Industri Persuteraan Mati Suri Penjualan Produk Surut Hingga 75%

32

BISNIS BANDUNG – Manager Aurarista Silk (produsen benang dan kain sutera) Hari Soedjatmiko menyebut, jumlah pelaku usaha sutera alam menurun drastis. Secara umum selama tahun 2018 tingkat penjualannya menurun hingga 75%.

  Walau sebagian pengusaha, menurut Hari berusaha untuk menurunkan HPP produk dengan cara mengganti bahan baku dengan bahan lain yang mirip sutera (Catoon Bemberg, Viscos Rayon) yang harganya lebih murah.” Tujuannya untuk menurunkan harga jual,” ujar Hari menjelaskan digantinya bahan baku produk berbahan sutera.

        Dikemukakan Hari, sejauh ini Aurarista Silk menjual produknya masih untuk konsumsi dalam negeri dalam bentuk kain sutera. Produksi selama tahun 2018 menurun, hanya sekitar 300 meter, turun drastis dibanding produksi tahun 2017 yang mencapai 800 mater. Untuk nilai tansaksi pada tahun 2017 bisa mencapai Rp 225.000.000, sedangkan tahun 2018, Rp 75.000.000.

        Sebenarnya, ungkap Hari, poduksi bahan baku benang sutera masih berpotensi meningkat, namun karena daya beli masyarakat atas produk sutera alam (kain sutera) yang lemah, menyebabkan produk sutera merosot. Usaha persuteraan alam merupakan jenis usaha padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Diakui Hari, menginjak tahun 2018 pihaknya belum bisa memprediksikan pertumbuhan persutraan di Indonesia. Biasanya kenaikan penjualan produk sutera alam domestik menurut Hari, meningkat menjelang lebaran dan tahun baru. Namun pada tahun 2018 penjualan anjlok dengan alasan yang tidak jelas.

        Benang sutera Jawa Barat banyak digunakan untuk bahan baju batik dan lainnya. Daerah penghasil benang sutera di Jawa Barat selama ini adalah Sukabumi, Cianjur dan Garut. Harga benang sutera lokal Rp 1.000.000/kilogram.” Agar produksi kain sutera tidak terus merosot, perlu dukungan pemerintah untuk mendorong ekspor kain batik,” ujar Hari.

Namun dibalik itu harus disertai kualitas maupun kuantitasnya yang memerlukan dukungan modernisasi mesin dan peralatan pengolahan benang. Dengan menonjolkan tenunan khas Indonesia yang eksklusif dan tradisional, menurut Hari, sangat diperlukan agar bisa bersaing dengan kain sutera produk China yang memproduksi kain sutera secara masal. “Permintaan negara-negara Timur Tengah dan Eropa terhadap kain sutera asal Indonesia cukup tinggi, pesaingnya China dan India,” ungkap Hari, baru-baru ini.

        Dikemukakan Hari, menurunnya produksi kain sutera dan produk-produk sutera adalah keniscayaan, apalagi jika kita masih menggantungkan bahan baku (benang sutera) impor.

Kita harus bangkit untuk swasembada benang sutera berkualitas, mampu bersaing dengan harga jual benang sutera asal China dijual Rp 1.3 juta/kg. Jika dihitung-hitung (bea masuk dan lain-lain) harga benang tersebut di China kurang lebih Rp 520.000/kg. Dari hitungan itu, lanjut Hari, bisa dibayangkan berapa HPP kain di China dibandingkan dengan di Indonesia. Jadi tidak aneh jika di pasar berkeliaran kain sutera China dengan harga yang sangat murah.

Sebab itu keberdaan benang lokal yang berkualitas bermurah, produksi tenun sutera diharapkan mempunyai daya saing kuat di pasar dalam maupun luar negeri. ”Berharap, jika swasembada benang sutera tercapai, kita tidak perlu lagi impor benang sutera lagi,” pungkas Hari mengemukakan harapannya. (E-018) ***