Pengusaha Batu Bara Memilih Ekspor Produksi Tahun 2018 Mencapai 528 Juta Ton

69

BISNIS BANDUNG — Pengamat Ekonomi dari Departemen Ilmu Ekonomi, Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, Ph.D mengutarakan, produksi Batu Bara dalam negeri setiap tahunnya mengalami kenaikan cukup signifikan. Berdasar data Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. Produksi Batubara pada tahun pada tahun 2017 mencapai 461 juta ton, tahun 2018 meningkat menjadi 528 juta ton, mengalami kenaikan 14%. 

        Menurut Yayan, cadangan batubara Indonesia mencapai 37 miliar untuk kurun waktu 76 tahun. Walau data cadangan ini debatable, masih memerlukan klarifikasi secara ilmiah dengan melakukan studi lebih mendalam, sehingga benar-benar diketahui status untuk produksi dan cadangannya. Dikemukakan Yayan, pemerintah cenderung lebih mengidentifikasi status cadangan dibandingkan dengan produksi, agar optimalisasi produksi dan cadangan dapat dilakukan dengan baik. Pendapatan dari sektor ini mencapai Rp 20.1 triliun.

Pengamat spesialis perdagangan internasional ini menyebut dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan produksi batu bara di Indonesia, yakni pasar domestik dan pasar internasional. Pasar domestik dipengaruhi oleh Domestic Market Obligation (DMO) dari pemerintah, agar pemenuhan kebutuhan batubara dipenuhi dari dalam negeri untuk kebutuhan energi domestik, antara lain untuk Pembangkit Listrik Industri. DMO ini dipatok sebanyak 25% dari total produksi. Untuk pasar domestik, produksi batubara  tergantung dari permintaan energi untuk pembangkit listrik di dalam negeri, sehingga kebijakan batubara dalam negeri  mempengaruhi DMO. Saat ini DMO batubara realisasinya 21% dari target 25%. Dengan total produksi yang meningkat menurut Yayan, merujuk pada RPJMN persentase DMO untuk batubara nasional, sebesar 60%, sedangkan pada saat ini hanya mencapai 21% dibawah yang ditetapkan RPJMN sebesar 25%. ”Jadi pemanfaatan produksi batubara untuk DMO, baru 115 juta ton (21%) dari total produksi dibandingkan dengan target DMO terhadap total produksi (25%),” ungkap Yayan baru-baru ini seraya menambahkan, penjualan produk batu bara dipasar domestik dan ekspor ada peningkatan cukup signifikan, walau ada kontroversi dari pengusaha yang cenderung berorientasi pada pasar ekspor yang lebih atraktif dibandingkan dengan pasar domestik. “Direktorat Pembinaan dan Pengusahaan Batubara ESDM, target DMO pada tahun 2019 harus 60% diperuntukan bagi kebutuhan PLTU, metalurgi, pabrik semen, pupuk, tekstil, pulp dan briket. Target DMO sudah didistribusikan pada industri pupuk, tekstil, pulp dan briket,” ujar Yayan.

        Saat ini pasar ekspor batu bara, terbesar adalah Tiongkok dan India. Nilai ekspor batubara ke Tiongkok  mencapai US$20 miliar dengan pertumbuhan 17%, sehingga kebijakan domestik dari Tiongkok dan India sangat mempengaruhi ekspor batubara Indonesia. Salah satunya kebijakan pemerintah Tiongkok menurunkan diversifikasi energi dari 13.2% dari fossil fuels menjadi 12% fossil fuels, sekitar 1.2% akan diganti ke sumber daya non fossil, pemerintah Tiongkok telah membangun 20 juta KW Pembangkit Listrik Tenaga Batu dan 15 Juta KW Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Hal ini menjadi penyebab konsumsi batubara Tiongkok menurun menjadi 62.6% pada tahun 2019 dari 64.4% di tahun 2015.

        Dikemukakan Yayan, pemanfaatan batubara di Indonesia, memerlukan manajemen sumber daya mineral yang baik. Pemanfaatan sumber daya ini harus digunakan sebijak mungkin karena sifatnya tidak dapat diperbaharui

 Sampai saat ini, masih ada debat antara eksportir dan pemerintah terhadap sektor batubara ini. Hal ini terjadi, karena manajemen pengelolaan sumber daya batubaru tidak memiliki arah yang jelas terhadap sumber daya batubara di masa depan dan pengelolaannya untuk mengantisipasi kebutuhan domestik dan pasar global. (E-018)***