Masih Jawa Sentris

52

 PERTUMBUHAN  ekonomi Indonesia tahun 2018 dinilai positif meskipun masih di bawah target. APBN 2018 menargetkan partumbuhanm ekonomi mencapai 5,4 persen. Akhir 2018, pertumbuhan ekonomi Indnesia mencapai 5,17 persen. Angka itu menunjukkan perbaikan jauh di atas titik terendah yang pernah terjadi pada tahun 2015, yang berada di bawah 5 persen.

    Menurut Menteri Koordonator Perekonomian, Darmin Nasution di Jakarta, pertumbuhan ekonomi tahunan cukup baik ditopang pertumbuhan konsumsi dan investasi yang cenderung membaik. Konsumsi rumah tangga pada Januari – Desember 2018 tumbuh 5,05 persen. Sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 2,74. Sedangkan investasi tumbuh 6,67 persen,  sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi  2,17 persen.Sebenarnya, pertumbuhan investasi awal tahun 2018 melambat dibanding tahun 2017.

    Pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik itu masih  terkonsentrasi di P. Jawa dan sedikit di Sumatera. Sedangkan daerah lain, pertumbuhan ekonominya terus melambat. Hal itu bisa terjadi karena para investor lebih memilih Jawa dan Sumatera untuk penanaman modalnya. Pemerintah belum benar-benar  punya kekuatan mengalihkan investasi ke luar Jawa. Industrialisasi, baik hulu maupun hilir di luar Jawa-Sumatera belum tumbuh signifikan. Karena itu, pulau-pulau di luar Jawa-Sumatera  masih mengandalkan komoditas konvensional untuk ekspornya. Harga komoditas Indonesia tidak dapat bersaing dengan komoditas global apalagi kalau harus bersaing dengan hasil industri manufaktur.

     Pemerintah seyogianya berupaya keras mengarahkan investasi ke daerah di luar Jawa-Sumatera. Industri pengolahan atau industri hilir sebaiknya segera dibangun di daerah. Para petani penghasil komoditas hulu, tidak langsung mengekspor hasil panennya tetapi melalui pengolahan terlebih dahulu. Hilirisasi harus menjadi prioritas pembangunan agar ekspor dari daerah punya nilai tambah. Hilirisasi juga membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi angkatan kerja di daerah.

     Tampaknya, pembangunan industri hilir itu mulai mengarah ke daerah di luar Jawa-Sumatera. Hal itu tampak dari digenjotnya pembangunan infrastruktur, baik jalan raya maupun jalur kereta api. Sebaiknya bersamaan dengan pembangunan infrastruktur transportasi itu, juga dibangun  industri hilir pada jalur-jalur infrastruktur itu. Arus barang, baik dari daerah pertanian ke industri akan lebih cepat. Begitu juga arus barang untuk pasar domestik dan ekspor akan lebih lancar pula. Pembangunan infrastruktur juga diharapkan akan mendorong tumbuhnya industri dan perdagangan. Fasilitas untuk pertumbuhan itu harus disediakan pemerintah. Pemerintah harus mendorong tumbuhnya pasar, perbankan, dan sentra-sentra industri kecil.

     Kita berharap, pembangunan nasional tidak menjadi beban lingkungan di Jawa dan Sumatera tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di daerah luar Jawa dan Sumatera.***