Harsono Menyukai Keindahan Dalam Berbusana

45

Lahir di Blitar 1 Maret 1971, Harsono adalah anak dari pasangan Dharmo Sangkrah dan Muntini. Ia kini menjadi seorang pengusaha busana tradisional pakaian etnik, khususnya kebaya. 

Suami dari Sri Ambarwati (47) ini, mengawali usahanya bersama istri dari hobi mereka.  Keduanya menyukai keindahan yang berkaitan dengan busana, dan mereka mewujudkannya dengan sepenuh hati.

“Bila hasil karya kami dipakai oleh pelanggan dan mereka terlihat cantik, maka tentunya kami bisa merasa puas.  Dan selanjutnya, disusul dengan kepuasan  dari penghargaan secara materi yang didapat.  Usaha ini sudah dirintis sejak tahun 1998, tetapi baru sebatas hobi saja, dan ketika itu saya masih bekerja.  Awal tahun 2018, kami mulai serius menekuni usaha ini, dengan merekrut karyawan dan membenahi tempat  produksi serta ruang pamer,”  ungkap Harsono kepada BB di Bandung.

Untuk menjalani usaha ini, modal awalnya hanyalah sebuah mesin jahit seharga Rp 350.000, yang dibeli dari uang gaji yang disisihkan ketika masih bekerja.

“Kami memilih usaha ini,  karena kami menyukai keindahan dan kerapihan berbusana.   Sejalan dengan perkembangan dan berjalannya waktu, kami secara alamiah memilih model pakaian etnik kebaya, karena disini kami dapat mengexplore kreativitas kami,”  ucap Harsono.

Workshop dan tempat produksi usaha Harsono berada di perumahan Rancaekek Kencana, Kabupaten Bandung.  Dalam sebulan, Harsono mampu  memproduksi 120 kebaya. Bahan baku yang digunakan merupakan bahan lokal.  Harsono juga mengaku bahwa,  tidak banyak penjahit yang mampu membuat kebaya, karena untuk menjadi seorang penjahit kebaya harus bisa telaten dan sabar.

Pembeli dari suku Batak menjadi segmen pasar yang signifikan,  karena suku Batak sangat memegang tradisi kuat dalam cara berpakaian, khususnya saat menghadiri upacara adat,  maupun pesta yang diselenggarakan keluarga.

Kebaya buatan Harsono dijual antara Rp 350.000 sampai Rp 2.000.000. Pemasarannya dilakukan secara offline maupun konvensional.

Ayah dari Wido Wicaksono (22) dan Royhanna Puspa Mustika (17) ini  menuturkan bahwa, selama menekuni usaha produksi kebaya etnik, ada beberapa hal yang selalu diingatnya, yakni bila produknya dipakai oleh pelanggan, saat menghadiri hajatan seperti pernikahan, dan kebaya yang dikenakan pelanggan itu ternyata dikagumi oleh tamu yang hadir serta menjadi buah bibir.

Semakin lama menekuni usahanya, maka jam terbang Harsono semakin bertambah,  sejalan dengan  bertambahnya ilmu serta pengalaman. Bahkan, tidak jarang sebuah tehnik baru, justru diperoleh atau diajarkan oleh pelanggannya sendiri. Banyak pelanggan yang memberikan tantangan maupun “oppurtinity”, karena mereka percaya bahwa Harsono mampu melakukannya.

“Disamping itu, ada juga pengalaman lainnya, yakni saat saya harus membuat kebaya untuk upacara kematian yang sangat mendadak  di kawasan Danau Toba. Supaya bisa mengejar jadwal penerbangan,  saya harus mengerjakan pesanan itu sampai tengah malam, sebagai bentuk pelayanan demi kepuasan pelanggan,” ujar Harsono.

Untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi,  Harsono berupaya untuk selalu mengikuti perkembangan trend masa kini yakni “ready Go online”,  juga mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh dinas / instansi pemerintah maupun swasta. Harsono menambahkan juga bahwa,  saat ini minat pasar sangat antusias, sehingga ia sekarang harus mempekerjakan lebih dari lima orang karyawan di rumah produksinya. Pihaknya juga berencana untuk menambah karyawan secara bertahap.

“Sebagai pengusaha UMKM,  saya berharap akan ada uluran tangan dari BUMN melalui anggaran CSR, untuk pemberian fasilitas dana bergulir tanpa riba,” pungkasnya.              (E-018)***