Bank Syariah dan Dana Haji

42

   MULAI tahun ini, bank syariah Indonesia akan menerima investasi sangat besar. Dana haji yang selama ini diinvestasikan di bank konvensional akan dialihkan ke bank syatriah. Menurut Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) selama ini dana haji diinvestasikan 50% ke bank konvensional, 50% berupa surat berharga. Sekatrang pola itu akan diubah, 50% dinvestasikan di bank syariah, 30% berupa surat berharga, dan 20% investasi langsung.

        Dana haji tahun 2018 mencapai  Rp 113 triliun dan ditargetkan tahun 2019 ini, mencapai Rp 120 T. Artinya bank syariah akan mendapat investasi baru  sekira Rp 60 T. Namun suntikan dana itu belum dapat disampaikan seluruhnya pada tahun ini. BPKH perlu melakukan kajian mendalam tentang pola pengelolaan dana tersebut oleh bank syariah.Selama ini  orang menilai penyaluran keredit oleh bank syariah agak lambat atau tidak seagresif bank konvensional. Bank syariah perlu melakukan perencanaan dan strtegi penyaluran kredit. ”Dana itu akan memiliki manfaat optimal jika perbankan syariah dapat kembali menyalurkannya dalam bentuk kredit,” kata ekonom Institute for Development of Economics and Funance (Indef), Abra Talattov kepada PR (5/2).

       Saat ini kredit yang disalurkan bank syariah jauh tertinggal dari perbankan konvensional. Karena itu, dengan suntikan dana yang berasal dari dana haji, bank syariah harus melakukan strategi bagaimana penyaluran kreditnya dapat menarik dan berdaya saing. Selama ini penyaluran ktedit perbankan syariah masih jauh tertinggal dari bank konvensional. Return bank konvensional  lebih besar dibanding bank syariah,. Karena itu pengelolaan dana haji dari tahun ke tahun dipercayakan kepada bank konvenmsional.

       Tentu saja investasi dana haji itu paling tepat dipercayakan kepada bank syariah. Pengelolaan dana haji harus sesuai dengan syari. Manfaatnya terasa maslahat bagi umat Islam, khususnya jamaah haji serta terbebas dari unsur riba. Selama ini masyarakat tidak tahu persis bagaimana dana haji itu dikelola. Masyarakat baru tahu ada dana haji yang cukup besar ketika di Kementerian Agama ada tindakan korupsi dana haji. Investasi melalui bank syariah diharapkan jauh lebih transparan.

       Investasi langsung yang disediakan dana 30% dari jumlah dana haji yang ada, diharapkan sesuai dengan pengelolaan ibadah haji. Banyak industri dan usaha yang berkaitan dengan ibadah haji. Transportasi, perhotelan, katering, touring, dan lain-lain yang dapat dikelola langsung  atau dalam bentuk kerja sama dengan modal dana haji. BPKH juga dapat bekerja sama dengan swasta membuka  usaha bertaraf internasional di Makkah atau Madinah dan semua bandara di Arab Saudi. Perdagangan, fesyen dan kuliner Indonesia berbentuk francise,  waralaba, dan sejenisnya dapat dijajaki sejak sekarang. Konsumennya sudah jelas jamaah haji Indonesia. Usaha-usaha itu dapat dibuka tidak hanya musim haji. Sekarang jumlah jamaah umroh Indonesia semakin banyak.

       Bank syariah sebelum dana haji itu benar-benar diterima sebagai investasi, seyoginaya melakukan penataan ke dalam, promosi, baik di dalam negeri maupun luar negeri, khususnya Arab Saudi. SDM yang peofesional, jujur, dan benar-bemar memahami seluk beluk investasi dan teknologi keuangan, juga paham secara mendalam tentang hukum dagang dan keuangan syariah. Bank syariah juga membutuhkan SDM yang handal, memiliki keimanan dan ketakwaan yang tinggi.

       Suntikan dana haji bagi bank syariah itu cukup besar bagi pengembangan bank syariah akan tetapi masih kecil dibanding modal dan keuntungan bank konvensional. Pasti pengelola bank syariah tahu persis, tanggung jawabnya sangat besar. Dana itu milik masyarakat, khusunya jamaah haji. Bank syariah yang menerima amanah itu bukan sekadar mencari untung atau imbal hasil yang besar secara material tetapi harus punya trarget berupa kemaslahatan bagi bangsa dan negara, khususnya jamaah haji dan umat Islam. ***