semen yang konsumsinya tidak mengalami perubahan signifikan. Dijelaskan Hendrik, terjadinya peningkatan konsumsi dalam negeri atau DMO karena adanya pembangkit listrik yang baru beroperasi.

Saat ini ada tiga daerah penghasil utama batu bara, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Indonesia masuk lima besar negara produsen batu bara di dunia yang  besar produknya di ekspor ke Jepang, China, Korea Selatan, India, Taiwan, Philipina, Malaysia, Italia dan USA. “Batu bara sebenarnya bukan pilihan terbaik untuk sumber energi, jadi tidak ada yang harus digulirkan selain dibenamkan atau tetap dalam perut bumi untuk diganti dengan sumber energi yang berkelanjutan, tidak merusak lingkungan maupun terhadap iklim,” ungkap Hendrik, baru-baru ini di Bandung.

        Menurutnya ada beberapa negara yang permintaan terhadap batu bara cukup tinggi, yakni China, India dan Korea Selatan yang mereka gunakan untuk pembangkit listrik. Bersadarkan data BPS dan Ditjen Minerba ESDM, permintaan China dan India atas batu bara dari Indonesia cenderung mengalami penurunan, sebab kedua negara tersebut mulai menghentikan menggunakan batu bara sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. India bahkan telah merencanakan memulai mematikan (shut down) listrik tertenaga batu bara pada 2018.   Hendrik mengakui, tidak ada yang mengatakan bahwa batu bara sebagai sumber energi yang bersih, kalau pun ada tak lebih karena urusan bisnis semata karena memperdagangkan teknologinya (clean coal technology). Banyak negara yang berencana meninggalkan PLTU sebagai pembangkit listrik. (E-018)***