Menristekdikti Dorong Indonesia Jadi Produsen Robot

33

PENGEMBANGAN robot dan kecerdasan buatan tak dimungkiri akan makin pesat di masa depan. Hal ini juga disadari oleh Menteri Riset Teknologi, dan Perguruan Tinggi Mohammad Nasir.

Oleh sebab itu, dia berharap Indonesia tak sekadar menjadi operator di bidang teknologi robot, tapi juga produsen. Karenanya, inovasi dalam pendidikan tinggi menjadi hal yang penting.

“Dalam revolusi industri 4.0, dunia pendidikan tinggi menjadi sangat penting dalam perubahan. Ke depannya, banyak pekerjaan akan digantikan robot. Mudah-mudahkan kita (Indonesia) jangan hanya sebagai operator saja, tapi juga produsen,” tuturnya.

Menurut Nasir, salah satu cara perguruan tinggi melakukan inovasi adalah lewat kerja sama dengan sejumlah praktisi. Selain itu, kurikulum pendidikan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Untuk itu, Menristekdikti juga sudah mengambil langkah dengan memungkinkan seorang dosen tidak memiliki gelar S2. Jadi, seseorang itu dapat mengajar berdasarkan kompetensi yang dimilikinya.

“Sekarang sudah ada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Jadi, kompetensi seseorang dengan level 9 itu dianggap sama dengan doktor, level 8 itu sama dengan magister, level 7 itu profesi,” tuturnya menjelaskan.

Sekadar informasi, KKNI merupakan kerangka penjenjangan kualifikasi sumber daya manusia Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam skema pengakuan kerja.

“Jadi dengan bentuk sinergi ini, perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan para praktisi,” tuturnya menjelaskan.

Untuk sekarang, menurut Nasir, sistem ini memang lebih banyak ditujukan untuk bidang keilmuan teknologi karena perkembangannya yang cepat, tapi sebenarnya dapat diterapkan di seluruh bidang keilmuan.

Dalam kesempatan itu, Nasir juga mengapresiasi laboratorium riset Bukalapak yang ada di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dia menyebut perguruan tinggi tidak bisa lagi menjalankan pendidikan dengan sistem yang biasa. Karenanya, perguruan tinggi perlu bekerja sama dengan para praktisi.

“Pendidikan tinggi juga harus berinovasi, jadi sangat penting perubahan ini. Jadi, ke depannya memang perlu dipikirkan cara untuk menjadi digital talent,” ujarnya menjelaskan.

Nasir juga berharap bahwa laboratorium riset ini dapat dikembangkan menjadi sebuah prodi atau jurusan keilmuan baru.

“Saya harap laboratorium ini dapat dijadikan prodi, sehingga menghasilkan artificial intelligence (AI) engineer di masa depan,” tuturnya. (C-003/Jek)***