Menata Laba dari Rangkaian Bunga

29

Rangkaian bunga kini tidak sekedar menjadi hiasan belaka. Susunan bunga warna-warni tersebut menjadi pemanis bahkan penegas terhadap suatu acara. Baik itu perkawinan, tunangan, pesta ulang tahun, acara peresmian perusahaan, hingga yang sifatnya privat seperti jamuan makan malam.

Di tangan para ahli perangkai bunga alias florist aneka jenis bunga itu dirangkai sesuai dengan tema acara. Agar terlihat cantik, mereka menambahkan pernak-pernik seperti pita warna-warni, kayu, ranting, dedaunan, dan lainnya.

Faktor inilah yang membuat perangkai bunga terus mendapat orderan. Marwitan Wahyu Nugroho, laki-laki asal Ngawi, Jawa Timur mengamini besarnya potensi florist. Perangkai bunga yang berkutat di Bali ini mengatakan, jasa tangan terampil para perangkai bunga bakal selalu diburu konsumen sampai kapan pun.

Meski baru berkecimpung tahun 2010, ia  sudah banyak mendapat konsumen dari Bali dan daerah lainnya. Seperti Jakarta, Bandung, Surabaya hingga China.

Kebanyakan, dia diminta membuat rangkaian bunga untuk acara pernikahan dan event korporasi. Laki-laki berusia 40 tahun ini mengaku beberapa konsumen menentukan sendiri tema dan jenis bunga yang diinginkan.

Namun, tidak sedikit juga konsumen yang tidak mempunyai konsep sehingga Wahyu yang memberikan saran untuk model rangkaian hingga jenis bunga yang hendak digunakan.

Untuk memenuhi kebutuhan aneka bunga potong dalam jumlah besar, dia menjalin kerjasama dengan banyak toko bunga di kawasan Bali, Bandung, dan Jakarta.

Sedangkan, untuk tarifnya dibanderol bervariasi sesuai dengan permintaan konsumen. ” Untuk satu event standar biayanya mulai dari Rp 30 juta sampai tidak terhingga ,” katanya.

Waktu pengerjaannya cukup singkat hanya satu hari termasuk persiapan. Dia mengaku dibantu sekitar tujuh hingga 30 asisten untuk menyelesaikan satu event.

Seperti halnya fesyen, model atau gaya bunga rangkaian selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan jaman. Wahyu mengaku tahun ini gaya rustic yang menonjolkan tema alami dengan banyak dedaunan, ranting dan batu alam menjadi primadona.  Biasanya untuk mengikuti perubahan serta perkembangan model rangkaian, dia menggunakan jaringan internet.

Ia sendiri mendapatkan ketrampilan merangkai bunga secara otodidak saat bekerja di salah satu toko bunga di Pulau Dewata. Namun, dia masih rajin berlatih untuk mengembangkan ketrampilannya.

Lebih dari lima tahun menjalani profesinya, Wahyu mengaku belum pernah mengalami kendala yang berarti. Paling kendala utama adalah tatkala klien ganti tema pada detik-detik terakhir persiapan.

Kendala lainnya adalah ketika masuk musim pernikahan pada bulan Agustus sampai September. Di periode tersebut, ia harus pintar-pintar membagi waktu untuk bisa memenuhi permintaan konsumen.

Peluang usaha merangkai bunga juga digarap Dian Tri Wibawani asal Mojokerto, Jawa Timur. Berawal dari membantu teman satu sekolahnya, Dian tidak menyangka jika bisnis menjual rangkaian bunga (florist) begitu menjanjikan. Bahkan kini bisnis tersebut berkembang cukup pesat. Awalnya saya hanya niat membantu teman satu sekolah,” ujar pemilik Dian Tri Flowershop ini.

Menurutnya, tidak ada kemampuan khusus yang dimilikinya untuk membuat sejumlah rangkaian bunga. Ia hanya mengandalkan jiwa usaha dan keahlian dekorasi pernikahan yang merupakan bisnis dari orang tuanya.

Awal usaha, ia rutin membuat rangkaian bunga segar untuk dijual ke sekolah. Seiring berjalannya waktu mulai banyak pesanan rangkaian bunga dari teman hingga menyebar ke luar sekolah dan masyarakat umum. “Saya mulai tekuni bisnis florist sejak tahun 2015,” ungkapnya.

Sejak menekuni bisnis rangkai bunga, perempuan kelahiran 1996 ini mulai konsisten mengembangkan model rangkaian bunga untuk menaikkan nilai jual. Kini, rangkaian bunga tangan (forehand) hasil karyanya dijual mulai Rp 25.000 hingga Rp 75.000 per buah.

Rangkaian bunga tangan biasanya berisi kombinasi bunga mawar serta bunga peacock berwarna putih dan ungu. Kedua jenis bunga tersebut dipadukan dalam sebuah bungkusan kertas dan dihias pita berwarna. Dian mengatakan, rangkaian forehand saat ini termasuk yang paling diburu oleh kalangan anak muda.

Selain bunga tangan,  Dian juga membuat rangkaian buket yang dibanderol Rp 80.000 hingga Rp 200.000 per buah. Rangkaian hand bouquet biasanya berisi kombinasi aneka jenis bunga, mulai dari bunga mawar merah, putih, pink, fanta, peach biru silver hitam, bunga kasablanka, bunga kala lily, bunga hortensia, bunga peackok, krisan, aster, anturium, daun ruskus dan daun leaderleaf. “Khusus untuk hand bouquet banyak dipesan saat musim nikah, valentine, hari Kartini dan hari Ibu,” paparnya.

Dalam menjalani bisnisnya, ia juga membuka peluang bagi reseller di sekitar Mojokerto. Saat ini, sudah ada sekitar 10 reseller yang bergabung.

Tak hanya forehand dan hand bouquet, Dian juga menerima paket rangkaian dekorasi ruangan pernikahan, dekorasi untuk booth foto, dan lainnya. Harga untuk rangkaian dekorasi wedding sekitar Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. Sedangkan untuk paket dekorasi pertunangan, akad nikah, dan photo both antara Rp 500.000 hingga Rp 1 juta.

Selama ini pemasaran banyak dilakukan lewat media sosial (Instagram) dan spanduk yang ada di depan kediamannya.

Untuk kendala, yang paling utama adalah pasokan bunga.  Ia mengatakan beberapa jenis bunga seringkali langka pasokan, bahkan nyaris tidak ada stok di kalangan petani. Adapun jenis bunga yang acapkali jarang ada di pasaran adalah anturium, lily,  dan mawar warna tertentu. Ia sendiri akan menawarkan bunga pengganti ke pemesan.

Kendala lainnya adalah saat mengirimkan bunga ke konsumen. Maklum, rangkaian bunga tersebut memang sangat sensitif saat dikirim ke alamat konsumen. Tak jarang, ia kerap mendapat komplain dari para pelanggan karena mendapatkan rangkaian bunga yang terkadang ada yang layu serta ada bercak hitam.

Kendala tersebut kerap terjadi ketika ada pembeli yang jarak pengirimannya cukup jauh. Karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tangan pelanggan.

Padahal, dia sudah memakai jasa paket untuk mengirimkan rangkaian bunga. “Terkadang ada aja yang komplain karena ada yang layu padahal saya sudah buatkan wadah khusus,” tandasnya.

Karena itulah, ia berupaya mencari cara agar kemasan produk tidak lecet jika dikirim melalui jasa pengiriman paket.

emain lainnya adalah Muhlasin Yasin yang sudah berkecimpung usaha ini sejak 2013 silam. Dia menilai potensi profesi sebagai perangkai bunga masih cukup bagus dan menguntungkan untuk di jalani. “Setiap bulan pasti ada saja orang yang butuh jasa ini,” katanya.

Sebagai penyedia jasa rangkai bunga, Yasin bilang perlu waktu untuk belajar sebagai perangkai bunga. Selangkah demi selangkah ia pelajari cara merangkai bunga. Kebetulan kala pertama kali terjun di profesi ini ia bekerja di toko florits.

Kebetulan, dirinya juga hobi merangkai bunga. Akhirnya, kesenangan itupun membuahkan hasil. Saban akhir pekan, ia  mengaku pasti ada saja permintaan untuk merangkai bunga untuk sebuah acara. “Alhamdulillah di akhir pekan selalu ada permintaan untuk kirim perangkai,” tuturnya.

Apalagi di bulan November kemarin dan Oktober adalah masa panen bagi dirinya. Ia kerap kali mendapat permintaan dari konsumen untuk merangkai bunga. Namun ia mengaku tidak ada target khusus dalam menjalani bidang pekerjaan tersebut.

Untuk tarif, ia membanderol mulai dari Rp 600.000.  Harga tersebut disesuaikan dengan dekorasi yang diinginkan konsumen. “Jadi harga nya tidak tentu, tergantung dekorasinyanya seperti apa, untuk global atau perorangan,” jelasnya.

Tak hanya menerima orderan di kota Jakarta saja, Yasin juga menerima permintaan merangkai bunga hingga  Bandung,  Bali, Makassar, dan kota besar lainnya.

Tak mau kalah, pemain lainnya, Ade Muchlis, pemilik usaha dekorasi rangkai bunga Marble Florist  juga menyatakan dalam seminggu terakhir ini permintaan konsumen cukup tinggi. “Per minggu minimal empat order,” ujarnya.

Ia sendiri sudah menjalankan bisnis bisnis merangkai bunga sejak lima tahun yang lalu. Sejak itu, permintaan memang terus tinggi, bahkan saat musim nikah dalam seminggu ia bisa menerima hingga 10 sampai 12 orderan.

Untuk harganya sendiri, Muchlis membanderol antara  Rp 8,5 juta hingga Rp 20 juta. Harga tersebut tergantung dari tipe rangkaian bunga dan tentu saha bahan baku bunga yang terkadang didatangkan dari luar negeri segala.

Bisnis yang bermarkas di Bandung ini juga tak hanya menerima permintaan dari kota tersebut dan sekitarnya tapi juga dari daerah lainnya. Semisal dari Brebes, Bali, Jambi dan juga Banjarmasin.

Banyaknya pemain sejenis juga tak mematahkan semangat bisnisnya. Oleh sebab itu, ia memberikan keleluasaan kepada konsumennya untuk menyesuaikan harga. “Kelebihan kami bisa membagi sesuai budget, jadi tidak harus terpaku pada harga yang sudah kami patok. Jadi, harga juga bisa disesuaikan dengan permintaan,” jelasnya.

Lanjutnya, tarif sebesar  Rp 8,5 juta merupakan harga minimal vendor. Sedangkan untuk harga dari konsumen, ia bilang sejauh ini minimal di kisaran Rp 5 juta. Adapun untuk tantangan dari bisnis ini sendiri adalah yaitu harga bunga yang cenderung fluktuatif.

Pemain anyar harus punya ciri khas

Dianggap sebagai ladang bisnis yang menjanjikan, membuat banyak ahli perangkai bunga baru bermunculan. Alhasil suasana persaingan pun mulai terasa ketat.

Rupanya kondisi ini tidak membuat Marwitan Wahyu Nugroho khawatir. Menurutnya, setiap perangkai bunga atau florist pasti mempunyai karakter gaya merangkai bunga tersendiri.

Alhasil, setiap hasil karyanya membuat para perangkai bunga mempunyai pasar atau konsumen tersendiri. Ia mengklaim, di antara para perangkai bunga tidak pernah terjadi berebut konsumen atau pelanggan.

Berdasarkan pengalaman tersebut, ia pun menyilakan saja bagi siapa saja atau pemain baru yang terjun di bisnis ini. Asalkan, dalam merangkai bunga, mempunyai keterampilan yang mumpuni. Dengan kata lain, si perangkai bunga sudah mampu menciptakan gaya rangkaian bunga tersendiri yang lain dari pada yang lain.

Kemampuan ini bakal menjadi ciri khas setiap perangkai bunga. “Sehingga mereka akan terlihat berbeda dengan perangkai bunga kebanyakan,” tuturnya.

Selain ciri khas, setiap perangkai bunga juga dituntut mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pesanan dari konsumen. Jika sudah menyanggupi, si perangkai bunga harus bisa menyelesaikan proyek tersebut sampai tuntas. Mulai dari konsep rancangan, persiapan, hingga acara yang melibatkan rangkaian bunga itu tuntas di gelar.

Jadi, para  perangkai bunga wajib memastikan semua persiapan dan pengerjaan selesai dengan sempurna. Sehingga tidak ada kekurangan yang menimbulkan kekecewaan konsumen.

Selain itu, komunikasi dengan konsumen juga harus berjalan dengan lancar. Tujuannya adalah agar tidak ada salah komunikasi tentang tema, model, dan jenis bunga yang hendak dipakai. (C-003/KNTN)***