Museum Keraton Kasepuhan Cirebon Menyimpan Benda Pusaka Terlengkap

172

            Keraton Kasepuhan merupakan keraton tertua di Kota Cirebon yang banyak dikunjungi masyarakat. Keraton yang identik dengan Kereta Barong, kini memiliki sebuah museum yang modern.

Di dalam Museum tidak hanya dipajang benda pusaka yang sebelumnya beberapa di antarnya terpajang di areal keraton. Kini sejumlah benda pusaka dari kamar pusaka yang tidak pernah diperlihatkan kepada umum, kini terpajang rapih di dalam museum yang baru dibangun.

Benda-benda yang berada di dalam museum merupakan peninggalan pada jaman Padjajaran akhir, Sunan Gunung Jati, Panembahan (Panca Sunan), hingga era kesultanan mulai dari Sultan Sepuh I hingga Sultan Sepuh XIV. Modernisasi museum dilakukan agar masyarakat terutama generasi muda bisa mempelajari dan mengetahui sejarah serta budaya.

            Menurut Sultan Arief, penempatan pusaka di museum berdasarkan periode waktu, dimulai dari koleksi terlama. Dengan cara tersebut, pengunjung bisa mengetahui sejarah Keraton Cirebon mulai dari Pangeran Cakrabuana pada masa Galuh Pajajaran, masa Sunan Gunung Jati, hingga Sultan Cirebon. Pangeran Cakrabuana di abad XIII-XIV bisa dikenali lewat tinggalan pusaka, antara lain berupa Keris Sempana, Keris Brojol, Keris Sempaner, Keris Pandita Tapa, Keris Santan dan Keris Bima Kurda. Senjata khas Sunda, berupa Kujang Wayang pada masa Galuh Pajajaran dengan bentuk yang artistik juga terpajang. Badik, senjata yang selama ini identik dengan Sulawesi, ternyata sudah ada sejak jaman Prabu Siliwangi. Selain itu pengunjung juga bisa menyaksikan senjata pusaka dari tokoh paling terkenal Kesultanan Cirebon dan Sunan Gunung Jati. Tokoh utama penyebar agama Islam di daratan Jawa ini meninggalkan sejumlah pusaka yang dibuat pada masa 1479-1597 M, yakni Keris Dholog dan Keris Tilam Upih. Dalam museum ini juga dipamerkan Peti Mesir yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati dan Ibundanya dari Mesir ke Cirebon.

            Pada bagian tengah museum terdapat Kereta Singabarong yang menjadi ikon dan daya tarik wisatawan. Di sisi kiri dan kanan kereta terdapat aneka furnitur dan alat musik peninggalan leluhur yang berusia ratusan tahun. Dari sekian banyak koleksi di bagian tengah museum, terdapat satu yang paling mencolok, yakni sebongkah batu besar yang berada di sisi pojok kiri. Batu tersebut bernama Batu Gilang yang konon peninggalan era Sunan Gunung Jati yang berfungsi sebagai penunjuk arah kiblat. Sebelum masuk ke bagian belakang Museum Pusaka Keraton Kasepuhan, kita akan melihat lukisan Sri Baduga Maharaja Siliwangi yang merupakan salah satu Raja Kerajaan Padjajaran. Lukisan tersebut banyak pengunjung yang melihatnya penasaran karena seolah mata sang raja terus mengikuti gerakan orang yang melihatnya.

            Dengan adanya Museum ini pihak keraton mengharapkan, target pengunjung Keraton Kasepuhan bisa mencapai 30.000 pengunjung per bulan. Museum Kasepuhan yang memiliki lebih dari 600 bilah pusaka dan ratusan benda kuno milik kesultanan menjadi oase baru wisata sejarah di Cirebon.

Tidak hanya kereta Singa Barong di era Panembahan Ratu, tetapi juga berbagai sampel pusaka kuno dengan aneka ragam bentuk yang hanya bisa ditemui di Museum Kesultanan Cirebon yang terlengkap di Indonesia. Museum terbuka untuk umum dengan tarif masuk Rp 25.000 hari biasa, hari Jumat Rp 50.000. Khusus setiap hari Jumat, ruang khusus Gedung Jinem yang menyimpan pusaka-pusaka otentik era Gunung Jati, dibuka untuk umum.

Gedung khusus di dalam Museum Rara Denok ini berisi di antaranya empat wedung pemberian penguasa Demak, Adipati Unus saat menikahi putri Cirebon, juga pusaka keris berkinatah emas milik Sultan Cirebon. Gedung Jinem yang dibuka setiap Jumat, kuncinya disimpan langsung oleh Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat. Selain dijaga selama 24 jam penuh oleh penjaga keamanan khusus, museum Keraton Kasepuhan  diperlengkapi dengan 23 kamera pengawas CCTV. Ditata sedemikian rupa, sehingga pengunjung bisa melihat dari jarak dekat, benda-benda berharga peninggalan masa lalu ini. (E-001) ***