Sandyakalaning Tekstil Jabar

31

KERAJAAN  Majapahit, yang keratonnya terletak di Trowulan, Jawa Timur itu, pernah mengalami masa keemasan di bawah raja tanpa padmi, Hayam Wuruk dan mahapatih digjaya.

Gajah Mada. Akhir hidup Sang Raja Perkasa, Hayam Wuruk menderita  patah hati tidak jadi berpadmikan putri Sribaduga Maharaja penguasa Kerajaan Sunda. Sedangkan Mahapatih Gajah Mada pergi meninggalkan kerajaan, tidak diketahui rimbanya. Satu persatu kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Majapahit, memerdekakan diri, berontak, atau hancur. Itulah tanda-tanda Majapahit masuk masa sejakala. NMasa suram itu ditulis Sanusi Pane berjudul Sandyakalaning Majapahit.

   Laiknya Kerajaan Majapahit yang meredup dan hancur, pertekstilan Jawa Barat yang pernah mengalami masa keemasan, makin hari makin meredup.Majalaya yang dikenal sebagai daerah dollar katrena majunya industri tekstil dan produk tekstil, sudah lama meredup. Sedangkan industrki tekstil besar yang dibangun dengan modal asing dan bermesin modern, satu persatu terpuruk. Di Bandung banyak industri tekstil, bahan baku tekstil (benang), dan produk tekstil berupa garmen, nyaris punah.

     Patal Banjaran, Kanebo Tomein Sandang Sintetis Mill (KTSM) yang juga di Banjaran, Kabupaten Bandung, dan sejumlah pabrik tekstil di kawasan Pameungpeuk, Banjaran, Moh. Toha, Rancaekek, Ujungberung, kini tinggal sejarah. Kalaupun masih ada yang berproduksi sudah tidak dapat digunakan sebagai tonggak emas pertekstilan Jabar..Benar, masihbanyak industri tekstil dan produk tekstil di Moh. Toha, Cimahi, Rancaekek, Banjaran, sudah mulai meredup pula. Tahun 2018 ada 19 industri tekstil dan produk tekstil yang tutup dan sejumlah pabrik lagi yang merelokasi pabriknya, baik ke Jawa Tengah maupun ke luar negeri. Kalaupun masih di Jabar, dari Bandung beralih ke Majalengka dan Garut.

     Para investor melakukan elokasi atau menutup perusahaanya karena upah buruh di Jawa Barat sangat tinggi. Upah buruh berdasarkan letetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Karawang, Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Depok, dan Kota Bogor berurutan menempati peringkat paling tinggi, yakn Rp 4,23 juta, Rp 4,22 juta, Rp 4,14 juta, Rp 3,87 juta, dan Rp 3,64 juta. Serdanhka UMK d iota Semarang hanya Rp 2,49 juta, di Salatiga Rp 1,87 juta, di kota/kabupaten lain di Jateng jauh lebih rendah. UMK di Jabar terpaut hampir rata-rata Rp 2 juta. Wajar apabila para investor lari dari Jabar ke Jateng.